///Berjumpa dengan Kerajaan Allah

Berjumpa dengan Kerajaan Allah

Sepanjang tahun 2017 ini, kita akan berfokus untuk membangun ekklesia dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana cara memulainya? Kita akan mencontoh apa yang dipraktikkan oleh rasul-rasul ketika Yesus mulai membangun dasar gerejaNya selama tiga tahun pelayananNya di bumi. Kita tahu bahwa Yesus meminta rasul-rasulnya mempraktikkan empat hal sebagai pola dasar ekklesia: Kerajaan, murid, masyarakat, dan gereja. Keempat gaya hidup inilah yang dilipatgandakan rasul-rasul kepada semua jemaat mula-mula dan diteruskan kepada kita sekarang. Bagaimana Yesus memulai keempat gaya hidup itu? Ia memulainya dengan menyatakan KerajaanNya, lalu memanggil murid-muridNya untuk mempraktikkan komunitas sepakat (“kompak”) yang diutusNya untuk memenangkan jiwa dan melakukan transformasi di tengah-tengah masyarakat. Setelah itu, barulah Yesus mendapatkan ke-12 murid yang akan dibangunNya menjadi GerejaNya (ekklesia) (Mat. 4-10).

Saat ini, Yesus juga memanggil kita untuk hidup maksimal dalam kerajaanNya dengan mempraktikkan kompak, sehingga kita dapat diutus untuk menghadirkan dan memperluas Kerajaan Allah di masyarakat supaya akhirnya kita dapat membangun komsel sebagai unit dasar Gereja (ekklesia). Semuanya dimulai dari kompak yang hidup maksimal dalam Kerajaan Allah. Apa itu kompak? Mengapa kompak harus dipraktikkan lebih dahulu? Sebuah sel tubuh yang secara jasmani tidak mungkin bertumbuh sehat dan bermultiplikasi bila molekul-molekulnya tidak sehat dan bermultiplikasi dan molekul terdiri dari atom-atom yang tidak independen tetapi bersekutu bersama. Demikian pula, komsel dalam Tubuh Kristus tidak mungkin sehat dan bermultiplikasi bila kompak-kompaknya tidak sehat dan bermultiplikasi. Kompak terdiri dari pribadi muridMurid yang tidak independen tetapi saling bersekutu bersama. Dalam ilmu kimia, atom-atom diikat menjadi satu oleh tenaga listrik dan nuklir. Listrik dan nuklir itulah gambaran Kristus (Firman) dan kuasa kerajaannya. Jadi murid-murid adalah seperti atom yang diikat oleh kuasa Firman dan kerajaannya untuk membentuk kompak-kompak. Firman Kristus disebut juga Firman Kerajaan (Mat. 13:18). Karena itu, komsel yang sehat dimulai dari kompak yang diikat dan digerakan oleh kuasa Kerajaan Allah.

Apa Itu Kerajaan Allah

Kebanyakan dari kita yang hidup di zaman modern ini tidak mengerti arti Kerajaan Allah. Ini terjadi karena kita umumnya hidup dalam negara demokratis yang telah kehilangan nuansa kerajaan. Orang-orang yang hidup di negara-negara kerajaan seperti Thailand, Malaysia, atau Inggris, biasanya lebih paham apa arti kerajaan, namun orang-orang yang paling mengerti hal ini adalah mereka yang hidup di zaman Yesus, yaitu dalam zaman kerajaan Romawi. Apakah arti sebuah kerajaan pada zaman itu? Untuk mempermudah penjelasannya, mari kita menyimak gambarannya secara lebih substansial dan sederhana. Pada prinsipnya, dalam sebuah kerajaan ada seorang raja, ada rakyat, ada wilayah kekuasaan, ada konstitusi/hukum kerajaan, dan ada kekuasaan mutlak raja atas rakyat dan wilayah kerajaannya. Singkatnya, kerajaan adalah hak mutlak pemerintahan seorang raja atas rakyat dan wilayah kekuasaannya.

Gambaran dan definisi kerajaan ini mengandung tiga pengertian: 1. Raja berjanji untuk melindungi, memakmurkan, dan mengembangkan rakyat serta wilayah kekuasaannya; 2. Raja memiliki hak mutlak atas semua kepemilikan dari rakyat dan wilayah kekuasaannya. Semua kepemilikan termasuk rakyatnya adalah milik raja, karena rakyat bukanlah pemilik melainkan hanyalah pengurus/pengelola dari harta yang dipercayakan oleh raja.; 3. Raja berhak memerintahkan rakyatnya untuk menaati konstitusi/hukum kerajaannya. Apabila rakyatnya taat, mereka akan hidup makmur dan damai. Namun apabila tidak taat, mereka hidup dalam pemberontakan dan harus menanggung konsekuensinya berupa hukuman. Hukuman yang paling berat dalam sebuah kerajaan adalah hukuman mati karena kesalahan (dosa) makar. Makar adalah melawan dengan maksud hendak menggulingkan raja dalam sebuah kerajaan. Hukuman atas makar biasanya adalah hukuman mati.

