//Bertumbuh sebagai Anak

Bertumbuh sebagai Anak

Ada satu keluarga yang menarik perhatianku di gereja. Keluarga itu adalah keluarga Ben, teman komselku sendiri. Setiap minggu, mereka terlihat sangat harmonis, benar-benar menjadi gambaran keluarga yang ideal. Baru-baru ini, Ben dibaptis di gereja oleh ayahnya sendiri. Sungguh anak yang beruntung! Namun, siapa sangka proses yang membawanya ke tahap tersebut merupakan pengalaman iman yang luar biasa dahsyat!

Aku masih ingat saat suatu kali Ben bercerita padaku…

 

“Haduh, aku benci banget kalo di rumah. Bawaannya tuh gak damai banget, beda kalau di sekolah atau di gereja. Orang rumah pada ngeselin semua pokoknya.”

Aku baru tahu, ternyata, apa yang terlihat selama ini di gereja tak sama dengan apa yang terjadi di rumahnya. Ben bercerita bahwa dia sering kali bertengkar dengan ayahnya. Ayahnya egois, tidak peduli perasaan dan kepentingan anaknya, pemarah, suka berkata kasar, dan macam-macam lagi. Hal itu menimbulkan rasa pahit di dalam hati Ben. Ben jadi tidak suka berada di rumah; dia lebih suka pergi bersama teman-temannya hingga larut malam. Semakin hari kondisi keluarga Ben semakin berantakan. Tidak ada damai, sukacita, apalagi kasih. Bahkan, Ben jadi memiliki gambaran yang salah mengenai sosok bapa. Hal itu mengakibatkan Ben tumbuh tanpa kasih sayang di tengah-tengah keluarganya. Dia pun berusaha mencari kasih, kepuasan, dan penerimaan di luar rumah. Lambat laun, dia mulai terikat pada gaya hidup yang salah, berkata kasar, pornografi, merokok, dan lain-lain.

“Tapi, aku bener-bener bersyukur bisa kenal Yesus. Kalau bukan karena Yesus, gak bakalan aku bisa sampai di titik ini!”

Ini merupakan kalimat-kalimat kesaksian Ben yang dia katakan tepat sebelum dibaptis. Terkesan sederhana memang, tetapi di baliknya ada proses panjang yang mengesankan! Yup, akulah orang yang mengajak Ben untuk mengenal kasih yang sesungguhnya itu. Sebagai teman komsel, tentu saja aku jadi memberi perhatian khusus terhadap kondisi Ben setelah mendengar curhat Ben tentang keluarganya. Apalagi, aku lalu mengetahui Ben malah mulai terjerumus pada gaya hidup yang tidak benar. Sambil terus berdoa, aku pun memanfaatkan kesempatan yang baik, yaitu saat Ben mulai terbuka menceritakan kondisi hidupnya yang membuatnya sendiri lelah serta putus asa.

“Kamu tau gak, kalau kamu masih diberi kesempatan hidup sampai sekarang ini, itu artinya ada Pribadi yang sayang banget sama kamu, dan masih terus berjuang untuk hidupmu!”

“Hah… Maksud kamu Tuhan Yesus? Aku ini udah terlalu hina buat diampuni sama Dia lagi. Dia ga akan mau nerima orang berdosa kayak aku.”

 Guys, apakah kalian juga pernah mengalami hal yang sama seperti Ben? Pernah mengucapkan kalimat seperti yang Ben ucapkan ini dalam obrolan dengan kakak pembinamu atau pemimpin komselmu? Kalau ya, kamu tidak sendiri. Banyak orang lain pernah mengalaminya juga!

 

1 Yohanes 2:12 berkata, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.” Inilah kebenaran mendasar yang sangat perlu untuk kita pahami sebagai anak Tuhan. Sebanyak apa pun dosa yang sudah kita perbuat, saat kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi, semua dosa itu telah dihapuskan dan tidak diingat lagi. Kita telah dijadikan orang benar di dalam Dia! Bahkan pembenaran itu berlaku bukan hanya atas dosa-dosa kita yang dahulu, tetapi juga dosa yang kita perbuat sekarang, maupun dosa yang akan kita perbuat di kemudian hari. Kita telah menjadi orang yang benar oleh karena Kristus. Banyak di antara kita yang sering merasa tidak layak untuk datang kembali pada Yesus karena dosa-dosa kita. Padahal, kebenarannya adalah kita telah dilayakkan untuk bersekutu dengan-Nya, dan semua dosa kita telah diampuni.

