//Berbicaralah sebab hambaMu ini mendengar

Berbicaralah sebab hambaMu ini mendengar

Senja hari menjelang malam, di sebuah rumah seorang anak muda sedang berbaring di atas tikar dengan berbalut kain sarung untuk berlindung dari dingin yang menyengat. Lampu di rumah tersebut belum lagi padam, namun kantuk sudah memaksa anak muda tersebut untuk berbaring. Belum lama ia tertidur, tiba-tiba… “Samuel! Samuel!” terdengar sebuah panggilan yang membangunkan Samuel, si anak muda tadi. Samuel menjawab, “Ya, bapa,” sambil mengangkat kepala dari bantal untuk memastikan suara yang ia dengar. Tak seorang pun yang terlihat di dekatnya, namun suara yang terdengar sangat jelas, sehingga Samuel merasa harus menanggapinya. Di bilik sebelah ada seorang tua yang menjaga rumah itu, yang sedang tertidur juga. Samuel bangun dan berlari ke bilik orang tua itu sambil menyahut, “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Orang tua itu terbangun dan membalas, “Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.”

Baru saja Samuel membaringkan diri untuk tidur, ia mendengar suara yang memanggilnya kembali, “Samuel! Samuel!” Untuk kedua kalinya Samuel bangun dan berlari ke arah orang tua tadi. Samuel mengagetkannya dengan bertanya, “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Orang tua ini heran, sehingga ia membalas, “Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.”

Ketika ia baru saja meletakan kepalanya di atas bantal, terdengar panggilan yang ketiga kali, “Samuel! Samuel” dengan suara yang penuh wibawa. Samuel bangun dan berlari ke dalam bilik orang tua yang kini belum tertidur kembali karena memikirkan pertanyaan Samuel. “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Samuel berdiri dengan ragu-ragu di depan orang tua itu. Lalu, mengertilah orang tua itu bahwa Yang Mahakuasa Pencipta Semesta Alam-lah yang telah memanggil Samuel. Orang tua itu memberi nasihat kepada Samuel, “Pergilah tidur kembali dan apabila Ia memanggil engkau lagi, katakan: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Samuel pun pergi dan tidur kembali. Lalu datanglah suara TUHAN kembali memanggil, “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab, “Berbicaralah, TUHAN, sebab hambaMu ini mendengar.”

Anak muda inilah yang dikenal sebagai Nabi Samuel yang luar biasa (1 Sam. 3:1-21). Empat kali Tuhan memanggil Samuel, dan karena kesiapan Samuel pada malam itu, Tuhan berbicara kepadanya tentang apa yang akan Tuhan lakukan di Israel.

Samuel adalah anak nazar Hana, wanita yang dinikahi Elkana dari suku Efraim dari Ramataim-Zofim, pegunungan Efraim, tanah Kanaan yang diberikan Tuhan kepada orang Israel. Karena Hana meminta anak kepada Tuhan, maka Tuhan memberikan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Samuel, yang artinya “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.” Samuel pun diserahkan oleh ibunya kepada Tuhan sejak masih kanak-kanak untuk melayani TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang, bahkan penglihatan-penglihatan pun tidak sering. Itulah sebabnya, Samuel ragu-ragu ketika TUHAN memanggil namanya. Namun, Imam Eli, orang tua tadi yang telah menjadi imam selama bertahun-tahun, membimbing dan mengarahkan Samuel dengan baik sehingga menjadi Nabi Tuhan.

Samuel mendengarkan baik-baik apa yang Tuhan sampaikan pada malam itu. Sejak itulah Samuel mengenal suara Tuhan, oleh sebab itu dikatakan dalam Alkitab: “Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN… Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel,”(1 Sam. 3:19-20 & 4:1a). Ketiga ayat ini cukup melukiskan betapa luar biasanya Samuel dipakai Tuhan pada zamannya dan bahwa Tuhan selalu berbicara kepada Samuel lewat berbagai cara. Setiap rencana Tuhan atas bangsa Israel diberitahukanNya kepada Samuel.