Nah, raja di dunia saja mempunyai kekuasaan yang begitu hebat dan mutlak atas rakyat dan wilayahnya, apalagi Allah yang adalah Raja atas alam semesta ini. Allah adalah raja atas semua ciptaanNya. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia menempatkan manusia di dalam sebuah taman yang menggambarkan Kerajaan Allah. Allah bertanggung jawab untuk melindungi, memberkati, dan mengembangkan manusia di dalam taman itu. Allah sebagai raja memiliki hak mutlak atas semua kepemilikan yang ada di dalam taman itu. Semua isi taman bahkan manusia adalah termasuk milikNya. Allah pun memerintahkan manusia untuk menaati konstitusi/hukum-hukum kerajaanNya yang sangat sederhana: “lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’” ??(Kej.? ?2:16-17? TB??). Namun, manusia tidak taat dan akhirnya berdosa lalu mengalami kematian. Akibat dosa, manusia diusir dari Kerajaan Allah dan harus hidup di dalam kerajaan kegelapan. Akibat dosa, roh/hadirat Allah yang tadinya dihembuskan ke dalam tubuh Adam pun akhirnya meninggalkan dirinya. Roh Allah tidak dapat bersekutu dengan dosa. Akibat dosa, manusia kehilangan Kerajaan Allah.

Kedatangan dan Jalan Masuk Kerajaan Allah

Karena masalah keluarnya manusia dari Kerajaan Allah, Yesus harus datang untuk mengerjakan solusi. Tanpa penebusan dosa, manusia tidak dapat masuk/kembali ke dalam Kerajaan Allah.

Akhirnya, setelah Yesus datang ke dunia untuk menebus manusia dari dosa, Kerajaan Allah pun datanglah. Pada zaman Yesus di dunia, Kerajaan Allah dikatakan “sudah dekat”, tetapi di hari Pentakosta, Kerajaan Allah pun “sudah datang”. Pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah tentang datangnya Kerajaan Allah. Petrus berkata bahwa Yesus yang disalibkan itu ternyata adalah Tuhan dan Kristus, “Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berFirman kepada tuanku: duduklah di sebelah kananKu, sampai kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” ??(Kis. ?2:34-36? ?TB??).

Ketika mereka mendengarkan khotbah tersebut, hati mereka sangat terharu sehingga mereka bertanya hal apakah yang seharusnya menjadi respons mereka untuk menyambut dan masuk ke dalam kerajaan itu. Lalu, “jawab petrus kepada mereka: ‘bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.’” ??(Kis.? ?2:38? TB??).?? Jelaslah, jalan masuk ke Kerajaan Allah adalah bertobat, dibaptis air, dan menerima karunia Roh Kudus. Manusia harus bertobat atau berpaling kepada Bapa, dengan dibaptis ke dalam Kristus, kemudian didiami dan dibaptis dengan Roh Kudus. Jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah melalui kelahiran baru dari air dan roh (Yoh. 3:1-5).

Perjumpaan Kerajaan dalam Komunitas Kerajaan

Mari kita melihat bahwa sebelum Kerajaan Allah datang, Yesus terlebih dahulu mempersiapkan murid-muridNya agar mereka mengalami perjumpaan dengan KerajaanNya: “sampai pada hari ia terangkat. Sebelum itu ia telah memberi perintahNya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilihNya. Kepada mereka Ia menunjukkan diriNya setelah penderitaanNya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” (Kis. 1:2-3 TB). Mengapa Yesus harus berulang-ulang berbicara tentang Kerajaan Allah kepada murid-muridNya. Ternyata, Kerajaan Allah adalah topik yang sangat penting tetapi sangat sulit dimengerti. Itulah sebabnya, Kerajaan Allah haruslah diulang-ulang agar bisa menghasilkan pencerahan yang mengubah hidup.

Selanjutnya, Yesus juga menyuruh rasul-rasul berkumpul sebagai komsel (11 orang yang terdiri dari beberapa kompak) yang berdoa sepakat selama 10 hari. “Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.” (Kis. 1:13-14 TB). Kita bisa melihat lima kompak para rasul: 1. Petrus dengan Yohanes; 2. Yakobus dengan Andreas; 3. Filipus dengan Tomas; 4. Bartolomeus dengan Matius; 5. Yakobus bin Alfeus dengan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Rasul-rasul ini berkumpul selama 50 hari untuk mengalami perjumpaan Kerajaan (Kingdom encounter). Selama 50 hari itu, mereka  bersekutu, belajar Firman tentang Kerajaan, dan berdoa sepakat. Sebagai hasilnya, terjadilah pencurahan Roh Kudus yang mahadahsyat, Kerajaan Allah datang, dan terbentuklah ekklesia-Nya.

