//Bertahan sampai Kesudahan

Bertahan sampai Kesudahan

…dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

 

Saya membaca Alkitab pada bagian yang terkesan meresahkan ini di tengah-tengah situasi wabah penyakit yang melanda seluruh dunia. Covid-19. Corona Virus Disease 2019. Penyakit akibat virus Corona yang baru ditemukan pada tahun 2019. Sampai saat saya menulis artikel pendek ini, total hampir satu juta jiwa manusia di ratusan negara telah terkonfirmasi positif terserang virus yang vaksinnya belum ada ini, dengan hampir 50 ribu jiwa di antaranya meninggal dunia, selain hampir 200 ribu jiwa yang dinyatakan sembuh.* Begitu banyak orang lainnya, yang tidak secara langsung terserang oleh virus ini, menjadi ketakutan, khawatir, cemas, dan kehilangan arah. Mereka yang demikian melakukan berbagai hal yang berangkat dari kepanikan: berbelanja berbagai keperluan hidup secara berlebihan, menjaga kebersihan diri dan benda-benda secara berlebihan, dan meningkatkan kekebalan tubuh secara berlebihan pula. Di sisi lain, ada pula sebagian orang yang justru memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan pribadi tanpa peduli hati nurani. Ditambah dengan keluarga-keluarga yang terpaksa berdiam bersama di rumah saja padahal terbiasa sibuk beraktivitas masing-masing tanpa banyak saling berinteraksi, rumah-rumah sakit dan tenaga medis yang makin kewalahan, pemerintah yang berpacu dengan waktu mengatasi wabah sambil menjaga keamanan ekonomi negara, serta bisnis-bisnis yang mulai megap-megap karena terpaksa berhenti beroperasi demi mencegah penyebaran virus lebih lanjut, situasi menjadi lebih-lebih menegangkan bagi kebanyakan orang. Apalagi, tak ada yang tahu pasti kapan wabah ini akan berakhir. Suram.

 

Mungkin, kita yang saat ini sedang membaca artikel ini pun turut merasa resah dan suram. Bahkan, mungkin pula ada di antara kita yang terdampak langsung karena diri kita atau orang terkasih kita terserang virus Covid-19. Haruskah, perlukah, kita menyerah dan tenggelam dalam keresahan dan kesuraman ini? Sampai kapan?

 

Ada banyak pertanyaan yang tak kita ketahui jawabannya, dan ada banyak masalah yang tak kita kuasai solusinya. Namun, kita tahu bahwa Tuhan kita, Yesus Kristus, ada dan hidup. Saat ini, mari kita datang kepada-Nya dan mendengar suara tuntunan-Nya di dalam Firman.

 

Bagian Alkitab yang dikutip di awal artikel ini ialah Matius 24:3-14, yang berisi penjelasan Yesus sendiri tentang apa saja yang akan terjadi di akhir zaman, yaitu masa hidup kita sekarang ini. Ada berbagai kesesatan. Ada perang di mana-mana. Ada penderitaan yang berat. Ada wabah penyakit. Ada bermacam-macam bencana. Ada perkelahian dan pertentangan. Bahkan, ayat tepat sebelum kutipan itu (ayat 9) menyatakan, “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku…” Semua inilah yang Yesus paparkan dengan tegas kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapinya, dan karena kita pun adalah murid-Nya, penjelasan ini juga ditujukan bagi kita. Sejak Dia hidup sebagai manusia di bumi, Dia telah mempersiapkan kita semua dengan penjelasan-Nya ini.

 

Dalam perjalanan kekristenan, kita sering tanpa sadar meyakini bahwa segala yang buruk tak akan menimpa kita. Karena kita orang Kristen. Karena kita orang beriman. Karena Tuhan mengasihi kita. Saat ini pun, “walau seribu orang rebah di sisi kiri kita dan sepuluh ribu rebah di sisi kanan kita, kita akan tetap aman sambil hanya menyaksikan semuanya”. Benarkah demikian? Lalu, bagaimana dengan semua “kabar buruk” yang Yesus jelaskan ini?

 

Perhatikan kembali baik-baik bahwa penjelasan Yesus ini ialah untuk murid-murid-Nya. Untuk kita. Yesus memang tidak pernah merancang celaka bagi kita, tetapi “kamu” yang dimaksud Yesus dalam penjelasan-Nya itu ialah kita, dan segala situasi kesukaran dan penderitaan itu akan menjadi pengalaman kita pula. Namun, penyesatan akan dilakukan oleh “banyak orang”, perang akan dilakukan oleh “bangsa melawan bangsa” dan “kerajaan melawan kerajaan”, yang akan murtad serta durhaka ialah “banyak orang”, dan kasih yang menjadi dingin ialah kasih “kebanyakan orang”. Yesus menjelaskan semua hal ini kepada kita, tetapi Dia tidak pernah merancangkan kita untuk ikut tersesat dan menyesatkan, ikut berperang, ikut murtad dan durhaka, atau ikut dingin di dalam kasih. Yang Yesus rancangkan bagi kita, murid-murid-Nya, ialah “bertahan sampai kesudahannya” dan “selamat” (ayat 13). Kita akan melihat “…Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (ayat 14). Apakah ujung dari kesudahan itu? Seperti yang kita bisa baca di kitab Wahyu tentang akhir dari segalanya (Why. 22:3-5), “Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Bukan hanya seluruh bumi mendengar berita Injil Kerajaan-Nya, tetapi juga betapa mulianya akhir yang tersedia bagi kita!

 

Saat ini, ketika kita masih hidup di tengah-tengah berlangsungnya akhir zaman dengan segala hal yang meresahkan dan suram bagi banyak orang, biarlah hati kita bersyukur untuk akhir yang sempurna yang telah Tuhan jamin bagi kita kelak itu. Lalu sambil mengucap syukur, mari lakukan bagian kita sebagai orang-orang yang bertahan sampai kesudahan. Ingat, Yesus bukan hanya menjelaskan akhir zaman; Dia juga telah memberi prinsip yang jelas sebagai tuntunan utama kita selama hidup di dunia ini: bahwa kita harus mengasihi Dia, Allah kita, dengan segenap hati-jiwa-akal budi-kekuatan kita, dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri.

 

Sesukar-sukarnya masa ini, kita tak perlu dan tak boleh berhenti mengasihi. Dalam masa wabah Covid-19 ini, mari giatkan diri untuk makin mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaan kita. Perbanyak berinteraksi dengan-Nya, dengarkan suara-Nya, nikmati kehadiran-Nya, pelajari kehendak-Nya, pahami isi hati-Nya. Kemudian, sambil melangkah bijak dan bertanggung jawab agar tidak memperluas penyebaran virus, mari berlomba-lomba untuk makin mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Doakan pemerintah dan seluruh tenaga medis. Perhatikan yang terabaikan, beri kepada yang kekurangan, kuatkan yang lemah, dan sapa yang kesepian. Kasih, kasih, kasih. Inilah yang akan membawa kita bertahan kuat sampai kesudahan segala sesuatu. Sampai bersama semua murid-Nya yang juga bertahan kuat, kita tiba pada akhir yang mulia itu.

 

*Sumber: Data WHO yang dipublikasikan oleh media daring The Guardian, International Edition, 2 April 2020 (https://www.theguardian.com/world/2020/apr/01/coronavirus-world-map-countries-most-cases-and-deaths)

2020-04-26T17:17:47+07:00