///Berawal dari yang Kecil, Bertumbuh menjadi Kuat

Berawal dari yang Kecil, Bertumbuh menjadi Kuat

Inilah kisah pertumbuhan rohani dan proses pengenalan akan Allah dari seorang gadis bernama Ratih yang biasa dipanggil Rara.

Suatu hari, Rara remaja menemukan sebuah buku yang sangat menarik di salah satu rak lemari buku di rumahnya. Seingat Rara, buku berjudul Alkitab itu tidak pernah sekalipun terlihat ada yang membuka atau membaca, dan tidak pernah pula diceritakan atau dibacakan untuknya sejak dia masih kecil dulu. Rara pun mengambilnya, membuka perlahan halaman demi halaman yang agak merekat satu sama lain akibat tidak pernah dibuka, lalu menemukan kata yang rasanya pernah didengarnya entah dari mana: Mazmur. Bingung memulai dari mana karena ternyata isi buku itu adalah banyak bagian yang masing-masing punya judul sendiri, akhirnya Rara memulai dari bagian yang berjudul “Mazmur” itu, tanpa mengerti apa yang akan dia temukan di dalamnya. Wah, rupanya kalimat-kalimat di dalam Mazmur indah sekali! Seperti puisi atau lagu! Semakin jauh Rara membaca, semakin ia tertarik untuk membacanya terus, meski tetap tanpa terlalu mengerti. Akhirnya setelah terus membaca sampai malam makin larut, Rara terpaksa berhenti karena jam tidurnya sudah tiba dan ibunya menegurnya. Memang, esok harinya pekan ulangan penting akan dimulai di sekolah Rara, maka malam itu dia perlu tidur cukup agar bugar saat keesokan paginya. Alkitab itu pun dikembalikan ke dalam lemari, dan tanpa sadar terlupakan sampai bertahun-tahun lamanya.

 

Sampai suatu saat ketika Rara berada di tahun terakhirnya di SMA, datanglah seorang kerabat jauh dari luar kota berkunjung ke rumah Rara sekeluarga. Kerabat itu adalah sepupu jauh ayah Rara, yaitu salah satu paman Rara, yang disebutnya Paman Tikno. Meski sebagian besar orang di dalam keluarga besar ayah Rara memang menganut agama lain, Paman Tikno sendiri Kristen. Bahkan, dia seorang pelayan Tuhan yang sehari-harinya hidup dengan melayani sebuah jemaat gereja lokal di kotanya. Setiap tahun, Paman Tikno mendapat cuti dari gerejanya dan dia sering mengunjungi kerabat yang sudah lama tak dijumpainya saat cuti. Pada kunjungannya kali itu, Paman Tikno cepat mengenali kehausan hati Rara untuk mengenal Tuhan. Memang, Rara sendiri juga bingung, karena tiba-tiba saja saat Paman Tikno datang dia teringat akan Mazmur yang pernah dibacanya dulu dan timbul ide di hatinya untuk bertanya tentang artinya kepada Paman Tikno.

 

Paman Tikno pun sigap menjelaskan tentang siapa itu Tuhan yang disebut-sebut di dalam banyak puisi dan lagu di kitab Mazmur: Yesus Kristus. Diceritakannyalah kepada Rara tentang injil keselamatan yang tersedia karena Yesus Kristus berkorban hingga mati bagi manusia, karena kasih-Nya. Ayat yang Paman Tikno bacakan tidak pernah Rara lupakan adalah Yohanes 3:16-18, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

 

Pada waktu itu Paman Tikno menabur benih Firman Tuhan untuk Rara, dan Rara masih menyimpan semuanya itu dalam hatinya, tanpa memberi tahu orang lain sama sekali, termasuk orang tuanya. Diam-diam suatu malam setelah Paman Tikno pulang, Rara berbisik di hatinya mengajak Yesus Kristus yang sangat baik itu untuk masuk ke hatinya dan menemani hidupnya.

