//Berani Beda, Berani Nyata

Berani Beda, Berani Nyata

Neera berusia 19 tahun, Kristen sejak kecil. Orang tuanya pun Kristen. Neera nyaris tak pernah absen dari kegiatan-kegiatan rutin di gereja: pertemuan komsel, pemuridan, ibadah mingguan; bahkan rajin terlibat dalam berbagai bentuk pelayanan di kegiatan-kegiatan gereja itu. Neera juga melakukan saat teduh harian dengan materi yang diberikan di gereja, lalu mengirimkan ringkasan perenungannya ke grup-grup obrolan di WhatsApp bersama teman-teman gereja sebagai pertanggungjawabannya untuk menjaga komitmen pribadi. Namun, akhir-akhir ini Neera makin sering merasa kosong dan tak jelas dalam hal kekristenannya: apa arti kekristenannya sesungguhnya? Seolah-olah, segala yang dilakukan dan dialaminya itu kerutinan belaka yang tidak berarti apa-apa dan tidak ada pengaruhnya sama sekali.

 

Apa yang salah dengan kehidupan Neera? Mengapa dia merasa gamang? Neera sendiri sajakah yang merasa demikian? Jangan-jangan, kita juga merasakan yang sama sebagai orang Kristen… Apa arti seluruh kekristenan kita ini?

 

Sebagai orang muda Kristen, sering kali kita sibuk dengan segala hal di dalam keseharian kegiatan Kristen, dan lupa bahwa hidup ini bukan hanya seputar diri kita dan kesibukan kita. Kita sudah lama menjadi orang Kristen dan sepertinya kekristenan itu wajar-wajar saja berjalan dengan rutin tanpa perlu dipertanyakan atau direnungkan artinya. Kalau kamu juga merasa demikian, hari ini kita perlu bersama-sama melihat hal yang lebih besar daripada semua kerutinan kekristenan kita itu, yaitu rencana Tuhan. Daripada terus sibuk berputar-putar dengan rasa kekosongan atau galau menebak-nebak apa arti semuanya ini kelak di masa depan, coba kita ambil waktu sejenak untuk merenungkan kembali perjalanan kekristenan kita dari perspektif rencana Tuhan.

 

Yohanes 4:35 mencatat perkataan Yesus, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” Inilah isi hati Tuhan bagi kita, orang-orang Kristen: agar kita menuai. Selanjutnya, Efesus 2:19-20 menjelaskan mengapa kitalah yang bertanggung jawab untuk menuai, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.”

 

Ternyata, rencana Tuhan bukanlah sekadar supaya kita punya status Kristen dan sibuk melakukan kegiatan di gereja. Kita ditebus menjadi milik Kristus, justru untuk dijadikan kawan sewarga dan anggota keluarga bersama orang-orang Kristen lainnya, supaya kita menuai mereka yang masih di luar sana! Lalu, bagaimana kita harus melakukannya? Perhatikan dua bagian lain di dalam Firman Tuhan. Efesus 2:21-22 menunjukkan posisi kita di tengah-tengah kumpulan sesama penuai, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh,” dan Kisah Para Rasul 2:42-45 menjelaskan hal-hal praktis yang perlu kita lakukan bersama dengan sesama penuai itu, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mukjizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.”

 

Nah, dari arahan Firman Tuhan ini, ada tiga hal penting yang jelas bagi perjalanan hidup kita sebagai orang-orang yang sudah ditebus menjadi milik Kristus. Yang pertama, Tuhan sudah memberikan identitas kepada kita masing-masing. Apa pun latar belakang atau riwayat buruk kita sebelum percaya kepada Dia, Tuhan tidak lagi memberlakukan semua itu. Dia sudah menyelamatkan dan menebus kita semua; kita bukan lagi orang asing yang tidak dikenal, melainkan kita merupakan bagian dari anggota keluarga Allah. Kita bukan lagi hamba dosa, melainkan anak-anak Allah. Bahkan, Tuhan juga memandang sebagai batu penjuru bersama Dia, yaitu pencetus yang membawa suatu gerakan dan perubahan nyata. Kita sekarang bukan hanya menjadi seorang pengikut yang hidup menurut teladan Kristus, tetapi juga seorang penuai yang memiliki beban hati Kristus, yang ditetapkan untuk suatu tujuan penuaian. Kita masing-masing punya panggilan hidup yang unik, yang kalau kita lakukan, akan membawa kita menuai banyak jiwa bagi Kristus melalui kehidupan kita. Sadarkah kamu dan aku akan identitas ini?

