///Berkarier (atau) dan Melayani Tuhan?

Berkarier (atau) dan Melayani Tuhan?

Banyak orang Kristen menganggap melayani Tuhan sebagai kegiatan yang dilakukan di lingkungan program gereja saja, baik yang berupa kegiatan-kegiatan pendukung acara ibadah atau pembelajaran di gedung gereja atau berkelompok bersama komunitas sesama anggota jemaat maupun yang berupa kegiatan-kegiatan proyek misi ke lokasi-lokasi atau komunitas-komunitas sasaran. Salahkah anggapan ini? Bagaimana dengan orang-orang Kristen yang lebih berkecimpung di dunia karier/pekerjaan, tanpa terlibat langsung di dalam kegiatan-kegiatan program gereja itu; apakah mereka perlu didorong untuk melayani Tuhan?

Mari kita lihat paradigmanya dan renungkan kembali berdasarkan perspektif Alkitab.

 

Paradigma yang Salah: Pemisahan kerja/usaha vs. pelayanan

Paradigma yang telanjur mengakar bahwa berkarier atau bekerja adalah berbeda dari melayani Tuhan muncul sejak ratusan tahun yang lalu. Banyak sekali pemimpin Kristen, anggota jemaat Kristen, serta lembaga agama Kristen selama bertahun-tahun memandang dunia kerja/profesi pelayanan kepada Tuhan sebagai dua entitas yang terpisah. Akibatnya, banyak yang percaya bahwa pelayanan kepada Tuhan hanya terjadi di dalam gedung gereja, saat hari Minggu, ketika melakukan proyek misi, atau saat aktif sebagai petugas pendukung acara gereja; di sisi lain, usaha atau pekerjaan mereka sehari-hari di dunia kerja/profesi bukanlah suatu pelayanan dan “hanya” merupakan aktivitas mencari nafkah untuk kebutuhan hidup. Salah satu efek samping dari perspektif yang dikotomis ini ialah kegiatan-kegiatan yang mengandung konteks keagamaan/gereja (“melayani Tuhan”) dipandang “lebih mulia” daripada kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk kegiatan usaha atau pekerjaan.

 

Berbagai pemikiran yang melatarbelakangi paradigma yang salah tentang dunia kerja/profesi dan dunia pelayanan dalam gereja ialah antara lain:

  • Tuhan telah menetapkan pemisahan fungsi antara masyarakat awam dan pelayan Tuhan penuh waktu;
  • Tuhan memanggil jemaat-Nya untuk berfokus pada pelayanan di dalam lembaga/program gereja;
  • Para pekerja dan pelayan penuh waktu, yang berfokus bekerja di lingkungan gereja, tentu lebih rohani dibandingkan mereka yang berkiprah di dunia kerja/profesi;
  • Peran utama orang Kristen di dunia kerja/profesi adalah mencari uang, yang lalu tujuannya adalah disalurkan sebagai dukungan material/finansial untuk pelayanan kepada Tuhan (termasuk untuk kegiatan dan program gereja serta untuk kebutuhan para pekerja dan pelayan penuh waktu di gereja).

 

Paradigma dikotomis ini lahir pada awalnya karena paham filsafat Yunani tentang pemisahan hal-hal yang kudus dan hal-hal yang sekuler. Pemisahan ini salah, karena mengkotak-kotakkan hidup kita sebagai anak Tuhan. Sementara Tuhan menciptakan setiap manusia dengan seperangkat talenta serta kekuatan yang unik untuk kita berkarya dan memuliakan Dia di bidang masing-masing, paradigma ini justru memisah-misahkan kehidupan kerja/usaha, kehidupan keluarga, dan kehidupan spiritual kita dengan ruang lingkup masing-masing sesuai dengan pengertian kita yang sempit. Pembahasan yang lebih lengkap mengenai hal ini dapat kita baca dalam buku tulisan seorang hamba Tuhan yang secara khusus memberi perhatian pada pentingnya transformasi segala bidang oleh Kerajaan Allah, Ed Silvoso, yang berjudul Anointed for Business (Chosen Books, 2009) (versi bahasa Indonesianya berjudul Diurapi untuk Berbisnis, terbitan Nafiri Gabriel).