 

Tahun-tahun berlalu, Rara pun memulai pendidikan perguruan tinggi, dan jadi menemukan pengalaman pribadi dengan Yesus Kristus melalui anak-anak Tuhan yang ada di kampus. Dalam masa orientasi mahasiswa, dilihatnya ada sekumpulan kakak-kakak kelas yang begitu perhatian, bersikap lembut, dan sangat menolong adik-adik kelas angkatan baru. Kakak-kakak kelas yang menarik perhatian Rara ini tergabung dalam organisasi Persekutuan Mahasiswa Kristen, yang disingkat PMK. Karena begitu penasarannya Rara, dia memberanikan diri mengikuti ibadah persekutuan PMK. Rara menyimak setiap Firman yang dibagikan hingga sebuah tantangan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat disampaikan, dan Rara mengambil keputusan itu dengan dilayani beberapa kakak kelasnya. Ada suatu dorongan yang membuat Rara berdiri dan berjalan maju ke depan. Tanpa melihat sekelilingnya Rara mengangkat tangannya, merasakan hatinya hancur oleh kesadaran betapa Tuhan mengasihinya. Sejak hari itu, hidup Ratih berubah dan hari-harinya dia lalui dengan kehausan akan tuntunan Tuhan dan kerinduan beribadah bersama komunitas barunya di persekutuan kampus itu.

 

Pertumbuhan rohani Rara dan pengenalannya akan Tuhan melalui Firman-Nya sangat tertopang oleh komunitas seimannya. Seorang kakak kelasnya yang biasa disapa Kak Teti banyak membimbingnya. Kak Teti memuridkan Rara, pribadi yang melayani dengan ketulusan dan mengasihi Rara seperti sahabat dan seorang saudara. Kak Teti selalu mendukung dan menyemangati Rara dalam segala hal, baik dalam pelajaran kuliah, hubungan dengan keluarga, dan pelayanannya. Rara belajar melakukan segala sesuatu di dalam hidupnya berdasarkan tuntunan Tuhan.

 

Suatu kali, ujian sebagai pengikut Kristus Rara alami. Rara diberi tugas menyebarkan selebaran pengumuman kegiatan persekutuan di kampusnya. Pelayanan itu sederhana tetapi begitu menantang keberaniannya sebagai pengikut Kristus. Rara menghadapi banyak cemooh dari teman-teman di kampusnya yang tidak seiman, bahkan juga dari teman-teman yang “Kristen”. Beberapa teman merobek-robek selebaran yang Rara berikan lalu membuangnya ke tempat sampah tepat di hadapan Rara. Rara takut, dia bingung, tetapi dia belajar berseru-seru kepada Tuhan di dalam hatinya hingga akhirnya damai sejahtera memenuhi hatinya dan keberanian kembali muncul dalam pikirannya. Rara menegakkan kepalanya dan berjalan kembali dengan langkah-langkah mantap, melanjutkan membagikan selebaran itu. Tanpa diduganya, tiba-tiba datanglah kakak-kakak kelas pria menjaganya dengan berdiri di belakangnya. Bagi Rara, inilah pertolongan Tuhan yang nyata dan kekuatan dari-Nya.

 

Peristiwa demi peristiwa terjadi, dengan tantangannya masing-masing, dan pertumbuhan rohani Rara terus berlanjut. Hari ini, Rara makin kuat dalam pengenalannya akan Tuhan. Dia ingat, semua ini berawal dari membaca buku kecil di lemari buku di rumah masa kecilnya, benih kecil Firman Tuhan yang Paman Tikno taburkan tentang keselamatan, dan yang juga sangat berarti, penemanan dan pemuridan dari kakak-kakak rohani di komunitas persekutuan kampus sejak kekristenannya masih bagai anak kecil. Penemanan dan pemuridan kakak-kakak rohani itu memberinya teladan, sehingga menumbuhkan karakternya menjadi makin dewasa. Rara tahu, dia mengalami Firman Tuhan dalam pertumbuhan rohaninya sendiri.

1 Yohanes 2:13-14 sendiri, “Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan Firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

 

 

Refleksi Pribadi:

  1. Renungkan bagaimana proses awal pengenalanmu akan Tuhan hingga engkau bertumbuh makin dewasa dalam iman!
  2. Apakah engkau memiliki ibu/bapa/kakak rohani dalam perjalanan imanmu? Bagaimana hubunganmu dengan orang tersebut sampai saat ini? Jika engkau tidak punya hubungan dengan ibu/bapa/kakak rohani, mulailah bertindak untuk membangun hubungan yang demikian.
  3. Apa yang menjadi tantangan dalam pertumbuhan kerohanianmu saat ini? Apa yang kamu pelajari untuk karaktermu sendiri lewat tantangan itu?
2022-07-27T10:22:56+07:00