///Berburu Bangku Kosong

Berburu Bangku Kosong

Ningsih adalah seorang ibu yang memiliki suami yang belum percaya Yesus dan seorang anak laki-laki yang akan segera memasuki jenjang SMA. Suami Ningsih bernama Dahlan. Beserta putra tunggal mereka, ketiganya adalah keluarga sederhana bahkan kadang kekurangan, karena mereka tidak berpenghasilan tetap. Ningsih berjualan mi ayam, sedangkan Dahlan hanyalah seorang pekerja serabutan. Menjelang kelulusan Adi, putra mereka, dari SMP untuk segera memasuki SMA, keterbatasan finansial mereka makin terasa berat. Ningsih dan Dahlan sangat berharap Adi lolos masuk salah satu SMA negeri, karena memang mereka tak sanggup membiayai pendidikan Adi di SMA swasta.

 

Sayang, harapan itu tidak terwujud. Mereka sekeluarga harus menerima kenyataan bahwa Adi tidak lulus seleksi masuk SMA negeri, baik melalui jalur zonasi maupun jalur prestasi. Kesempatan terakhir bagi Adi adalah menunggu “bangku kosong”, yaitu posisi yang mungkin akan tersedia jika ada sisa kuota murid baru atau jika calon murid yang membatalkan pendaftaran masuk SMA negeri. Namun, peluang itu pun tidak mudah karena tidak semua sekolah negeri memiliki bangku kosong dan Adi harus bersaing dengan banyak calon murid lainnya yang juga mengincar bangku kosong.

 

Di sisi lain, Adi bukan hanya sedih karena tak berhasil lolos seleksi masuk SMA negeri, dia juga kecewa karena merasa membuat ayah-ibunya pusing.

 

“Ibu… Adi tahun ini nggak bisa masuk sekolah, ya? Adi coba tahun depan lagi, Bu. Ibu jangan sedih lagi, ya,” kata Adi dengan suara menahan tangis.

Ningsih makin tidak tega melihat anaknya bersedih dan murung sejak tahu dirinya tidak lolos seleksi. Hatinya berseru dalam doa, “Tuhan Yesus… Tolong supaya anakku bisa sekolah!”

 

Tanpa disadari oleh keduanya, Dahlan tiba di rumah setelah pekerjaannya hari itu.

“Ning… hari ini aku dapat uang tiga juta, dari kerja proyek bangunan. Tadi aku coba minta gaji duluan ke mandorku, tahunya diberi… Sepertinya kita bisa pakai uang ini untuk bayar ke sekolah, beli kursi kosong untuk Adi,” kata Dahlan penuh semangat kepada istrinya.

Ningsih pun kaget.

“Aduh… sebaiknya jangan, Mas… Menyogok itu tidak benar, itu ‘kan curang dan dosa!” jawab Ningsih.

Namun, Dahlan tetap bersikeras, “Sudahlah, Ning! Cuma ini caranya supaya Adi bisa sekolah. Lagipula semua orang juga melakukan ini kalau punya uangnya. Memangnya kita nggak malu kalau Adi nggak sekolah?!”

Nining terdiam. Dia mengerti kekalutan suaminya sebagai bapak yang berusaha mengadakan solusi untuk masalah anak mereka, tetapi dia pun tahu pasti perbuatan itu berdosa.

 

Malam hari itu, Ningsih berdoa sungguh-sungguh dan menyampaikan isi hatinya di hadapan Tuhan. Sambil menangis, Ningsih berkata dalam doa, “Tuhan, aku tahu aku sudah Kaujadikan manusia baru dan aku telah mengenal kebenaran. Aku tidak setuju untuk menyogok, tetapi suamiku tetap ingin menyogok dan Adi juga perlu masuk sekolah. Tolong aku, Tuhan… Tolong kami sekeluarga. Aku tidak mau melawan suamiku, tetapi aku butuh Engkau membela perkaraku dan menunjukkan kuasa-Mu. Biarlah kami sekeluarga menyaksikan bahwa Engkau sungguh berkuasa!”

 

Keesokan harinya, di siang hari Ningsih tiba-tiba mendapat kabar dari Dahlan bahwa ternyata uang sebesar itu pun tidak dapat digunakan untuk “membeli” bangku kosong di SMA negeri. Rupanya, pagi-pagi Dahlan pergi ke SMA negeri yang disasar Adi untuk melaksanakan niatnya menyogok. Mendengar kabar itu, Ningsih justru lega dan imannya bangkit. Dia tahu, Tuhan sedang menjawab doanya dan menunjukkan kuasa.

“Ah… dalam perkara ini Tuhan menjawab doaku. Pasti Tuhan segera memberikan jalan keluar,” kata Ningsih dalam hatinya.

