///Bara Api yang Menyala-nyala

Bara Api yang Menyala-nyala

Pada malam pergantian tahun baru yang lalu, kami berkesempatan untuk mengadakan makan malam bersama keluarga besar. Sejak sore hari itu, kami sibuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dimasak, karena kami berencana untuk mempersiapkan dan menyantap hidangan panggang barbecue dan rebusan berkuah shabu-shabu.

Saya sendiri bertanggung jawab untuk menyiapkan peralatan memanggang. Tak lupa, saya membeli arang dan bahan bakar (spiritus cair) sebagai pemicu api untuk memulai pembakaran awal. Ketika saya mulai membakar arang dengan spiritus, api segera membakar arang tersebut, tetapi segera kemudian api itu mati saat lapisan spiritus di permukaan arang habis. Berulang-ulang, saya menuangkan spiritus untuk kembali menyalakan api pada arang. Setelah proses pengulangan berkali-kali, akhirnya arang mulai menyala lebih lama dan berubah menjadi bara api. Saya pun mendekatkan bongkahan-bongkahan arang lainnya ke bara api yang sudah menyala, agar bisa segera terbakar menjadi bara api juga. Cara ini efektif. Dalam waktu singkat setelah bara api mulai menyala, semua arang sudah menjadi bara api, dan pemanggang siap dipakai untuk memasak bahan barbecue.

 

Namun, kami sempat mengalami “kemunduran”; beberapa saat setelah kami sempat memanggang beberapa bahan makanan, bara api mulai meredup karena tertutup dengan lapisan abu yang menebal. Pada titik itu, saya perlu segera menambahkan bongkahan-bongkahan arang baru, dengan mendekatkannya pada arang yang masih membara, hingga nyala bara api itu menyambar ke arang yang baru dan mengikis lapisan abu itu. Alhasil, bara api bertahan makin lama dan fungsinya untuk memanggang tercapai sampai tuntas.

 

Lewat kegiatan membuat bara api dan memanggang, saya jadi mendapatkan pencerahan. Rupanya, hidup kita ini sebagai orang percaya sama seperti bara api itu.

Arang tidak akan berguna kalau hanya menjadi arang yang disimpan di karung, tetapi akan berguna ketika dibakar menjadi bara api hingga habis. Hidup kita pun harus berguna untuk orang lain, dan untuk itu pasti butuh kerelaan untuk memberikan diri dan segalanya dalam hidup kita.

Arang bisa menyala dengan bantuan spiritus. Untuk menjadi bara api dalam hidup kita, memang awalnya kita perlu mendapat bantuan dari para pemimpin yang menolong kita bertemu dengan kasih Allah dan kebenaran-Nya, sehingga hidup kita berubah sesuai kebenaran Firman dan menyala-nyala bagi untuk melayani Tuhan. Inilah perjumpaan kasih mula-mula kita dengan kasih Tuhan Yesus. Arang yang telah menyala menjadi bara api pun perlu saling melekat dengan yang lainnya, supaya tetap menyala dan makin membara. Setelah menyala di dalam roh, kita pun harus mendekatkan diri dengan orang-orang kudus lainnya, berkomunitas, agar bara api kita bisa berdampak lebih besar. Inilah komunitas Kerajaan Allah.

 

Selanjutnya, dengan berjalannya waktu, tentu kondisi kita akan mulai mengalami penurunan dalam berbagai aspek, hingga banyak keterbatasan menjadi penghambat bagi kita. Namun, seperti bara api yang mulai tertutup lapisan abu yang tebal, kita membutuhkan bongkahan-bongkahan arang baru yang didekatkan kepada kita hingga menyala karena terkena panas dari diri kita. Keterbatasan karena usia, kondisi fisik, atau apa pun tidak boleh menghalangi kita dalam merespons panggilan Tuhan. Justru, kita harus terus mendekati jiwa-jiwa baru, orang-orang yang membutuhkan perjumpaan dengan Kristus dan Kerajaan Allah, yang akan menjadi bara api generasi berikutnya. Teruskan dan tularkan keteguhan iman kita kepada generasi berikutnya ini, supaya mereka juga menyala-nyala dan tetap teguh dalam iman dari teladan hidup kita dalam Kristus. Di mana kita bisa bersentuhan dengan bongkahan-bongkahan arang yang baru ini? Mulailah dengan lingkungan keluarga Anda dulu; pastikan anak-anak Anda mewarisi kehidupan rohani dan keteguhan hati seperti yang Anda alami sebagai orang tua. Lalu, perhatikan orang-orang yang berinteraksi dengan Anda sehari-hari. Lanjutkan penularan bara api itu ke lingkungan terkecil Anda sehari-hari: lingkungan pekerjaan/usaha, lingkungan tempat tinggal, komunitas sehobi, kelompok olahraga, atau orang-orang muda di sekeliling Anda. Wariskan bara api yang ada pada Anda supaya nyalanya tidak padam, bahkan menular dan terus berdampak bagi lingkaran yang lebih luas, bahkan sampai ke bangsa-bangsa.

 

Di awal bulan kedua ini, masih dalam suasana tahun baru 2022, mari kita ingat kembali bahwa kita harus selalu siap menjadi bara api yang rela memberi hidup bagi sesama. Demikian pula, mari pastikan bahwa kita tetap teguh dalam mewariskan kebenaran Allah kepada generasi bara api berikutnya. Mari terus menyala-nyala sebagai bara api yang penuh kasih karunia Allah. Amin!

Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” – 2 Timotius 2:1-2

2022-01-26T09:08:32+07:00