//Bersama Dia, Selalu Bersama

Bersama Dia, Selalu Bersama

Willow lahir di tengah-tengah sebuah keluarga Kristen yang terbiasa menaati Firman Tuhan. Sejak kecil, dia sering pergi ke sekolah minggu, dan orang tuanya pun kadang membacakan cerita-cerita Alkitab untuknya sebelum tidur malam. Keadaan di rumahnya pun baik-baik saja, tak ada keributan atau masalah yang terlalu berarti. Mungkin satu-satunya hal yang kadang membuat hati Willow sedih adalah orang tua yang cukup sibuk dengan pekerjaan sehingga jarang berada di rumah. Willow ingat, sebagai anak tunggal, dia sering merasa kesepian di rumah dan selalu ingin bersama-sama dengan orang-orang yang menyayanginya. Saat beranjak remaja, Willow mulai mengikuti berbagai kegiatan pelayanan di gereja, di komunitas anak lalu komunitas remaja, dengan motivasi agar makin dikenal dan “eksis” di kalangannya. Willow pun nyaris tak pernah absen dan rajin dalam pelayanan apa pun yang ditugaskan kepadanya, sehingga dia perlahan-lahan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya makin banyak. Tidak hanya di gereja, di sekolah pun Willow juga aktif dan berprestasi, termasuk dalam berbagai kegiatan organisasi. Pada tahun pertamanya di SMA, kesibukan Willow sudah menyerupai kesibukan kedua orang tuanya: Willow hampir selalu pulang malam setiap harinya. Orang tuanya pun tidak mempermasalahkan hal ini, karena kegiatan dan prestasi Willow menunjukkan bahwa dia “baik-baik saja”… Di hari-hari tersibuknya, Willow sendiri pun lupa untuk merasa kesepian, karena sepanjang hari dia selalu dikelilingi orang-orang yang menyukai dan mencari-cari dirinya dalam berbagai kegiatan.

Namun, seperti para remaja pada umumnya, Willow pun mulai mempertanyakan eksistensinya dan tujuan hidupnya. Kegiatan-kegiatan di gereja dan di sekolah akhirnya terasa tidak menyenangkan lagi, tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di hatinya. Aku ini siapa? Apa artinya diriku dan hidupku? Akan jadi orang dewasa yang bagaimana aku kelak? Adakah orang yang sungguh-sungguh menyayangiku dan selalu setia di sisiku? Banyak sekali pertanyaannya, dan semuanya makin keras menggedor-gedor hati Willow ketika dia beristirahat malam, setelah semua kegiatannya berakhir…

Perkenalan dengan sepupu seorang temannya membawa Willow mencoba mencari jawaban atas banyak pertanyaannya itu dengan cara yang berbeda. Lewat kesenangan baru di acara kumpul-kumpul, minum-minum, hangout, clubbing, Willow mulai mengeksplorasi hal-hal baru yang diharapkannya membuat hatinya nyaman. Tanpa disadari, Willow makin jauh terjerumus di dalam pergaulan yang buruk, bahkan dia meninggalkan lingkungan lamanya: teman-teman dan kegiatan di gereja maupun di organisasi sekolah. Untuk menjaga posisinya agar tetap disenangi di pergaulan barunya, Willow rela menghabiskan banyak uang dan mengikuti budaya berfoya-foya yang mereka biasa lakukan. Willow sendiri memang belum memiliki penghasilan, tetapi dia jadi sering meminta uang saku tambahan dari orang tua. Suatu saat, orang tua Willow yang curiga dan kewalahan dengan permintaan-permintaan itu menyetop pemberian uang tambahan, sehingga Willow mulai berutang kepada beberapa temannya.

Dalam sekejap, utang Willow makin banyak dan teman-temannya makin gencar menagih sekaligus menghina dirinya. Dia bingung harus melunasi semua utang itu dengan apa, sampai akhirnya memilih untuk mencuri uang orang tuanya di rumah. Bahkan, pernah beberapa kali Willow mencuri barang berharga seperti arloji papanya dan kalung mamanya, untuk dijadikan bayaran pelunas utang. Willow yang awalnya “hanya” kesepian dan ingin mencari tujuan hidup, jadi terpuruk tanpa mampu keluar dari jurang masalah. Bercerita kepada orang tuanya pun terasa bukan solusi yang tepat… Bagaimana reaksi mereka nanti kalau mendengar Willow melakukan semua itu?

Kebingungan dan merasa hidupnya gagal total, Willow suatu hari kembali datang ke gereja setelah sekian lama “kabur”. Tanpa mengerti harus berekspektasi apa, Willow diam-diam duduk di barisan belakang dan mendengarkan Firman Tuhan yang dikhotbahkan. Rupanya, setelah khotbah selesai, seorang pembina mendekatinya dan mendoakan dirinya. Di momen itulah, Willow mengalami Tuhan yang mengerti hatinya, yang tidak pernah berhenti menyayanginya dan selalu bersamanya. Perjumpaan pribadi untuk pertama kalinya dengan Tuhan itu membawa Willow menyerahkan dirinya untuk mengikut Dia, Tuhan dan Juru Selamat yang mengasihinya tanpa syarat.