“Mas Dahlan … kita sabar ya, aku percaya Tuhan Yesus pasti menolong kita…”

“Ah, kamu ini ada-ada aja! Tuhan Yesus kan di surga. Apa iya Tuhan Yesus bisa menolong sampai Adi dapat sekolah? Ning… Ning… kamu itu kadang-kadang aneh…” jawab Dahlan sambil tertawa.

 

Sesaat kemudian, ketika Dahlan baru berangkat ke lokasi proyeknya dan Ningsih hendak merapikan dagangannya, Roh Kudus berbicara dalam hati Ningsih, menuntunnya untuk berdoa berkeliling mencari sekolah negeri. Ningsih pun taat, segera dia berjalan kaki menyusuri setiap jalan sambil berdoa. Hari itu, Ningsih menunda berdagang mi ayam.

Hari itu matahari begitu terik dan udara sangatlah panas. Angin terasa kering meniupkan debu-debu halus hingga beterbangan menerpa wajah dan rambut Ningsih. Semua itu membuat perjalanan Ningsih hari itu makin terasa berat, tetapi langkahnya tidak undur atau ragu sedikit pun. Ningsih siap mengikuti arahan Roh Kudus. Tak lama kemudian, Roh Kudus kembali berbicara dan menuntun Ningsih menghentikan langkahnya di sebuah SMA negeri, yang sebenarnya tak jauh dari rumahnya. SMAN 18.

“Masuklah ke dalam dan temui pegawai di kantor administrasi sekolah,” demikian Tuhan berbicara di dalam hatinya dengan begitu jelas.

Ningsih kemudian memasuki gerbang sekolah itu dan meminta izin kepada penjaga sekolah untuk memasuki kantor administrasi. Ketika dipersilahkan duduk dan ditanya perihal keperluannya oleh staf administrasi sekolah, segera Ningsih bertanya,

“Selamat siang, Ibu… Eh, apakah di sekolah ini masih tersedia bangku kosong untuk anak saya?”

“Ooh… kebetulan sekali, masih ada, Bu… Masih ada tersedia satu bangku, yang baru saja akan diumumkan hari ini. Kalau Ibu bisa secepatnya mengirimkan berkas-berkas dokumen anak Ibu pagi ini, kami bisa terima dan tidak perlu umumkan bangku kosong itu. Kalau Ibu tidak segera masukkan berkas pendaftaran, saya khawatir nanti ada yang masuk lebih dulu karena pengumumannya sudah akan ditaruh di internet,” demikian jawab staf administrasi sekolah itu.

Saat itu juga, Ningsih pamit kepada staf administrasi sekolah untuk cepat-cepat pulang dan kembali membawa berkas pendaftaran Adi. Dia diberi waktu 30 menit saja, karena setelah itu pengumuman bangku kosong sudah harus tampil di website sekolah. Ningsih pun pulang dengan setengah berlari, lalu berteriak gembira memanggil Adi begitu tiba di rumah,

“Adiiii…! Cepat siapkan dokumen-dokumen untuk keperluan masuk sekolah, satukan jadi berkas yang rapi dan lengkap. Kita harus segera berangkat sekarang juga ke SMAN 18… Kamu dapat bangku sekolah, ‘nak!”

 

Singkat cerita, Adi dan Ningsih tiba kembali di SMAN 18 dengan berkas pendaftaran Adi. Setelah setiap dokumen Adi diperiksa menurut persyaratan masuk, staf administrasi itu berkata bahwa Adi sudah bisa masuk sekolah keesokan harinya untuk mengikuti kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Mereka tidak dipungut biaya apa pun selain yang memang resmi diwajibkan menurut ketentuan negara.

… … …

Sore itu, Ningsih memasak menu yang agak spesial. Sudah lama mereka sekeluarga hanya makan sayuran seadanya, tetapi kali ini Ningsih menambahkan telur balado, yang dimasaknya dengan sedikit sisa cabai rawit dan bumbu-bumbu di rumah dan membeli tiga butir telur di warung langganan tadi. Ningsih dan Adi tak sabar menunggu Dahlan tiba kembali di rumah. Mereka ingin segera menceritakan kabar gembira tentang Adi masuk SMAN 18 secara langsung. Maklum, memang ponsel Ningsih dan Dahlan hanya satu dan sudah agak rusak; mereka memakainya bergiliran sesuai siapa yang sedang lebih membutuhkan saja dan hari itu ponsel itu dibiarkan di rumah.

