//Belajar jadi Imam

Belajar jadi Imam

Saya ingat, Tuhan berfirman bahwa ketika satu orang diselamatkan, seisi rumahnya pun diselamatkan. Lewat firman ini, saya melihat bahwa betul Tuhan menjanjikan hal ini tapi ada bagian yang harus saya lakukan juga. Awalnya saya bingung, bagian apa yang harus saya berbuat, apalagi saya sendirian sebagai satu-satunya orang yang sudah lahir baru di tengah keluarga. Pernah saya berapi-api menceritakan tentang Yesus dan keselamatan, tetapi tidak berhasil dan malah dicemooh. Saya bisa memaklumi, karena saya tidak bisa asal “khotbah” dan penginjilan. Apalagi saat itu saya masih jauh lebih muda secara umur dan juga masih anak-anak rohani. Apalagi mereka mengenal saya dengan baik setiap hari, tau sifat terburuk saya dan lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, Tuhan memberi hikmat lebih untuk saya belajar melakukan bagian saya, dengan hidup saya menjadi contoh bagi mereka, dimulai dari menjadi contoh di hadapan keluarga inti saya. Saya sebagai orang yang mau memberitakan injil, harus membuktikan bahwa injil itu benar dan nyata seperti yang saya beritakan. Membuktikan lewat apa, lewat hidup saya sehari-hari yang merefleksikan Allah.

Saya sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan terlebih dahulu dibanding anggota keluarga yang lain, saya harus menjadi imam, alias perantara. Setelah menerima keselamatan, saya bisa membawa (mendoakan) mereka, karena saya sendiri sudah beroleh persekutuan dengan Bapa. Selain itu, firman dalam Titus 2 mengajar kita untuk menjalankan fungsi dan peran kita sebagaimana mestinya agar firman Allah jangan dihujat orang. “Jadikan dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita” (Titus 2:7-8). Inilah yang menjadi perintah Tuhan bagi saya, untuk saya lakukan dalam kehidupan saya dalam keluarga.
Lewat saya terlebih dahulu, mereka mengenal Allah yang saya beritakan. Keluarga saya adalah orang-orang yang paling tahu hidup saya sebenar-benarnya, dan saya juga kenal mereka dalam segala baik buruknya, karena kami saling bertemu setiap hari. Merekalah yang perlu melihat secara nyata, bahwa sebelum mengenal Tuhan dan setelah mengenal Tuhan saya mengalami perubahan. Karena kalau hidup saya tidak ada bedanya, mereka akan berpikir bahwa tidak ada gunyanya percaya dengan apa yang saya beritakan. Sama seperti seorang salesman, kalau ia sendiri tidak menggunakan produk yang dijualnya, tentu ini tidak meyakinkan, dan kita tidak perlu membeli produknya.

Saat ini, saya masih terus belajar untuk jadi teladan bagi keluarga. Fokus saya hanya satu: mau terus belajar semakin serupa dengan Kristus. Kadang memang rasanya berat. Sering saya mengalami ujian di tengah keluarga, apakah saya tetap mempunyai kasih untuk keluarga saya, apapun kondisi mereka dan bagaimanapun pandangan mereka terhadap saya. Terhadap setiap situasi, saya belajar berespon seperti Yesus berespon, walau tidak mudah. Harga yang harus dibayar adalah mati dalam ego saya, sama seperti kematian yang Kristus berikan, supaya tujuan Allah bagi keluarga saya tergenapi.

Dari kisah ini, kita bisa belajar punya pemikiran dan mau melakukan hal yang sama buat lingkungan sekitar kita, terutama bagi orang-orang yang secara khusus memang Tuhan taruh beban di hati kita.

Menjadi Kristen atau orang percaya, bukan selesai sampai di titik menerima keselamatan saja. Tuhan bilang bahwa kita adalah imamat yang rajani. Mari kita belajar jadi imam lewat hidup kita setiap hari. Seberapa kita menyadari posisi kita tentu mempengaruhi apa yang akan kita lakukan. Kalau bukan lewat kita yang sudah terlebih dahulu mengenal Tuhan dan kebenaranNya, lewat siapa lagi mereka bisa mengenal Tuhan? Bagian kita sebagai imam adalah menghadirkan kerajaan Allah dalam kehidupan kita bersama mereka, dengan terlebih dahulu kita benar-benar mengalami kerajaan Allah itu dalam hidup kita.

2019-10-04T19:46:40+07:00