///Berjalan Bersama Roh Kudus

Berjalan Bersama Roh Kudus

Kita tahu, pada umumnya kelompok yang sering terikat oleh dosa pornografi adalah pria, padahal pada kenyataannya tidak sedikit juga wanita, lajang maupun menikah, yang juga jatuh hingga terikat dalam jerat dosa pornografi. Salah satunya, Kristin. Di sisi lain, kita juga tahu bahwa kebanyakan pasangan menikah tentu mengalami konflik serta pertengkaran. Tak jarang, konflik itu berlarut-larut, dan kita sering melihat pada pasangan non-Kristen ujungnya adalah perpisahan atau perceraian. Masalahnya, pasangan Kristen pun mengalaminya. Salah satu pasangan yang mengalami konflik cukup berlarut-larut adalah Iko dan Ela.

 

Mari kita mulai dengan kisah Kristin.

 

Suatu ketika pada masa lalu, Kristin tanpa sengaja melihat tontonan video dewasa milik orang tuanya. Titik awal itu membawa Kristin menjadi terikat pada pornografi, sampai masa dewasanya sebagai wanita lajang Kristen yang telah lahir baru dan melayani di gereja. Kristin masih sering jatuh bangun dalam dosa pornografi. Perasaan tertuduh mendera dirinya, membuatnya kadang merasa tidak layak dan enggan untuk melayani Tuhan. Selain itu, Kristin pun malu untuk mengakui masalahnya itu kepada saudara seiman dalam komunitas sel atau kepada pemuridnya. Semua itu dia simpan dan pergumulkan sendiri. Apakah Kristin ingin bertobat dan terbebas dari jerat dosa itu? Ya, tentu. Dia teramat sangat menghendaki terlepas dari semua itu. Namun, tak sanggup rasanya dia bangkit dan bebas secara tetap.

 

Pergumulan Kristin berlanjut sampai suatu saat ketika Roh Kudus berbicara di dalam hatinya, bahwa Tuhan Yesus mengasihinya dan telah berkorban mati untuk dirinya. Timbul dalam benak Kristin segumpal rasa haru, “Ya, Tuhan… Aku pun mengasihi Engkau, tetapi dosa yang telah kuperbuat itu sama saja aku melukai Engkau.” Dari situlah, timbul pula keberanian di dalam diri Kristin untuk mencari pertolongan. Dia menghubungi pemuridnya dan mengakui dosanya serta pergumulannya untuk bebas. Pengakuan itu membuat Kristin seperti melepaskan beban dalam dirinya, karena dia merasa diterima dan diteguhkan untuk menang atas dosa. Pemuridmya membimbing dan mengingatkan Kristin untuk terus merenungkan Firman Tuhan di Galatia 5:16, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

 

Sejak mengaku dan dibimbing serius, Kristin tekun memberi makan dan menguatkan manusia rohaninya. Lambat laun, Firman Tuhan makin menguasai pikiran dan perasaan Kristin sehari-hari. Ketika keinginan dan godaan dosa pornografi muncul kembali, Kristin kembali memperkatakan Firman Tuhan dan menyediakan diri untuk dipantau oleh pemuridnya. Tanpa terasa, waktu terus berjalan dan Kristin terus hidup berkemenangan, bahkan mengalami pertumbuhan menjadi makin dewasa dalam iman dan karakter.

 

Kita beralih sekarang ke kisah Iko dan Ela.

 

Pertengkaran adalah hal yang biasa terjadi bagi sepasang suami istri, termasuk Iko dan Ela, yang telah menikah hampir sepuluh tahun. Namun, tidak sedikit dari kejadian-kejadian pertengkaran itu ternyata menumpuk rasa kecewa dan menyimpan luka. Suatu ketika, Ela sebagai istri yang lelah setelah seharian mengurus rumah dan anak mereka yang masih kecil, bersemangat menyambut kedatangan Iko sepulang dari pekerjaan. Percakapan mereka pada awalnya biasa saja. Ela bertanya ini dan itu kepada Iko, dan Iko menjawab singkat-singkat saja. Kemudian, karena merasa penasaran dengan jawaban-jawaban yang terasa “seadanya” itu, Ela bertanya dengan makin mendetail. Iko sendiri, yang lelah dengan masalah-masalah berat di pekerjaan dan hendak berdiam diri sejenak sehabis bekerja, kewalahan saat dihujani banyak pertanyaan. Akhirnya, keluarlah jawaban Iko dengan nada tinggi dan ketus, “Ah, ingin tahu sekali sih, kamu! Apa hubungannya kamu bertanya-tanya soal pekerjaanku?!? Pergi sana, aku capek!!”

 

Maksud hati Ela dengan bertanya sebenarnya berawal dari mencoba memberi perhatian kepada suaminya. Namun, spontan saja saat mendengar jawaban Iko itu Ela pun membalas, “Kamu pikir hanya kamu yang capek? Aku juga capek, tahu! Aku sudah seharian mengurus semuanya di rumah, lalu mencoba perhatian ke suami sendiri malah ditolak!!! Sakit sekali hatiku!”