 

 

Paradigma yang Benar dan Alkitabiah: Segala sesuatu adalah dari, oleh, dan kepada Tuhan

 Kebenaran Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab sebenarnya jelas, yaitu bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki Kristus dan harga pendamaiannya telah dibayar lunas melalui pengorbanan Kristus sampai mati di salib. Dengan demikian, segala sesuatu adalah dari Tuhan, oleh Tuhan, dan kepada Tuhan; untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya semaksimal mungkin dan selama-lamanya. Kebenaran tentang segala sesuatu ini tentu termasuk setiap pekerjaan/usaha yang ada di dunia kerja/profesi serta pekerjaan/usaha kita masing-masing.

 

Kebenaran ini juga didukung oleh berbagai bukti dan contoh lain di dalam Alkitab:

1.Tuhan menciptakan kita masing-masing secara unik untuk ditempatkan sesuai rencana-Nya di bidang/domain masing-masing.

Tuhan telah menciptakan setiap manusia secara khusus dan sesuai dengan gambaran diri-Nya sendiri. Setiap manusia diberi-Nya perpaduan unik dari talenta, karakteristik, kepribadian, hasrat, dan kemampuan yang hanya dimiliki oleh dia, tidak bisa disamai oleh seorang manusia lain mana pun. Mengapa demikian? Tuhan menciptakan kita dengan segala keunikan itu untuk menempatkan kita di bidang kita masing-masing agar kita menjadi tepat dan maksimal di bidang itu. Apakah bidang itu? Itulah dunia kerja dan profesi kita masing-masing. Kita bukan saja dipercaya untuk berkarya di situ, tetapi juga sejak awal diciptakan untuk menjadi maksimal di situ. Tuhan memanggil kita ke bidang pilihan-Nya bagi kita dan memberikan kasih karunia serta kemampuan yang kita perlukan untuk maksimal berkarya dalam tanggung  jawab unik yang hanya dapat kita selesaikan sendiri.

2. Yesus sendiri hidup di bumi di tengah-tengah dunia kerja/profesi, bukan sepenuh waktu di rumah ibadah.

Kehidupan Yesus saat di bumi sebagai Manusia dipenuhi oleh interaksi dengan orang-orang di dunia kerja/profesi. Dia dilahirkan di kandang hewan karena kemurahan hati pemilik penginapan yang meminjamkan ruang kandang itu meski kamar-kamar yang ada telah penuh, dan tiga orang Majus yang merupakan para “pembesuk” pertama-Nya adalah karyawan dan pemilik usaha kecil. Yesus memiliki ayah seorang tukang kayu: Yusuf. Yesus belajar membuat perkakas dan perabot dari kayu, bertukang, serta berdagang hasil karya dari kayu itu untuk mencari nafkah. Injil Matius dan Markus jelas menyebut Yesus anak tukang kayu, bukan pemuka agama atau sejenisnya. Yesus berpengetahuan luas dan suka belajar melalui interaksi akrab dengan orang-orang yang Dia temui. Yesus makan bersama orang-orang dari berbagai latar belakang di pasar, bahkan sengaja merekrut orang-orang “pasar” yaitu para nelayan (bukan para pemagang di rumah ibadah, misalnya) sebagai murid-murid-Nya. Yesus membangun komunitas jemaat, Gereja-Nya, dari kumpulan orang-orang “pasar” ini, bukan dari organisasi atau komunitas keagamaan mana pun. Yesus mengajar segala macam orang tentang Kerajaan Allah, di mana saja (di tepi danau, di atas perahu, di pasar, di bukit, di pinggir kolam pemandian, di pinggir sumur, …), bukan hanya di dalam pertemuan rutin di bait Allah. Kitab-kitab Injil di Alkitab penuh dengan kisah-kisah karya pelayanan Yesus ini, yang meski tidak disebut langsung secara spesifik, bisa jadi dibiayai-Nya dari hasil kerja-Nya sebagai tukang kayu bersama bisnis keluarga milik Yusuf, ayah-Nya. Hidup Yesus adalah contoh yang paling baik bahwa Dia bergerak di dunia kerja/profesi, di tengah-tengah masyarakat, bukan berdiam diri terus di rumah ibadah demi “melayani Tuhan”. Yesus menjalankan misi Bapa-Nya tanpa melabeli dirinya dengan status jabatan formal apa pun.

