///Berbicara atau berdiam diri

Berbicara atau berdiam diri

Aaarrggghhh!!! Karyawan baru Anda berbuat sebuah kesalahan! Mungkin sebuah kesalahan ceroboh pada laporan yang dibuatnya, atau ia datang “beberapa” menit terlambat selama enam hari berturut-turut, atau mungkin ia mengulangi hal-hal yang menjengkelkan di tempat kerja untuk kesekian kalinya. Layakkah Anda mengkonfrontasi dia? Atau sebaiknya Anda diam saja?

Namun, minggu lalu ketika atasan meminta pendapat Anda terhadap suatu masalah, Anda mengaku setuju padahal sebenarnya di dalam kepala Anda penuh dengan opini. Lalu hari ini atasan Anda memutuskan untuk menggunakan ide rekan kerja Anda, dan Anda menyesal mengapa tidak mengungkapkan ide Anda (yang rasanya lebih baik) kepada atasan saat ada kesempatan. Uuhhhhh, kesalnya!!!

Di sisi lain, suatu hari tetangga Anda menceritakan betapa frustrasinya dia kepada anak remajanya yang sering pulang larut malam. Malam itu juga, ketika melihat anaknya pulang terlalu malam, Anda menegurnya. Si anak mengadu pada ibunya, dan kemudian ibunya marah karena Anda ikut campur. Sekarang Anda menyesal pernah menegur anak itu, meskipun yakin bahwa diri Anda sebenarnya bermaksud baik. Hhhh… mengecewakan sekali…

Kadang-kadang, memang tidak mudah untuk mengenali waktu yang tepat untuk berbicara dan waktu yang tepat untuk berdiam diri. Kesadaran diri, persepsi, dan empati adalah kunci untuk membuat keputusan yang tepat. Berikut adalah kiat-kiatnya:

Tetaplah bungkam ketika:

1. Anda tidak punya hal apa pun untuk dikatakan.
Kadang-kadang, orang berbicara hanya untuk mencairkan keheningan. Hal ini kemudian memicu obrolan yang tak berarti atau bahkan gosip. Jangan merasa tidak enak ketika seseorang diam saja. Bisa jadi hal itu ia lakukan karena memang tidak ada sesuatu yang perlu dikatakan. Lakukan pembicaraan yang berguna, karena ini adalah kunci untuk mencapai kejujuran dan fokus.

2. Anda perlu waktu untuk mencerna reaksi Anda.
Dalam situasi yang emosional (baik yang “negatif” seperti debat atau argumen dengan pasangan ataupun yang “positif” seperti terharu saat momen perpisahan dengan seorang sahabat yang pindah kerja ke luar negeri), selalu ada risiko Anda berespons dengan cara yang salah, misalnya menyakitkan, agresif, atau berjanji secara berlebihan. Untuk mendapatkan perspektif tentang suatu masalah, Anda mungkin perlu “melangkah mundur” dan mengamati lagi situasi itu. Hal ini memungkinkan Anda untuk mendengarkan intuisi dan logika untuk menguraikan apa yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga mampu menentukan respons yang tepat.

3. Pendapat Anda lebih baik tidak dikatakan karena tidak relevan atau bersifat rahasia.
Hindari mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak relevan. Misalnya, tidak perlu memberi tahu atasan bahwa menurut Anda penampilannya kurang fashionable dan seharusnya diperbaiki agar lebih menarik. Aturan ini juga berlaku ketika seseorang mempercayakan informasi pribadi pada Anda. Jika Anda mengungkapkan pada orang lain apa yang ia percayakan pada Anda, ia tidak akan bisa mempercayai Anda lagi.

4. Tidak ada pendengar yang terbuka untuk menerima pemikiran Anda.
Tidak ada gunanya berbicara jika orang lain tidak mendengarkan Anda, karena pesan yang coba Anda sampaikan tidak akan didengarkan.