 

Akhirnya, Dahlan pun tiba di rumah. Wajahnya lelah bercampur putus asa. Ningsih tahu, dia lebih baik mengajak mereka sekeluarga makan bersama dulu sebelum menyampaikan kabar gembira yang ada. Sambil mengedipkan matanya ke Adi, Ningsih mulai meminta Dahlan mandi dan menyiapkan nasi, tumis kangkung, dan telur balado. Saat Dahlan datang kembali ke meja makan, dia bertanya heran mengapa ada menu “mewah” malam itu. Telur balado itulah yang diherankannya. Ningsih pun menjawab sambil tersenyum,

“Telur baladonya bonus dari Tuhan Yesus, Mas…”

Adi tak sanggup menahan tawa mendengar jawaban ibunya. Dia segera menambahkan dengan nada penuh semangat,

“Pak, Adi sudah dapat sekolah… Itu hadiah utamanya! Adi masuk SMAN 18, Pak! Tuhan Yesus tadi kasih tahu Ibu untuk datang menanyakan bangku kosong di SMAN 18, dan ternyata masih ada satu bangku kosong, persis sebelum diumumkan di internet. Wah, Tuhan Yesus hebat, Pak! Bangku kosongnya sudah Tuhan Yesus siapkan untuk Adi…”

 

Mata Dahlan terbelalak dan wajahnya kaget. Dia hanya menengok dan menatap mata Ningsih, meminta kejelasan tanpa mampu berkata-kata. Ningsih mengerti, inilah waktunya dia menceritakan kehebatan dan kebaikan Tuhan Yesus kepada Dahlan, suami yang dicintainya itu. Sambil menyendokkan makanan ke piring Dahlan, Ningsih menceritakan pengalaman pagi sampai siang itu dengan lebih runut. Dahlan makan sambil terheran-heran mendengar seluruh cerita istrinya.

Menutup cerita Ningsih, Adi berkomentar lagi,

“Luar biasa ya Tuhan Yesus, Bu… Dia menjawab doa kita. Tuhan Yesus baik dan hebat! Baru kali ini Adi benar-benar bisa merasakan doa yang dijawab pakai cara ajaib begini!”

“Betul, Adi… Kita ini anak-anak Allah, yang tahu kebenaran. Kalau kita taat dan melakukan perbuatan yang benar, pasti Allah menolong dan membela kita,” jawab Ningsih.

Mendengar semua itu, Dahlan hanya terdiam, tetapi dalam hatinya dia jadi kagum akan Tuhan Yesus yang Ningsih percayai itu. Ternyata iman Ningsih benar-benar nyata, dan ternyata Ningsih sudah benar untuk selalu mengajak Adi beribadah di gereja sejak Adi kecil. Diam-diam, Dahlan memutuskan untuk mulai ikut ke gereja dan belajar mengenal Tuhan Yesus.

———————————————–

Bagi setiap orang yang telah mengenal Kristus, dikatakan oleh Firman-Nya, “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih,” (Ef 5:1), dan inilah yang Ningsih lakukan. Ningsih taat untuk tidak lagi mengikuti cara-cara dunia seperti yang dilakukan oleh Dahlan maupun banyak orang untuk membeli bangku sekolah. Ningsih memilih untuk taat dan menjadi penurut Allah. Tanpa bertengkar atau melawan, Ningsih menunjukkan integritasnya sebagai anak Tuhan di hadapan suaminya yang belum mengenal Tuhan. Yang Ningsih lakukan itu lebih tegas lagi disampaikan oleh Firman Tuhan di Efesus 5:8-11, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.”

Sebagai seorang istri, Ningsih tetap menghormati suaminya, Dahlan, karena dia tahu bahwa fungsinya adalah sebagai penolong. Di sisi lain, sebagai seorang ibu, Ningsih tetap mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Dari situasi rumit itu, dia menyerahkan persoalannya dan bergantung hanya kepada Tuhan. Ningsih memilih mengandalkan Tuhan dan mencari kehendak Tuhan, lagi-lagi sesuai Firman Tuhan, “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan,” (Ef 5:17). Apa yang Ningsih pilih dan lakukan itu beroleh perkenanan Tuhan, sehingga berbuah kebaikan, keadilan, dan kebenaran, sekaligus berbuah pengenalan akan Tuhan untuk suaminya.

Refleksi Pribadi:
1. Kerumitan atau masalah apa yang sedang engkau hadapi saat ini?
2. Sebagai manusia baru, bagaimana seharusnya engkau bersikap dan memutuskan dalam menghadapi masalah itu?
3. Buatlah komitmen dan ambillah tindakan nyata dalam masalah itu untuk menyatakan diri sebagai anak terang!

 

(Veronika Wendy)

2023-10-30T13:46:26+07:00