Semakin besar, Samuel semakin disukai di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Samuel tidak saja bergaul karib dengan Allah, sehingga semakin disukai olehNya, tetapi juga Samuel bertumbuh dengan baik, sehingga disukai oleh orang-orang.

Dalam peperangan, Samuel selalu membawa kemenangan bagi Bangsa Israel, Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya. Samuel tak kenal lelah, ia berkeliling kemana-mana untuk menegur, mengecam rakyat, berusaha membangkitkan rasa berdosa mereka dan mengajak mereka bertobat. Samuel juga dikenal sebagai penasehat bagi banyak orang, bahkan ia diberi gelar “pelihat”. Sayang, tidak di semua aspek Samuel berhasil. Ketika Samuel sudah tua, diangkatnyalah kedua anaknya menjadi hakim, tetapi ternyata hal ini membawa dampak buruk bagi Israel. Inilah kegagalan dari Samuel sebagai ayah. Kedua anaknya tidak jujur, korupsi dan tidak hidup seperti ayahnya.

Akhirnya, tua-tua Israel meminta seorang raja pada Samuel. Meski kesal, Samuel berdoa kepada Tuhan dan Tuhan mengabulkan permintaannya: memberikan seorang raja bagi Bangsa Israel. Suara Tuhan pun terdengar, “Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku,”(1 Sam. 9:16). Samuel mengurapi Saul dari suku Benyamin menjadi raja atas pilihan Tuhan. Namun ketidaktaatan Saul membuat Tuhan menyesal atas pilihanNya. Tuhan mencurahkan penyesalannya ini kepada Samuel, sehingga Samuel bisa merasakan hatiNya Tuhan, seperti yang dikatakan dalam 1 Samuel 15:11b, “Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada Tuhan semalam-malaman.” Bahkan bukan saja mengalami sakit hati bersama dengan Tuhan, sebagai nabi, Samuel juga dengan tegas menegur kepada Saul karena ketidaktaatannya ini, “Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Sam. 15:22) Inilah prinsip hidup Samuel yang disukai Tuhan, baginya mendengar dan mentaati suara Tuhan adalah yang terutama dalam hidupnya.

Karena perkenan Tuhan, Ia terus memakai Samuel untuk menyuarakan isi hati dan keputusanNya. Kali yang kedua, Tuhan mengutus Samuel untuk mengurapi raja kedua atas Israel, Daud bin Isai. Allah memberi petunjuk kepada Samuel, “Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kau perbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu,” (1 Sam. 16:3). Namun di sinilah Samuel mulai goyah akan perkataan Tuhan. Samuel mulai tertipu oleh matanya, ia memandang hanya penampilan luar dari orang yang menurutnya tepat untuk diurapinya menjadi raja. Tetapi Tuhan berfirman, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati,”(1 Sam. 16:7). Karena itu, semua anak lelaki Isai berjalan di depan Samuel dan ia berkata, “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN,”(1 Sam. 16:10). Tapi ketika Daud berjalan masuk, maka Tuhan berbicara secara tiba-tiba, “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia,”(1 Sam. 16:12). Samuel kembali taat ketika ia mendengar suara Tuhan. Ia mengambil tabung tanduk yang berisi minyak dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud.

Kebersediaan Samuel dipakai Tuhan dimulai saat ia memberikan telinganya untuk mendengar apa yang dikatakan Tuhan. Ketika ia mendengar dan taat melakukannya, ia dipakai luar biasa oleh Tuhan. Samuel terus setia untuk mendengar dan mentaati suara Tuhan, dan ia dipakai Tuhan untuk mengurapi dua raja pertama kerajaan Israel, Raja Saul dan Raja Daud. Tentang pengaruh Samuel, pemazmur menulis, “Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka,”(Mzm. 99:6). Seperti Samuel, mulailah dengan kata, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”, maka Tuhan akan memakai Anda dengan luar biasa.

2019-11-01T11:46:34+07:00