5. Masalah yang dihadapi adalah masalah yang tidak cukup signifikan, yaitu kecil, tidak akan terjadi lagi dan tidak memiliki dampak yang berarti.

6. Anda ingin membuktikan bahwa Andalah yang paling benar.
Hal ini tidak menghasilkan apa pun kecuali kebencian. Jika Anda menghadapi situasi ketika tidak ada peluang untuk berdiskusi, sebaiknya tidak usah memamerkan superioritas Anda. Diam saja.

7. Anda tidak memiliki data atau bukti pendukung. Jangan berbicara mengenai suatu permasalahan atau kesalahan orang lain, sampai Anda mengumpulkan semua informasi yang mendukung pendapat Anda itu.

Sebaliknya, berbicaralah ketika:

1. Anda ingin perasaan Anda diketahui. Untuk menjaga ketenangan, beberapa orang memendam emosi yang sebenarnya harus diungkapkan. Misalnya, jika rekan Anda membuat komentar negatif mengenai diri Anda, ungkapkan keprihatinan tersebut, dan jangan hanya kesal diam-diam dalam kebencian. Perasaan buruk yang terus dipendam suatu saat dapat berubah menjadi ledakan kemarahan mendadak yang sulit dikendalikan.

2. Anda memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Jika kata-kata Anda dapat mengubah situasi menjadi lebih baik, Anda harus mengatakannya. Misalnya, jika saudara Anda berkubang dalam mengasihani diri sendiri setelah kehilangan pekerjaan, Anda sebaiknya menunjukkan kepadanya sisi positif dari kehidupannya, demi membantunya bangkit dari depresi.

3. Sebuah peluang emas sedang mengetuk pintu. Kehilangan kesempatan emas sangat menjengkelkan, apalagi jika sebenarnya Anda tahu satu kata dari Anda bisa mencegahnya. Misalnya, Anda malu mengungkapkan ide-ide Anda pada atasan dan kemudian atasan memilih ide rekan Anda yang tidak sebaik milik Anda, atau ia mendapatkan promosi karena ide-idenya yang mirip dengan ide-ide yang tidak pernah Anda ungkapkan. Ketika kesempatan datang, raihlah segera dengan berbicara.

4. Pendapat Anda dibutuhkan/diminta. Setiap orang memiliki pendapat. Jika seseorang meminta pendapat Anda, jangan takut menyampaikan pendapat Anda secara jujur ??dan dengan diplomatis (tanpa menyinggung pihak lain).

5. Tidak ada orang lain yang mau berbicara untuk suatu tujuan yang penting. Ini memang sedikit riskan, namun misalnya salah satu rekan kerja memiliki masalah bau badan yang menganggu dan tidak ada yang berani memberi tahunya karena hal tersebut sensitif, mungkin sebaiknya Andalah yang berbicara. Hal yang sama berlaku untuk rekan yang terlalu sering terlambat, suka bergosip, atau gemar melakukan hal-hal yang membuat kinerja seluruh tim terhambat.

Diam adalah emas ketika Anda sedang menghindari keterlibatan dalam debat kusir yang tak ada habisnya. Akan tetapi, Anda harus berbicara dengan keras dan jelas jika hal tersebut melibatkan hak atau perasaan Anda yang diinjak-injak, kepentingan orang lain yang tidak memiliki pengaruh, situasi dimintai pendapat, dan kebutuhan Anda sendiri untuk didengarkan. Kemampuan untuk berbicara (dan kemampuan untuk berdiam diri) membutuhkan tingkat kepercayaan diri dan keahlian yang tinggi, tetapi sama seperti semua keterampilan, Anda hanya perlu berlatih terus agar dapat berbicara dengan lebih baik dan lebih asertif serta mengetahui saat-saat yang tepat untuk berdiam diri.

“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10:19)

“Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (Amsal 17:27-28)

2019-10-17T13:08:47+07:00