 

Yang kedua, setelah kita mengenal identitas kita sebagai penuai bagi Kristus, kita  juga wajib tertanam dalam komunitas tubuh Kristus. Mana mungkin kita mampu menuai sendirian? Kita ada di tengah-tengah komunitas gereja untuk tujuan penuaian itu! Efesus 2:21-22 tadi menunjukkan bahwa dalam posisi kita tertanam dalam komunitas tubuh Kristus, kita juga sedang membangun dasar yang kuat bersama Tuhan. Seperti tanaman yang harus punya akar yang kuat supaya tumbuh subur dan optimal, demikianlah kita harus hidup di tengah-tengah komunitas. Melewati berbagai musim dan perubahan, akar yang kuat akan menjaga si tanaman agar tetap kuat pula. Sudahkah kamu dan aku tertanam kuat dan berakar di dalam Kristus di dalam komunitas? Di masa pandemi ini, banyak kegelisahan yang bisa mengguncang kita, tetapi semuanya akan mampu kita lewati dengan kuat kalau kita tetap tertanam di komunitas yang berakarkan Kristus. Komunitas yang bagaimanakah yang bisa menjaga kita ini? Komunitas kita pun harus berbeda dari kelompok-kelompok yang ada di dunia; kita bukan asal bergaul dan berinteraksi demi kenyamanan diri masing-masing, tetapi justru harus berakar di dalam Kristus dan punya visi serta arah untuk menuai bagi Kristus. mempunyai akar yang kuat. Inilah komunitas Tubuh Kristus. Yang membedakan komunitas tubuh Kristus dari komunitas lain di dunia adalah dalam komunitas tubuh Kristus, kita sesama anggota tubuh, senantiasa hidup dengan “saling” dan dituntun oleh kasih. Beranikah kamu dan aku hidup dalam komunitas yang berbeda seperti ini?

 

Hal ketiga yang penting di dalam perjalanan kita mengikut Kristus adalah bergerak bersama untuk menjangkau orang-orang yang kehidupannya masih berada di luar Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 2:42-45, kita melihat contohnya pada jemaat pertama, yang hidup berbagi dan bersatu sebagai komunitas tubuh Kristus. Mereka tidak hanya sekali atau dua kali melakukannya, tetapi setiap hari dan setiap saat. Mereka bukan saja bersatu dan saling mengasihi, tetapi juga giat bergerak ke luar menyebarkan kasih Tuhan, sehingga makin banyak orang-orang yang berbalik kepada Tuhan. Kita pun harus menjangkau dan menuai jiwa-jiwa bersama-sama sebagai komunitas Tubuh Kristus, supaya banyak orang di sekitar kita juga menjadi bagian dari Tubuh Kristus. Ingat, kita punya identitas dan tujuan masing-masing sebagai anggota di dalam Tubuh Kristus. Bayangkan ketika masing-masing dari kita mengerti dan aktif melakukan fungsi dan perannya, tentu akan terjadi banyak hal besar seperti yang terjadi pada jemaaat mula-mula. Penuaian jiwa-jiwa pun akan terjadi dengan marak dan gencar. Siapkah kamu dan aku menjaddi komunitas yang berdampak nyata bagi sekeliling kita? Ayo, izinkan Kristus menjadi Kepala dan pusat yang memimpin segala arah dan aktivitas komunitas kita, supaya kita sebagai Tubuh-Nya bergerak sesuai rencana-Nya dan benar-benar berdampak nyata!

 

Wah, ternyata menjadi orang Kristen sebetulnya jauh melampaui gini-gini aja. Kita tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar berstatus dan berkegiatan Kristen atau untuk lelah dan gamang di dalam ketidakberartian. Kita dimaksudkan untuk menjadi penuai yang bergerak bersama-sama komunitas di dalam Tubuh Kristus. Di mana ladang tuaianmu? Temukan orang-orang atau lingkungan yang membutuhkan Kristus di sekelilingmu, mulailah ikuti tuntunan Kristus untuk kita bergerak bersama komunitas menjangkau mereka, karena ladang tuaian itu sudah menguning. Beranilah menjadi komunitas yang berbeda, dan beranilah berdampak nyata bersama Kristus.

2022-03-26T09:07:05+07:00