Kompak yang Berbuah dan Berlipat Ganda

Dari contoh yang Yesus lakukan dengan komselNya yang berisi kompak-kompak tadi, jika kita ingin mengalami lawatan kuasa Kerajaan Allah yang dahsyat itu, kita pun perlu memulainya dengan membangun kompak sebagai unit terkecil yang digerakkan oleh Kerajaan Allah. Apa yang perlu kita lakukan agar menjadi kompak yang berbuah dan bermultiplikasi? Praktikkan tiga agenda kompak yang efektif ini:

1. Saling menolong untuk mengalami transformasi hati. Agenda pertama ini adalah agenda saling menggembalakan untuk menyingkirkan semua hal yang menghalangi kita mengalami pertumbuhan menjadi tanah hati yang baik. Kita harus saling menolong untuk menyingkirkan sikap hati “tanah pinggir jalan” yang tidak berfokus, “batu-batu penghalang” yang menghalangi Firman Kerajaan berakar dalam, serta “semak duri” yang menghimpit benih Firman Kerajaan untuk berbuah. Setelah kita menyingkir penghalang-penghalang tersebut, barulah kita dapat menjadi tanah hati yang baik yang siap ditabur dengan Firman Kerajaan dan berbuah.

2. Saling menolong untuk menanam Firman Kerajaan Allah. Agenda ini adalah agenda saling mengajar secara berulang-ulang agar kita semakin mendapatkan pencerahan tentang Kerajaan Allah. Semakin benih Firman kerajaan tertanam, semakin berbuahlah hidup kita. Ketika Firman kerajaan tertanam di tanah hati yang baik, ada kuasa bertumbuh yang otomatis (Mrk. 4:26-29). Di dalam Firman Kerajaan Allah ada kuasa pertumbuhan “dengan sendirinya”. Jika Firman Kerajaan telah bekerja, kita tidak berlu “memaksakan diri” atau “bergumul keras” untuk berbuah. Orang yang telah melihat Kerajaan Allah pasti akan digerakkan oleh Kerajaan Allah untuk taat dan hidup radikal bagi Tuhan.

3. Sepakat dan sinergi untuk memenangkan jiwa dan transformasi. Inilah agenda ketiga yang sangat penting untuk berbuah dan bermultiplikasi, yaitu mempraktikkan “Ekklesia Go”. Ini berarti, kompak diutus untuk mempraktikkan Lukas 10 sampai mendapatkan orang damai. Orang damai adalah orang yang  telah dipersiapkan Allah bagi kita masing-masing. Mereka adalah calon-calon murid yang hatinya akan menjadi tanah yang baik. Sebagai murid kerajaanNya, kita juga diutus untuk menjadi terang dan garam (Kingdom transformer) di tempat sehari-hari kita berada.

50 Hari Awal Perjumpaan Kerajaan

Setelah kita mempelajari gaya hidup rasul-rasul dan agenda kompak yang effektif yang dipraktikkan mereka sebagai contoh bagi kita, mulai tahun 2017 ini kita berfokus untuk menjadi kompak yang berbuah dan bermultiplikasi. Apa yang perlu kita lakukan untuk mencapai fokus itu?

1. 50 hari perjumpaan Kerajaan (50 days of Kingdom encounter)

Hendaklah masing-masing jemaat lokal memilih 50 hari secara khusus sebagai momentum untuk mengalami perjumpaan Kerajaan secara pribadi: suami-istri, keluarga, kompak, komsel, serta jemaat lokal bersama-sama. Renungkan setiap hari Firman Kerajaan Allah dari renungan dalam edisi ini dan selanjutnya sampai mendapatkan pencerahan. Lalu, ceritakan dan saling mengajarlah dalam pertemuan kompak dalam komsel, sehingga kita mendapatkan pencerahan yang lebih jelas. Selama 50 hari perjumpaan Kerajaan, lakukan juga doa puasa sepakat bersama (misalnya selama 21 hari). Bentuklah kompak di dalam komsel dan praktikkan agenda kompak/komsel yang akan menghasilkan buah dan bermultiplikasi.

2. Berbuah dan berlipat ganda melalui kompak

Dengan momentum 50 hari tersebut, kita tentu mendapatkan kuasa pertumbuhan yang sangat luar biasa. Karena itu, kita harus melanjutkan momentum itu menjadi kegerakan pelipatgandaan. Bagaimana caranya dan apa kuncinya? Kuncinya adalah membuat setiap kompak merintis komsel, dan komsel-komsel rintisan itu kemudian membentuk kompak-kompak baru yang selanjutnya merintis komsel lagi, dst. Mari, dengan cara sederhana yang membutuhkan kesetiaan ini, kita menjadi ekklesia yang sepakat bergerak menghadirkan Kerajaan Allah.

2019-10-17T12:27:49+07:00