 

3. Yesus juga berjejaring dan memuridkan orang-orang di dunia kerja/profesi.

Murid-murid yang pertama sekali didatangi Yesus berasal dari golongan profesi nelayan:  Simon, Andreas, Yakobus (Mat. 4:21-22). Padahal, menurut budaya yang berlaku, Yesus sendiri berprofesi sebagai tukang kayu. Inilah model jejaring yang bersifat lintas bidang. Yesus tidak hanya berkutat di bidang pertukangan kayu tanpa tahu apa-apa di bidang lain, tetapi justru menjangkau ke bidang-bidang profesi lainnya dan membangun hubungan dengan orang-orang berpotensi dari berbagai bidang itu. Murid-murid Yesus lainnya serta orang-orang lain yang Yesus panggil dan berikan pengajaran pun punya latar belakang profesi yang berbeda-beda pula. Yesus juga memanggil Matius dari golongan profesi petugas  perpajakan (Mat. 9:9), demikian pula Zakeus, Natanael dari bisnis pertanian pada saat dia sedang berada di atas pohon (Yoh. 1:48), dan banyak lagi lainnya. Kita patut belajar bahwa para murid Yesus tidak berlatar belakang pendeta atau pemuka agama yang berprofesi penuh waktu di rumah ibadah. Apa maksudnya? Yesus siap berjejaring dan memuridkan orang-orang di dunia kerja/profesi, dengan maksud untuk memperluas Kerajaan Allah di seluruh bumi, tanpa terbatasi oleh kegiatan formal atau program keagamaan. Murid-murid Yesus hidup dan beraktivitas di luar gedung, bukan tinggal di dalam sinagoga. Mereka melayani Tuhan dan masyarakat lewat kehidupan di luar konteks kegamaan itu.

 

4. Kita semua diberi kuasa untuk membawa pengaruh Kerajaan Allah di dunia kerja/profesi.

Pekerjaan kita adalah kepercayaan yang merupakan anugerah dari Tuhan. Karenanya, belajarlah untuk menyadari bahwa pekerjaan kita itu penting dan berharga, apa pun jenis dan bidangnya. Idealnya, tentu kita ingin bekerja di lingkungan yang kita sukai dan jenis pekerjaan yang ringan serta menyenangkan, tetapi sayangnya kenyataan tidak selalu demikian. Apakah ini berarti Tuhan salah menempatkan diri kita? Sangat belum tentu. Renungkan kembali dengan jujur di hadapan Tuhan tentang tuntunan-Nya atas diri kita dalam perjalanan bekerja atau berusaha; bukankah jelas bahwa Dia telah bekerja dalam segala sesuatunya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sesuai dengan rencana-Nya? Apa pun sumber daya yang kita miliki, Tuhan menempatkan kita di bidang tertentu dan memberi kita kuasa dengan suatu tujuan yang jelas, yaitu semaksimal mungkin membawa pengaruh Kerajaan Allah bagi lingkungan kerja/profesi kita.

 

