///Bagaimana Menjadi Seorang Penafsir Alkitab yang Baik

Bagaimana Menjadi Seorang Penafsir Alkitab yang Baik

Kita telah mengerti bahwa semua orang yang membaca dan merenungkan Firman Tuhan pada dasarnya sedang menafsirkan Alkitab (lihat kembali artikel Pendahuluan Hermeneutika dalam majalah Build edisi Februari 2019); contohnya, membaca Matius 5:29, kita tidak mencongkel mata kita saat mata kita berbuat dosa, karena kita berpikir dan menafsirkan bahwa perkataan Yesus ini tidak dimaksudkan secara hurufiah. Karena penafsiran selalu diperlukan inilah, penting bagi kita semua untuk selalu belajar menafsir dengan semakin baik.

Kita tahu bahwa menafsir dengan baik akan membuat kita melakukan Firman Tuhan dengan baik (dengan pengertian yang benar) dan juga mengajarkannya dengan benar. Apakah semua orang dapat menjadi penafsir Alkitab yang baik? Jawabannya ya, asalkan kita memahami dan memenuhi kriteria kualitas yang penting untuk hal itu. Mari kita lihat sepuluh kriteria kualitas seorang penafsir Alkitab yang baik berikut ini.

1.Sudah lahir baru (2 Kor. 4:4)

Orang yang sudah lahir baru hatinya didiami oleh Roh Kudus, sehingga hati dan pikirannya terbuka kepada Injil/Firman Tuhan. Ini berbeda dengan orang Farisi, orang beragama Kristen, atau orang-orang liberal yang bisa saja memiliki kepandaian yang memadai untuk mengerti isi Firman Tuhan dengan baik, tetapi tidak akan dapat mencapai pengertian yang benar yang membawa mereka kepada keselamatan kekal, karena pikiran mereka dibutakan oleh ilah zaman ini (2 Kor. 4:4).

 

2.Haus akan Firman Tuhan

Salah satu ciri pasti orang yang sudah lahir baru adalah memiliki hati yang haus akan Firman Tuhan. Penyelidikan Alkitab yang tidak didasarkan oleh hati yang haus akan Firman Tuhan cenderung membosankan dan tidak mendatangkan berkat pemahaman (Yer. 15:16).

 

3. Memiliki hati seorang murid (rendah hati) (Fil. 3:10-13)

Seorang murid Tuhan sejati memiliki kualitas rendah hati dan tidak menganggap dirinya telah mencapai kebenaran sempurna. Ini berarti ia selalu siap bertobat dan ingin mengenal Allah dengan benar melalui kebenaran Firman dan hidup di dalam kebenaran tersebut (Fil. 3:10-13). Dengan memiliki kualitas seorang murid yang rendah hati, kita akan selalu berhati-hati dalam menafsir Alkitab yang kita yakini sebagai sabda Allah, yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip penafsiran yang benar sekaligus berusaha menghindari sikap gegabah/tergesa-gesa (yang bisa berakibat human error) sesuai yang diajarkan dalam Pengkhotbah 4:9-12. Ia akan selalu terbuka menyambut proses diskusi dengan orang lain untuk bersama-sama belajar dan saling melengkapi pemahaman yang ada. Dalam artikel berjudul Pendahuluan Hermeneutika edisi Februari lalu, kita melihat contoh orang yang begitu ahli dalam bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin, serta memegang prinsip hidup yang begitu suci (asketis) seperti Origenes pun dapat menjadi sesat dalam menafsir Alkitab, karena ia tidak berdiskusi dan terlalu yakin dengan penafsirannya sendiri. Ia bahkan terpengaruh filsafat Yunani dan mitologi Yunani yang sangat popular di kalangan para ilmuwan saat itu, sehingga membuat doktrin Praeksistensi dan Universalisme yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Akibatnya, ia dikucilkan oleh bapa-bapa gereja karena dianggap mengajarkan ajaran sesat! Karena prinsip kualitas rendah hati sebagai murid inilah para rabi Yahudi pada tahun 10-500 M, menganjurkan para murid di sekolah mereka, Yeshiva (sekolah teologi Yahudi dalam mempelajari Talmud dan Taurat), tidak belajar sendiri tetapi menggunakan metode Havruta (menganalisis Taurat yang sudah diajarkan dalam Yeshiva dalam kelompok berisi 2-5 orang). Sistem belajar ini berakar pada Pengkhotbah 4:9-10 dan saat ini berkembang bukan hanya pada sekolah-sekolah Talmud dan Taurat tetapi juga mulai merambah ke universitas-universitas hukum di Amerika Serikat.

