//BERANI, KARENA ALLAH DI PIHAK KITA!

BERANI, KARENA ALLAH DI PIHAK KITA!

Sekarang ini banyak orang muda yang berani banget, tapi beraninya dalam hal yang bikin para orang tua geleng-geleng, sakit kepala dan pusing. Seringkali, hal yang sudah jelas ujungnya buruk tetep aja dilakukan dengan “gagah berani”.

 

Sebagai anak-anak Tuhan, standar atau patokan kita dalam melakukan segala sesuatu adalah kebenaran Firman Tuhan. Orang lain bisa berpendapat berbeda-beda dalam menilai ‘salah’ atau ‘benar’ dalam suatu tindakan, tapi patokan yang benar adalah apa kata firman Tuhan tentang keberanian yang tepat.

Yuk kita belajar dari kisah Adam dan Hawa yang berani memakan buah yang yang jelas-jelas dilarang oleh Allah, dan dari kisah Daud yang berani melawan Goliat. Adam dan Hawa, dan Daud, sama-sama berani, tapi mereka memiliki perbedaan yang jelas.

Adam dan Hawa sudah jelas-jelas dilarang oleh Allah untuk memakan buah itu, tetapi mereka berani melanggar karena mereka mengembangkan pemikiran yang salah, bahwa mereka akan menjadi seperti Allah dengan memakan buah itu. Ini pikiran yang “disuktikkan” oleh si ular ke dalam diri mereka, tapi mereka memilih untuk merenungkan, mempercayai dan mengembangkannya. Akhirnya, mereka jadi bertindak berdasarkan pemikiran yang salah ini. Padahal, kebenaran mengatakan bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26-27). Jadi sebenarnya, mereka tidak perlu memakan buah itu “supaya menjadi seperti Allah”, karena mereka sudah “diciptakan serupa dengan Allah”.

Dalam kasus Daud, ia berani maju melawan Goliat, karena yakin bahwa Allah menyertai dirinya (1 Sam. 17:46-47). Keyakinan ini merupakan “kesimpulan” yang terbentuk di pemikiran Daud, berdasarkan pengalamannya selama menerima berbagai pertolongan Tuhan dalam hidupnya (1 Sam. 17:37). Jadi, Daud memiliki keyakinan dan pemikiran yang benar, karena pengenalannya akan Allah.

Dari dua contoh ini, kita bisa lihat bahwa keberanian yang benar adalah keberanian yang lahir dari atau dipimpin oleh kebenaran.  Keberanian yang benar bukanlah keberanian yang timbul karena didorong oleh keinginan/kepentingan kita, atau bahkan lebih tegasnya, didorong oleh hawa nafsu kita sendiri.

Untuk memastikan apakah tindakan kita adalah tindakan keberanian yang benar, kita perlu periksa diri sendiri dulu. Apa sih yang mendasari keberanian kita? Apa yang kita mau capai dengan melakukan tinadkan keberanian itu? Apa Tuhan bakal jadi senang dengan tindakan keberanian yang kita lakukan? Di sinilah, sebenarnya apa yang kita percayai mendasari apa yang kita lakukan. Kalau kita lebih mempercayai nilai-nilai dunia dan pemikiran diri sendiri, otomatis pemikiran dan tindakan kita akan didorong oleh hal-hal itu. Tapi, kalau kita sepenuhnya mempercayai nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan, otomatis pemikiran dan tindakan kita akan didorong oleh kebenaran Firman Tuhan itu.

Kadang-kadang, prinsip nilai yang kita pegang atau hal yang kita lakukan sebagai anak Tuhan, berbeda dengan nilai-nilai dunia di sekitar kita. Akan ada orang-orang yang mengganggap kita “aneh” karena nilai-nilai hidup kita ini. Seringkali ini bikin kita jadi ragu karena merasa beda sendiri. Sebenarnya, kita tidak usah heran atau merasa aneh sendiri, karena memang pasti ada perbedaan bagi kita yang dipanggil untuk menjadi terang di tengah dunia. (Mat. 5:16; Ef. 5:8; 1 Tes. 5:5). Bahkan, kita sudah seharusnya hidup sesuai dengan nilai-nilai kebenaran ini, walaupun bertentangan dengan nilai-nilai di sekitar kita.

Efesus 5:8-11 “…Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.”

Secara pribadi, penulis juga mengalami “sulitnya” memilih mengikuti perasaan sendiri dan standar-standar dunia pada umumnya, atau mengikuti standar dan melakukan apa yang Tuhan mau (yang beresiko berbeda pendapat dan dianggap aneh oleh orang-orang “sekitar”). Dalam pergumulan untuk memilih, penulis sempat terpengaruh juga untuk berkompromi dengan standar Allah: tahu salah tapi tetap dilakukan, tahu benar tapi tidak dilakukan. Ini akhirnya bikin penulis repot sendiri. Pilihan-pilihan ini, dua-duanya butuh keberanian untuk dipilih, tapi keberanian yang berbeda. Ini tidak mudah. Pilihan yang benar memang kelihatannya rasanya tidak enak, butuh pengorbanan, dan banyak resiko. Tapi pada akhirnya, penulis memilih berani melakukan apa yang sesuai kebenaran, sesuai maunya Tuhan, sekalipun dianggap “bodoh” dan aneh.

Tuhan adalah pemilik hidup kita, dan Ia tahu apa yang harus kita lakukan, dalam segala hal. Itu sebabnya, Ia berikan kebenaranNya di dalam Alkitab sebagai tuntunan untuk setiap langkah kita. Yang berkenan bagi Tuhan bukanlah sekedar kita tahu kebenaran ini, tetapi justru kita mengikuti teladan Yesus melakukan kebenaran. Kita akan sanggup melakukan ini, karena kita mengasihi Dia, karena Ia sudah lebih dulu mengasihi kita. Kabar gembiranya, Allah punya jaminan yang pasti bagi kita yang mengasihi Dia: Ia menyediakan apa yang tidak terpikirkan, tidak pernah kita dengar, dan tidak pernah kita lihat (1 Kor. 2:9) Artinya, apa yang Tuhan sediakan untuk kita ini, melebihi perkiraan/ekspektasi kita. Dan tentunya, melebihi resiko-resiko yang harus kita tanggung ketika berani melakukan kebenaran.

Di keseharian hidup kita, ada banyak hal yang mungkin akan menguji keberanian kita untuk hidup dalam kebenaran. Pilihan selalu ada di tangan kita. Keputusan-keputusan kita menjadikan diri kita sama dengan dunia pada umumnya, atau justru menjadikan kita terang bagi mereka. Memilih menjadi terang atau saksiNya memang membutuhkan keberanian. Jangan takut dianggap aneh atau “gak gaul” kalau kita memegang kebenaran. Lakukan dengan berani kebenaran yang kita tahu, karena ada kasih karunia dari Dia yang memampukan. Hiduplah dengan menuruti perintahNya sebagai bukti bahwa kita mengasihi Dia dan bahwa kita bertanggung jawab atas anugerah keselamatan yang Ia berikan. Yang lebih penting adalah perkenan Tuhan, bukan penerimaan dunia. Seharusnya, kita lebih takut tidak mendapatkan perkenan Tuhan daripada tidak diterima oleh dunia. (dv)

 

2019-10-04T20:20:59+00:00