5. Pelayanan kepada Tuhan harus dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja.

Kejadian 1:28 sangat jelas menyatakan bahwa kita masing-masing diberi mandat untuk mengelola dan melipatgandakan berbagai sumber daya yang dipercayakan. Artinya, setiap orang harus mengelola apa pun yang Tuhan percayakan sebagai sebuah pelayanan kepada Dia. Telah lama Iblis berusaha membangun kerajaannya dengan merusak paradigma yang telah Allah tetapkan, dengan membeda-bedakan kehidupan pelayanan kepada Tuhan dengan dunia kerja/profesi dan kehidupan di masyarakat. Aktivitas pelayanan kepada Tuhan dikhususkan untuk hanya dilakukan di dalam lingkungan atau program gereja. Padahal, Allah menghendaki agar Kerajaan-Nya diperluas di segala bidang dan di seluruh bumi. Kebangunan rohani seharusnya tidak terjadi sebatas lingkup lingkungan atau program gereja. Pertobatan hati setiap orang yang belum mengenal Kristus dan kebangunan rohani harus menjadi misi yang dikerjakan dalam setiap bidang pekerjaan/profesi dan seluruh aspek kehidupan manusia. Misi ini bersifat universal dan tidak ada sekat. Siapa yang harus mengerjakannya? Siapa saja yang sudah menjadi orang percaya, warga Kerajaan Allah. Para pelaku misi Kerajaan Allah seharusnya bukanlah orang-orang yang memiliki label sebagai pendeta atau penginjil semata, melainkan kita semua di bidang profesi kita masing-masing: pelaku bisnis, guru, dokter, atlet, politikus, seniman, akuntan, penulis, dan semua profesi lainnya. Semua harus terlibat di dalam pekerjaan Allah dan melakukannya setiap hari. Inilah pelayanan nyata yang membawa perubahan atmosfer dan penjangkauan jiwa-jiwa bagi Kristus.

 

6. Kita semua yang berkarier/bekerja adalah penggerak pelayanan di dunia kerja/profesi.

Penempatan orang-orang cakap yang punya keunikan dan keunggulan masing-masing di setiap bidang profesi oleh Tuhan akan menggerakkan dinamika kehidupan profesi itu beserta orang-orang di dalamnya menurut cara dan prinsip Kerajaan Allah. Inilah yang semestinya kita lakukan di dalam profesi kita masing-masing, dan yang sudah dilakukan oleh banyak tokoh yang tercatat di dalam Alkitab. Beberapa contoh yang bisa kita pelajari dan teladani dalam hal menjadi penggerak pelayanan di tengah-tengah masyarakat dan di dunia kerja/profesi adalah: Lidia, seorang pengusaha dan pedagang kain ungu yang kaya dan memiliki rumah di Filipi dan di Tiatira, yang lalu menjadi petobat pertama di wilayah Eropa (Kis. 16:14); Dorkas, seorang perancang dan penjahit busana yang telah banyak memberikan hasil karya di tengah-tengah komunitas masyarakatnya, serta rajin beramal bagi kebutuhan lingkungannya melalui karya busananya (Kis. 9:36);  pasutri Akwila dan Priskila, yang memiliki bisnis pembuatan tenda dan mungkin bahkan bermitra dalam profesi ini dengan Rasul Paulus (Kis. 18:3); sida-sida (pejabat tinggi) Etiopia yang dikenal sebagai sang kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu Etiopia, yang mengalami pencerahan iman lalu dibaptis melalui pelayanan Filipus oleh tuntunan malaikat Tuhan (Kis. 8:27); serta Erastus, bendahara kota yang melalui pelayanannya Theofilus, seorang pejabat pemerintahan, dimenangkan bagi Kristus (Roma 16:23). Mereka semua ini adalah tokoh-tokoh pelayan Tuhan yang maksimal berdampak bagi Kerajaan Allah, yang tidak berasal dari latar belakang profesi keagamaan. Mereka adalah orang-orang profesional yang hidup di tengah-tengah masyarakat umum, dan melayani Tuhan lewat kehidupan itu.

 

Kesimpulan

Tuhan adalah Allah Mahakuasa, yang telah menciptakan alam semesta beserta segala isinya dan berdaulat atas segala ciptaan-Nya itu. Tuhan pulalah yang menciptakan manusia, yang diberi mandat dalam mengelola dan melipatgandakan sumber daya yang dipercayakan kepada kita melalui bidang profesi/usaha kita masing-masing. Tuhan telah memberi kita anugerah dalam bentuk talenta dan kemampuan untuk bisa menjalankan mandat ini di bumi. Melalui Roh Kudus, Tuhan menguatkan dan menolong kita untuk bisa menjadi terang dan garam di mana pun, termasuk di dunia kerja/profesi kita, yang masing banyak berisi orang-orang yang belum mengenal Kristus. Kita seharusnya menjadi duta besar Kristus di tengah-tengah masyarakat untuk membawa obor terang Kerajaan Allah di tengah-tengah kerajaan gelap di dunia kerja/profesi.

2022-04-27T13:34:27+07:00