///Berdamai dengan Diri Sendiri, secara Praktis

Berdamai dengan Diri Sendiri, secara Praktis

Markus 9:50 (TB) berkata, “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu [berdamai dengan diri sendiri] dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”

Musuh terbesar manusia bukanlah dari luar diri, tetapi dari dalam diri sendiri. Ketakutan yang paling menakutkan pun adalah ketakutan dari dalam diri. Dari pengalaman saya bersama banyak orang, dari sepuluh orang hanya dua orang yang mampu memahami cara hidup damai dengan diri sendiri, sementara yang delapan orang merasa diri sudah baik atau tidak tahu cara berdamai dengan diri sendiri. Saya percaya bahwa evaluasi diri adalah bagian dari membangun iman dan kedewasaan mental kita. Firman Tuhan yang Yesus ucapkan di Markus 9:50 pun meneguhkannya, bahwa jika garam dalam diri kita hambar, kita tidak akan dapat mengasinkan, artinya memberi dampak, kepada orang-orang di sekeliling kita.

Karena itu, mari kita melihat sepuluh musuh dalam diri kita sendiri dan mengevaluasi diri apakah kita sudah berdamai dengan diri sendiri.

 

Sepuluh Musuh Diri Sendiri

  1. Masa lalu yang traumatis
    Masa lalu kita sudah berlalu secara waktu kronologis, tetapi segala sesuatu yang pernah dialami dan terjadi tetap bisa menghantui kita sampai saat ini, terutama masa lalu yang traumatis. Mari ingat, ketika kita berusia 5 tahun sampai 12 tahun, lalu ketika kita berusia 12 tahun sampai 21 tahun, apa saja yang terjadi yang ternyata traumatis bagi diri kita. Traumatis berarti menimbulkan respons masa sekarang secara emosional, pikiran, bahkan mungkin fisik, yang nyata seperti saat peristiwa aslinya terjadi di masa lalu. Masa lalu yang traumatis akan membuat kita kehilangan kebebasan di dalam beriman untuk masa yang akan datang.
  2. Pola asuh yang salah
    Pola asuh yang salah adalah pola asuh dari orang tua yang tidak memberi asupan kasih sayang, perhatian, empati, kepedulian, maupun pemeliharaan yang baik atau memadai. Seorang ayah seharusnya memberikan identitas, rasa percaya diri, proteksi, dan tuntunan masa depan yang tepat. Seorang ibu seharusnya memberikan kasih sayang, rasa aman, dan pengajaran kehidupan yang baik. Jika tidak atau kurang mendapatkan hal-hal itu dari orang tua, dapat dipastikan bahwa ada pola asuh yang salah dari masa kecil kita.
  3. Pendidikan yang salah
    Pendidikan bukan hanya proses yang dilakukan oleh orang tua, melainkan juga oleh lingkungan. Yang termasuk lingkungan adalah sekolah, guru, maupun orang-orang lain di sekeliling Saat usia anak, otak kita adalah otak yang mampu menangkap nilai-nilai pengetahuan dan pelajaran yang membuat kita lebih baik dan lebih mengerti untuk berespons dengan benar. Namun, jika masa pendidikan kita berisi atau dipengaruhi oleh perlakuan atau pengetahuan yang buruk dan traumatis, masa depan kita juga akan terhambat kemajuannya.
  4. Lingkungan yang salah
    Lingkungan adalah faktor sangat kuat yang memengaruhi kepribadian kita. Itulah sebabnya, Firman Tuhan berkata bahwa pergaulan yang baik bisa membangun kebiasaan yang baik tetapi sebaliknya pergaulan yang salah akan membuat kebiasaan kita menjadi salah merusakkan kebiasaan kita. Apakah lingkungan kita pada masa lalu kita sudah mampu membangun kita atau malah merusak kita, ini perlu kita temukan dan pahami.
  5. Hawa nafsu yang tidak terkendali
    Dalam Firman Tuhan, ada tiga keinginan hawa nafsu yang harus bisa dikendalikan: daging, mata, dan keangkuhan hidup. Kalau kita terbiasa membebaskan diri tanpa berlatih mengendalikan hawa nafsu, kita akan terjerat dan terikat dalam berbagai kebiasaan buruk atau kondisi yang lebih kacau dan berbahaya. Jelas, ini berarti kita harus terus belajar untuk menyalibkan segala keinginan hawa nafsu kita. Amati kehidupan Anda, apakah Anda selama hidup dalam keinginan hawa nafsu atau dalam kebutuhan yang wajar?
  6. Asumsi yang meleset
    Asumsi adalah sesuatu yang belum pasti tetapi dipercaya akan/sedang terjadi. Sering kali, asumsi itu baik, tetapi menjadi mengecewakan karena tidak terjadi. Asumsi adalah sumber kekecewaan dan kekacauan, karena memang biasanya bukanlah prediksi yang baik. Karena dipercaya kuat dan kerap mendorong respons yang sesuai kepercayaan itu, asumsi menjadi bagaikan iman. Asumsi yang meleset pun seperti iman yang meleset. Kita perlu mengganti asumsi menurut prediksi kita dengan iman berdasarkan Firman Tuhan, meski seluruh dunia lebih cenderung berasumsi daripada beriman. Orang benar hidup oleh iman, bukan asumsi.
  7. Pikiran neqatif yang berlebihan
    Dari Filipi 4:8 kita tahu bahwa kita harus memikirkan hal-hal yang indah, yang benar, yang mulia, yang disebut kebajikan, dan seterusnya. Namun, banyak orang justru berpikir negatif secara berlebihan (overthinking) dan lebih banyak memikirkan hal-hal negatif daripada hal-hal yang positif. Apakah Anda juga demikian? Pikiran negatif yang berlebihan biasanya timbul dari latar belakang masa lalu kita atau lingkungan kita yang sering mengecewakan kita.
  8. Imajinasi yang buruk
    Apakah kita menggunakan imajinasi untuk hal-hal yang baik? Imajinasi diciptakan untuk menjadi tempat kita percaya kepada Tuhan, untuk beriman dan berbicara dengan sosok supernatural Yang Maha Besar itu melalui Firman-Nya dan iman. Alam imajinasi adalah akal budi, yang disebut dianoia dalam Firman Tuhan. Apakah kita percaya bahwa Tuhan ada dan tinggal dalam imajinasi kita? Apa yang biasanya kita lakukan dengan imajinasi kita? Sudahkah kita menguduskan imajinasi kita, atau justru kita lebih terbiasa menggunakan imajinasi secara sembarangan?
  9. Alam bawah sadar tidak sehat
    Alam bawah sadar kita memengaruhi 88% dari perilaku kehidupan kita. Alam bawah sadar berisi nilai-nilai, iman, pengharapan, dan kasih, selain berisi hal-hal yang baik maupun hal-hal yang buruk. Jika alam bawah sadar kita lebih banyak berisi hal-hal yang baik maka hidup kita akan baik, dan demikian pula
  10. Kebiasaan buruk
    Kumpulan kebiasaan yang terus-menerus dilakukan akan menjadi suatu gaya hidup yang memengaruhi kesehatan jiwa maupun roh. Jiwa kita memerlukan kebiasaan yang membuat kita percaya diri dengan cara kita merasa dikasihi, dihargai, maupun dianggap berkemampuan atau dipercaya. Sementara itu, roh kita perlu terbiasa untuk menyembah Tuhan, bersekutu dengan saudara seiman, serta saling menolong dan saling menasihati dengan Firman yang tinggal di dalam hidup kita. Tanpa semua ini, jiwa dan roh kita tidak akan mampu memutuskan ikatan kebiasaan buruk.