 

Jaminan pembenaran itu dibuktikan dengan jelas pada 1 Yohanes 1:9, yang juga menjanjikan proses penyucian atas kita, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Dia adalah setia dan adil, sehingga Dia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Ini bukan berarti suatu kesempatan untuk kita untuk terus-menerus berbuat dosa, karena semua dosa sudah diampuni… Jangan salah paham ya, guys! Ketika kita sudah memutuskan untuk menerima dan mengikut Yesus, kita seharusnya belajar mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya dalam hidup kita dan menaatinya. Lagipula, tertulis di dalam Firman-Nya bahwa Dia menyucikan kita dari segala kejahatan. Artinya, kita telah bebas dari dosa, dan dosa tidak bisa mengikat kita lagi, karena persekutuan dengan Tuhan akan menjadi proses yang menjadikan kita makin lama makin suci.

 

Setelah kita memahami bahwa segala dosa kita telah diampuni, kita juga harus sadar siapa diri kita yang sebenarnya.

1 Yohanes 2:14 berkata, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kami mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.” Kita harus menyadari, bahwa Kristus kini adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-Nya. Identitas kita bukan lagi hamba dosa, melainkan orang merdeka, bahkan anak-anak Allah. Luar biasa!

 

Menjadi anak Allah berarti kita harus memiliki hubungan yang erat dengan Allah sebagai Bapa kita. Sebagai anak, kita sangat membutuhkan Bapa. Hidup seorang anak tidak bisa lepas dari bapanya. Kita tahu peran seorang ayah adalah memelihara anaknya, mencukupi kebutuhan anaknya, menyayangi anaknya, bertanggung jawab atas hidup anaknya, mendidik anaknya, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan Bapa di surga. Saat kita mengerti bahwa kita adalah anak yang sangat dikasihi Bapa, kita mencari semua fungsi itu dari sosok Bapa. Kita tidak akan mengalami krisis identitas karena mencarinya di tempat yang salah atau mencari pengakuan dari orang lain. Semuanya itu telah kita terima dari Bapa kita yang sempurna itu. Pengenalan akan Dia menjadikan kita semakin mengerti pribadi dan sifat-sifat Bapa yang kita miliki serta apa yang menjadi kehendak-Nya bagi hidup kita.

Kembali ke Ben, hal itu jugalah yang dialaminya. Sedikit demi sedikit dia mulai membangun gaya hidup berdoa, membaca Firman, bersaat teduh, dan meninggalkan gaya hidup duniawinya. Awalnya memang sulit. Banyak tantangan yang menggoda Ben untuk kembali pada gaya hidupnya yang lama. Namun, berkat dukungan dan bimbingan dari teman-teman komselnya, Ben berhasil semakin mengenal Kristus dan bertumbuh di dalam iman. Saat Ben memutuskan untuk menerima Kristus dalam hidupnya, ayah Ben tidak langsung berubah menjadi sosok ayah yang ideal, dan Ben masih harus menghadapi tantangan di tengah-tengah keluarganya. Yang berbeda adalah diri Ben sendiri. Pengenalan dan perjumpaan dengan Kristus menjadikan hidup dan respons Ben berubah terhadap ayahnya. Ben mau memaafkan ayahnya dan membawa teladan kasih Kristus yang sejati di tengah keluarganya. Dia pun tidak lupa untuk terus mendoakan ayahnya. Pada waktu Tuhan yang tepat, hasilnya menjadi nyata. Roh Kudus benar-benar bekerja secara pribadi bagi hidup ayahnya dan mengubahkannya. Perubahan ayah Ben menjadi berkat yang indah bagi seluruh keluarga mereka sekaligus kesaksian yang memberkati banyak orang lain. Apa yang Ben nikmati sekarang merupakan hasil dari serangkaian proses panjang dan pengalaman iman yang luar biasa! Aku percaya, kamu dan aku juga bisa mengalami kasih sejati yang mengubahkan hidup itu, lewat pertumbuhan kita sebagai anak di dalam Kristus.

2022-07-27T10:30:57+07:00