 

4. Menghormati dan menghargai Firman Tuhan

Seorang Kristen yang ingin menjadi penafsir yang baik pasti menghormati Firman Tuhan dan tidak memaksakan kehendaknya menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk mendukung keinginannya atau “kepercayaannya” (eisegesis) (2 Ptr. 1:20-21).

 

5. Mengakui bahwa Alkitab sepenuhnya adalah Firman Tuhan yang diilhami

Gereja-gereja Reformis, Injili, dan Kharismatik semuanya mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan sehingga otomatis percaya akan ketidakbersalahan Alkitab! Lain halnya dengan aliran gereja-gereja liberal yang percaya bahwa Alkitab (sekadar) berisi Firman Tuhan; kalau ada hal-hal di dalam Alkitab yang bagi kaum liberal tidak masuk akal, mereka akan mengabaikannya dan menganggapnya tidak berlaku, contohnya mukjizat-mukjizat, dosa homoseksualitas, dosa aborsi, dan sebagainya. Kepercayaan yang salah akan Alkitab akan tercermin dari buah kehidupan mereka, sehingga umumnya aliran liberal menjadi lebih kompromi dengan dosa dan toleran terhadap “perkembangan zaman”!

 

6. Menghadapi/menyikapi Firman Tuhan dengan iman yang benar (Ibr. 11:3, 6)

Seorang Kristen lahir baru akan dapat menafsir dengan baik bila ia memandang Firman Tuhan dengan iman yang benar, yaitu bahwa Firman Tuhan yang sedang ia renungkan dan tafsirkan adalah suara Sang Pencipta semesta sendiri. Karenanya, ia selalu rindu untuk mengerti dengan benar dan bersungguh-sungguh menggali makna yang sejati dari Firman tersebut (eksegesis), sehingga ia tidak akan berani menafsirkan Firman berdasarkan pemikiran subjektifnya atau tanpa analisis yang sehat demi “menjadikan” teks Firman tersebut bermakna sesuai yang ia ingini (eisegesis).

 

7. Selalu memohon penerangan oleh Roh Kudus (2 Ptr. 1:20-21; 1 Kor. 2:10)

Apabila seseorang rendah hati dan percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, ia tidak akan berani menafsir menuruti kehendaknya sendiri, melainkan ia akan selalu berdoa meminta pimpinan dan penerangan dari Roh Kudus. Melalui tuntunan ROh Kudus inilah, ia belajar menggali Firman Tuhan dengan cara yang objektif agar dapat mengerti dengan benar maksudnya. Sekalipun kita memiliki pengetahuan agama yang luas dan daya kecerdasan yang baik, tanpa tuntunan Roh Kudus akan sangat mudah kita disesatkan atau dibutakan oleh ilah zaman ini; seperti yang dialami oleh para ahli Taurat, orang Farisi, atau para teolog liberal yang telah kita bahas sebelumnya.

 

8. Memelihara semangat dan kehidupan doa secara pribadi (Kis. 6:4)

Seorang penafsir Alkitab yang baik pasti memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Ia memelihara disiplin rohani pribadinya dalam bentuk semangat dan keberlanjutan kehidupan doa yang aktif, selain menjaga pikiran dan kehidupan yang berfokus kepada Firman Tuhan (menjaga kekudusan), seperti teladan yang diberikan para rasul, “…memusatkan pikiran dalam doa…” (Kis. 6:4). Selain berdoa tentang dan untuk diri sendiri (hubungan pribadi yang intim dengan Allah), hal ini juga terwujud dalam doa syafaat, yaitu berdoa tentang dan untuk orang lain (John Gill’s Exposition of the Bible on Act 6:4).

 

9. Bertekad/berkomitmen menaati/melakukan Firman Tuhan (Mat. 7:24-27; Yak. 1:22)

Setelah mengerti dengan benar kebenaran Firman Tuhan, secara alamiah kita akan memiliki tekad/komitmen untuk menaati Firman tersebut. Inilah salah satu tandanya kita memiliki kualitas seorang penafsir Alkitab yang baik: kita “auto-taat”, seperti benih yang baik yang ditabur di tanah yang subur (Mat. 13:23).

 

10. Suka membaca Alkitab dengan tekun dan teliti (Kis 17:11)

Yang terakhir, untuk menjadi seorang penafsir dan pelaku Firman Tuhan yang baik, kita harus suka membaca Alkitab dengan tekun dan teliti. Seperti anak kecil yang selalu penasaran untuk belajar supaya mengerti dan selalu mudah diajar, demikianlah kita seharusnya tidak malas atau segan membaca Alkitab! Begitu pentingnya kualitas ini, sehingga disebutkan bahwa orang yang memiliki hati seperti seorang anak kecillah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, dan sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang punya kesukaan belajar pasti berhasil dalam berbagai bidang kehidupannya masing-masing.

2019-09-27T12:20:07+00:00