///Bahagianya Diuji

Bahagianya Diuji

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” – Yakobus 1:2-4

 

Apa yang saat ini sedang menjadi tekanan atau kesusahan dalam kehidupan Anda? Biasanya, tekanan atau kesusahan timbul saat kita mengalami masalah; di dalam hubungan dengan sesama atau di tengah-tengah keluarga, di pekerjaan atau kondisi keuangan, di  urusan-urusan rumah tangga, di kesehatan fisik kita sendiri atau orang terkasih, dan sebagainya. Normal sepertinya, ketika orang merasa tertekan dan susah saat berada dalam masalah. Padahal, kita sebagai orang Kristen tentu tahu bahwa kehidupan kita tidak lepas dari masalah, bahkan masalah itu merupakan ujian hidup yang Tuhan izinkan bagi kita, bukan?

 

Firman Tuhan tegas mengatakan bahwa pencobaan/ujian merupakan kebahagiaan, sebab ujian merupakan alat Tuhan untuk mengeluarkan kelemahan, dan memakai kelemahan itu untuk menguatkan kita. Bagaimana prosesnya terjadi?

 

Kebahagiaan di dalam ujian tidaklah berdasarkan solusi yang kita ingini atas masalah yang terjadi. Sering kali, bentuknya bukan pemulihan hubungan yang rusak, perubahan positif pada orang lain yang melukai kita, pengakuan atau peningkatan dalam pekerjaan yang lama mandek, uang dalam kondisi kita kekurangan, jalan keluar instan untuk masalah rumah tangga, maupun kesembuhan cepat dan tuntas bagi orang sakit. Bukan. Kebahagiaan yang dimaksud Firman Tuhan jauh melampaui semua itu: ketika kita bertekun dan setia diproses Tuhan dalam ujian, kita akan berkembang dalam karakter Kristus (“… dan ketekunan menimbulkan tahan uji …”, Roma 5:4). Proses ujian itu sendiri tentu tidak nyaman, bahkan berat, tetapi melaluinya Tuhan menaikkan kita dari zona nyaman kepada zona kekuatan.

 

Menariknya, ujian kehidupan biasanya datang tanpa kita ketahui sebelumnya. Bisa terjadi kapan saja seperti ulangan atau ujian mendadak murid-murid sekolah. Itulah sebabnya, kita harus siap setiap hari.

 

Bagi kita para wanita, bertahan di dalam ujian pun tidak mudah, apalagi kita telah diberi mandat oleh Tuhan untuk hidup sebagai penolong. Artinya, kita menjalani ujian kita sendiri sekaligus menolong sesama menjalani ujian mereka masing-masing. Namun, ada beberapa hal penting yang dapat dan perlu kita lakukan agar sanggup bertahan di dalam ujian, dengan ketekunan dan kesetiaan. Mari perhatikan satu per satu.

 

  1. Menjadikan Tuhan yang terutama

Matius 6:33 berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka

semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Prinsip tersebut adalah kuncinya. Semua tokoh Alkitab yang menang atas ujian imannya menunjukkan bahwa prioritas pribadi mereka bagi Tuhan menjadi kunci kemenangan mereka.

 

  1. Percaya pada rancangan Tuhan

Sering kali kita tidak memahami apa yang sedang terjadi karena terlalu berfokus pada rumitnya masalah yang ada, seperti halnya Abraham ketika dia disuruh Tuhan untuk keluar dari negerinya menuju negeri yang ditunjuk Tuhan (“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju”, Roma 8:11). Mulai sekarang, berlatihlah memandang masalah sebagai ujian atau pencobaan dalam sekolah kehidupan yang Tuhan rancangkan bagi kita. Di dalam ujian atau pencobaan itu, Tuhan ingin kita belajar dalam karakter-karakter-Nya; mengampuni, merelakan, memimpin, berhikmat, dan banyak lagi sesuai kebutuhan pertumbuhan karakter kita masing-masing. Percaya saja pada rancangan Tuhan, karena Dia tidak akan mencelakakan kita yang dikasihi-Nya ini.

 

  1. Bersyukur selalu

Mazmur 100:4-5 menunjukkan mengapa kita patut bersyukur, “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” Sudahkah Anda menyadari alasan tersebut dan bersyukur dalam segala keadaan? Ucapan syukur membuat kita dapat melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan di tengah ujian atau pencobaan hidup, sehingga merupakan senjata dan kekuatan yang luar biasa. Dalam Perjanjian Lama, banyak tercatat kisah nyata peperangan yang dimenangkan lewat pujian dan ucapan syukur pasukan umat Tuhan. Kita perlu melakukannya pula. Dalam masalah yang terjadi, kita kerap lupa bahwa itu pun merupakan peperangan rohani, dan ketika Iblis menembakkan pada pikiran kita ketidakpuasan, kemarahan, kebencian, kepahitan, dan keputusasaan, kita jadi tidak mau mengucap syukur. Lakukan yang sebaliknya, secepatnya. Pilihlah untuk bersyukur, agar kita senantiasa disadarkan bahwa Tuhan senantiasa hadir, baik, dan kasih setia-Nya tetap.

 

Lalu, kapan kita perlu melakukan ketiga hal penting tadi: mengutamakan Tuhan, percaya pada rancangan-Nya, dan bersyukur? Setiap hari dan setiap saat. Ingat, ujian datang tanpa jadwal atau pengumuman lebih dahulu.

 

Matius 15:21-28 mencatat kisah ketekunan seorang wanita yang akhirnya menang atas ujian hidupnya. Dalam kisah itu, seorang wanita Kanaan memiliki anak perempuan yang kerasukan setan. Hati ibu mana yang tak putus asa melihat anaknya sangat menderita di luar akal sehat dan tak kunjung sembuh? Namun, wanita itu percaya Yesus dapat memberikan pengharapan bagi masalah yang menjadi ujiannya itu. Saat ada kesempatan bertemu dengan Yesus, dia meminta jawaban yang dia harapkan itu. Meskipun awalnya Yesus sama sekali tidak menjawabnya, bahkan dia diusir oleh murid-murid Yesus, dia tetap teguh percaya bahwa Yesuslah jawaban baginya. Wanita Kanaan itu menunjukkan bahwa ketekunannya dalam iman menghasilkan tahan uji dan tahan uji itu menghasilkan pengharapan yang berbuah. Di akhir kisahnya, dia pun mendapat pertolongan, dan anaknya sembuh oleh karena imannya.

 

Kembali lagi ke pertanyaan awal kita, apa ujian yang sedang kita hadapi? Jangan menyerah. Ingatlah bahwa ujian mengeluarkan kelemahan kita untuk kita dapat memiliki karakter Kristus, dan melewatinya iman kita pun akan tumbuh semakin matang sampai waktunya tiba untuk berbuah. Selamat meresapi bahagianya diuji dalam sekolah kehidupan yang Tuhan rancangkan.

 

 

Pertanyaan refleksi:

  1. Temukan kondisi diri Anda di dalam ujian yang sedang dihadapi; dalam hal atau karakter apa Tuhan ingin Anda bertekun sampai bertumbuh?
  2. Di dalam ujian yang sedang Anda hadapi, apakah Anda cenderung menjadi semakin dekat dengan Tuhan, semakin memercayai rancangan-Nya, dan semakin mudah mengucap syukur? Jika ya, lanjutkan langkah Anda. Jika tidak, mulailah melakukan hal-hal tersebut.
2024-06-27T11:05:18+07:00