 

“Mulai sekarang aku tidak akan bertanya-tanya lagi soal apa pun juga ke kamu!” lanjut Ela dengan nada keras. Hatinya memang mendadak dingin setelah mendengar jawaban ketus Iko tadi. Sejak detik itu, Ela dan Iko saling membisu. Sama sekali tidak ada percakapan di antara keduanya. Ela tetap mengurus rumah tangga dan anak, sedangkan Iko tetap bekerja dengan tanggung jawab, tetapi keduanya tidak berinteraksi. Anak mereka pun hanya berinteraksi dengan salah satunya setiap kali, entah bermain dengan Iko atau mengobrol dengan Ela. Mereka tidak lagi beraktivitas bersama-sama bertiga seperti dahulu, bahkan saat Iko libur kerja. Ela pun makin lama makin malas berkomunikasi dengan Iko. Dia otomatis segera mengalihkan pandangannya dari Iko setiap kali mereka berpapasan.

 

Suatu malam, Iko belum juga pulang dari bekerja pada jam biasanya. Sebenarnya, saat itu Iko lembur karena banyak masalah pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor, tetapi Ela tidak tahu itu. Ela mulai cemas menduga-duga hal yang tidak-tidak. Dia takut Iko mengalami bahaya atau kecelakaan dalam perjalanan pulang. Dalam kecemasannya itu, ada suara di dalam hatinya berkata, “Ela, berdamailah dengan Iko. Doakan suamimu itu, sebab banyak masalah dalam pekerjaannya. Bukankah kamu penolong bagi suamimu?” Sontak saja, perkataan itu membuat Ela sadar. Dia penolong dan penopang, bukan musuh, bagi suaminya. Mengapa pula dia menjadikan Iko seakan musuh, padahal suaminya adalah orang yang dia berjanji untuk dampingi seumur hidup dalam ikatan kasih? Malam itu, Ela melembutkan hatinya. Di rumah, Ela mendoakan Iko agar Tuhan menjaganya dan membuka jalan keluar akan setiap masalah dalam pekerjaannya. Lalu, Ela pergi tidur dengan tenang bersama anaknya, tanpa diganggu lagi oleh kecemasan.

 

Keesokan paginya, Ela melanjutkan langkah kebenarannya. Dia memulai membuka percakapan dengan hangat kepada Iko, dan meminta maaf atas tindakan dan perkataannya pada hari konflik itu kepada Iko. Ela memulai perdamaian tanpa pembelaan diri atau argumentasi. Rupanya, semalam di kantor Iko juga terketuk hatinya oleh Roh Kudus. Dia teringat akan kasih sayang Ela sebagai istri yang mendampinginya dalam seluruh perjuangan hidup mereka selama ini. Iko juga menyadari bahwa perkataan dan tindakannya pun melukai istrinya, dan mereka berdamai dengan komitmen baru untuk terus belajar saling mengasihi dengan lebih baik sesuai arahan Roh Kudus. Mereka sadar, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya,” (Ams. 27:17), dan mereka rela mengalami proses pendewasaan melalui setiap interaksi mereka, termasuk konflik.

 

Efesus 1:13-14 menyatakan bahwa setiap orang yang percaya Yesus dimeteraikan dengan Roh Kudus, dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita. Meskipun ada kalanya anak-anak Tuhan jatuh mengikuti keinginan daging dan terjerat dosa, bahkan mungkin sampai berlarut-larut, sejauh mereka tetap kembali pada pimpinan Roh Kudus yang berbicara lewat Firman Tuhan, mereka pasti bangkit kembali dan mengalami kemenangan demi kemenangan. Untuk mengalami suara pimpinan Roh Kudus itu, kita perlu menjaga kepekaan. Tuhan dapat berbicara dengan berbagai cara, dan kita perlu senantiasa berespons dengan lemah lembut agar karakter kita terus diubahkan setiap hari.

Kristin dan Ela adalah dua wanita yang telah mengalami prinsip kebenaran di atas. Bagaimana dengan kita sendiri, wanita-wanita yang sedang membaca kisah mereka saat ini? Mari kita sadari, Tuhan sedang mendandani kita para wanita untuk semakin serupa Kristus melalui pergumulan, tantangan, atau peristiwa yang kita alami. Apakah kita tetap peka akan suara-Nya dan memiliki roh yang lemah lembut untuk pendewasaan yang Tuhan kerjakan? Bagaimana cara kita membangun kepekaan? Satu-satunya cara adalah membangun hubungan dengan pribadi Yesus, yaitu kehidupan persekutuan dengan Firman Tuhan setiap hari. Buatlah komitmen itu dan lakukan mulai hari ini!

2024-10-30T09:45:37+07:00