Singkat cerita, sejak saat itu, hidup Willow perlahan-lahan diubahkan. Willow kembali ke pergaulan yang mendukung pertumbuhan rohaninya. Oleh kasih karunia Tuhan dan dengan dukungan teman-temannya di komunitas sel, Willow berhasil membereskan semua masalahnya satu per satu. Dia memperbaiki hubungan dengan orang tua sekaligus mengakui perbuatannya semasa “tersesat”, belajar  mengenal dirinya yang unik di dalam rancangan Tuhan, bahkan menemukan tujuan hidup yang selama ini dicari-cari. Semua jawaban ternyata ada di dalam Tuhan. Pergumulan hidup memang masih ada, apalagi kadang ada saja teman lama yang mengajaknya kembali ke kesenangan masa lalu, tetapi bersama teman-temannya kini, Willow terus saling mendukung dan memberikan semangat dalam langkah-langkah perjalanan rohani mereka. “Willow yang baru” mudah bersukacita dan bersyukur, tidak lagi mudah bersedih atau kesepian. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun… dan Willow makin dewasa, baik secara usia jasmani maupun kedewasaan rohaninya. Kini, Willow telah bekerja di bidang profesi yang sesuai impiannya, dan dipercaya menjadi salah satu pembina senior di tim inti kepemimpinan jemaat kaum muda di gereja. Kesehariannya kini penuh dengan kesibukan bekerja serta mendampingi remaja-remaja yang sedang meniti jalan hidupnya, sekaligus penuh dengan sukacita dan keindahan dari Tuhan. Melewati seluruh prosesnya, lambat laun, Willow mulai mengerti gambaran besar perjalanannya hidup bersama dengan Tuhan.

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” (1 Yoh. 2:12-15)

Dulu, Willow bagaikan anak kecil. Di dalam hatinya, dia hanya merindukan dikasihi dan diterima. Dia mencari kasih dan penerimaan itu di sana-sini, tanpa mampu mengkomunikasikan kerinduan itu kepada orang-orang yang tepat: orang tuanya sendiri, dan Tuhan. Willow mencari jawaban akan kerinduannya di tempat-tempat dan dari orang-orang yang salah, menutupinya dengan kesibukan, kebanggaan, atau prestasi, dan sikap yang seakan-akan dirinya dan semua tentangnya baik-baik saja.  Sampai segala usahanya itu gagal dan dia runtuh terpuruk tanpa menerima kasih dan penerimaan yang sejati. Baru ketika berjumpa sendiri dengan Tuhanlah Willow mengalami jawaban yang sejati. Ada pribadi yang penuh kasih yang selalu hadir dalam setiap hal yang dia lakukan dan paling mengenal kedalaman hatinya. Saat Willow menerima Tuhan Yesus di dalam hatinya, dia mengalami kasih sejati itu. Tahun-tahunnya sebagai anak di dalam keluarga Kristen, sebagai remaja yang aktif di kegiatan gereja, sama sekali tidak dapat menggantikan pengalaman dan hubungan pribadinya bersama Tuhan.  Willow dilahirkan kembali, menjadi Willow yang baru. Hatinya menjadi baru, kerinduannya menjadi baru, dan pikiran serta perasaannya pun menjadi baru.

Selangkah demi selangkah, Willow mulai berjalan dalam pertumbuhan rohaninya. Dia belajar untuk lebih mengenal Tuhan sebagai Bapanya lewat perenungan Firman sehari-hari. Dengan dukungan teman-teman di komunitas barunya, dia juga makin terbiasa untuk hidup sesuai tuntunan Firman Bapa yang dia renungkan itu. Willow bahkan bersemangat untuk mengajak teman-temannya di luar sana untuk mengenal Bapa juga, termasuk membagikan indahnya pengalamannya hidup bersama Dia: emosinya yang dulu labil, keputusan-keputusannya yang salah di masa lalu, terpuruk dan kehilangan arah hidup, bergaul dengan komunitas yang buruk, bertemu dengan kasih Tuhan… Tak terasa, Willow makin kuat mengalahkan kegelapan yang dulu menguasai hidupnya.

Hari ini, bukan saja Willow bersyukur saat melihat kehidupannya yang baru, orang-orang di sekitarnya pun merasakan perubahan Willow yang luar biasa. Willow yang sekarang tidak hanya sibuk, melainkan sibuk menikmati kehidupannya bersama Tuhan. Kalau dulu fokus perhatiannya adalah mengobati kesepian hatinya sendiri, sekarang Willow tenang dan bersukacita karena tahu Tuhan dan kasih-Nya selalu bersamanya. Kalau dulu Willow mencari kesibukan demi melupakan kesepian hatinya itu sesaat, sekarang Willow rajin berkarya dengan talenta yang Tuhan berikan serta menjadi berkat dengan menolong “adik-adik” remajanya di gereja yang sedang mencari arah hidup. Willow bukan lagi orang Kristen yang kekanak-kanakan; Willow telah menjadi makin dewasa secara rohani. Fokus hidupnya kini adalah menjadi makin serupa dengan Kristus, sekaligus menjadi berkat untuk sesama.

Bagaimana dengan kamu dan aku? Sudahkah kita mengalami proses seperti yang Willow alami dalam tahun-tahun kehidupannya? Hidup bersama Tuhan berarti Dia bersama kita selalu. Senantiasa. Dan, itulah kehidupan yang tak pernah berhenti bertumbuh yang Dia rancangkan bagi kita, sampai kelak kita menjadi serupa dengan Dia.

2022-06-28T09:31:34+07:00