 

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

  1. Menyadari kelemahan diri dan mengakui kesalahan diri kepada Tuhan dan sesama
    Kesadaran bahwa kita tidak sempurna menunjukkan bahwa kita harus mengakui kelemahan bahkan kemelesetan atau dosa dalam hidup kita. Caranya, kita mengakui kepada Tuhan seperti 1 Yohanes 1:9 serta kita saling mengaku dengan sesama kita seperti Yakobus 5:16. Hasilnya, kita akan menjadi sembuh. Kapan terakhir kali Anda mengaku dosa kepada Tuhan dan saling mengaku untuk menjadi sembuh, lalu mengalami bahwa doa Anda besar kuasanya?
  2. Menyadari bahwa kesalahan dan kegagalan bisa terjadi lagi, serta mengantisipasinya dengan pertolongan sahabat dekat
    Firman Tuhan memperingatkan agar kita yang merasa teguh berdiri berhati-hati, karena saat itulah kita menjadi lemah. Mari menerima peringatan ini dan tidak menjadi sombong. Kita perlu untuk terus-menerus mengandalkan Tuhan, karena kita bisa saja jatuh lagi. Firman Tuhan berkata orang benar jatuh satu kali bangkitnya tujuh kali; artinya, jika jatuh kita harus selalu bisa bangkit lagi. Dalam Alkitab, angka 7 sering melambangkan kesempurna Kesempurnaan dan kemenangan akhir akan kita raih jika kita selalu bangkit lagi setelah jatuh. Ingat, kita telah dibebaskan dari dosa dan seharusnya mampu bangkit lagi setiap kali jatuh dalam dosa.
  3. Menyadari intimidasi rasa bersalah dan menghadapi akibat kegagalan masa lalu sebagai risiko yang harus dipertanggungjawabkan
    Iblis selalu mengintimidasi kita agar kita menjadi lemah dan tidak mampu bangkit lagi. Memang kita harus menghadapi akibat kegagalan masa lalu sebagai risiko yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi dengan kasih karunia Tuhan kita akan mampu menyelesaikan tanggung jawab itu dengan baik. Janganlah kita mendengarkan intimidasi dari Iblis, tetapi mari kita mendengarkan kasih setia Tuhan, penghiburan dan kekuatan dari Tuhan, yang membuat kita mampu percaya diri dan menghadapi masa depan dengan penuh pengharapan.

 

Beberapa Perenungan

  • Tidak ada kesempurnaan tanpa kegagalan
    Kegagalan adalah ibu dari keberhasilan, dan keberhasilan yang berulang terus-menerus akan membawa kita ke kesempurnaan seperti Kristus.
  • Berdamai dengan diri adalah awal kebangkitan
    Ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri, kita akan mampu menolong orang lain untuk berdamai dengan Tuhan.
  • Kemenangan masa sekarang dimulai dari rasa damai di hati setelah menang atas masa lalu
    Sekali kita menang bersama dengan Roh Kudus, kita dimampukan untuk selalu bangkit lagi agar kita bisa menang dari masa lalu.
  • Berani bertanggung jawab dengan mengakui kesalahan adalah awal perdamaian diri yang sehat
    Membiasakan diri untuk mengakui kesalahan kita dapat dilakukan setelah kita menyadari bahwa hidup kita sekarang adalah hidup yang baru, yang lama sudah berlalu, dan yang baru sudah datang. Inilah titik awal perdamaian kita dengan diri sendiri. Dalam prosesnya, Tuhan akan menolong dan memimpin hati kita yang tulus dan suci agar kita bisa melihat jalan-jalan Tuhan.

 

Selamat mempraktikkan. Tuhan memberkati.

2023-10-30T14:19:53+07:00