///Betah di Rumah Sendiri?

Betah di Rumah Sendiri?

Hal yang tidak berbeda saya temukan juga rupanya dalam Kitab Keluaran, pada topik tentang pembangunan Kemah Suci. Untuk pembangunan rumahNya, Tuhan punya standar tersendiri. Di sana tergambar rancangan atau desain yang jelas, sebuah kemah yang akan menjadi tempat kudus bagiNya, tidak dibuat dengan gampangan. Bahkan bukan hanya kemahnya, namun perabotnya pun dideskripsikan dengan sangat mendetil oleh Tuhan. Mari kita lihat bersama dalam beberapa ayat berikut.
“…atap kemahnya dan tudungnya, kaitannya, dan papannya, kayu lintangnya, tiangnya dan alasnya;tabut dengan kayu pengusungnya, tutup pendamaian dan tabir penudung; meja dengan kayu pengusungnya, segala perkakasnya dan roti sajian; kandil untuk penerangan dengan perkakasnya, lampunya dan minyak untuk penerangan; mezbah pembakaran ukupan dengan kayu pengusungnya, minyak urapan dan ukupan dari wangi-wangian; tirai pintu untuk pintu Kemah Suci;mezbah korban bakaran dengan kisi-kisi tembaganya, kayu pengusungnya dan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya;layar pelataran, tiangnya, alasnya dan tirai pintu gerbang pelataran itu; patok Kemah Suci dan patok pelataran dan talinya; pakaian jabatan untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus, dan pakaian kudus bagi imam Harun, dan pakaian anak-anaknya untuk memegang jabatan imam.” (Kel. 35:11-19)

 

Lihatlah bagaimana Musa dan orang Israel harus merealisasikan setiap instruksi dari Tuhan. Setiap detil harus dikerjakan tepat seperti yang Tuhan mau, agar Tuhan berkenan tinggal di tengah-tengah mereka. Kita dapat membaca di bagian-bagian selanjutnya, bahwa betapa demi Tuhan Yang Maha Kudus tinggal di antara mereka, segala upaya sudah tentu mereka kerjakan.

Membaca kisah tersebut, saya jadi merenungkan bahwa bukankah hidup kita saat ini juga tidak berbeda dengan usaha pembangunan Kemah Suci? Anda dan saya punya tantangan yang sama dengan umat Tuhan kala itu, yaitu membangun rumah rohani bagi Tuhan, baik itu secara pribadi maupun korporat (bersama-sama).

Soal membangun rumah Tuhan secara pribadi, firman Tuhan berkata, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (Kor. 6:19). Berapa sering kita lupa bahwa hidup ini adalah rumah Tuhan? Kalau hidup saya adalah rumah kepunyaan Tuhan, tentu harus Dialah yang menjadi “otak” dari proyek pembangunan itu. Pemikiran, perkataan, keputusan, setiap respon, seharusnya sesuai dengan keinginan Tuhan. Semuanya harus berdasarkan seleranya Tuhan sebagai pemilik rumah, bukan selera saya yang “sekedar” pembangun rumahNya. Yuk, kita renungkan sebentar. Bagaimana hidup kita selama ini kita bangun sebagai rumahNya? Jika hidup saya adalah sebuah rumah, betahkah Tuhan tinggal di dalamnya?

Mata yang berfokus pada kekurangan orang lain, mulut yang menjatuhkan sesama, telinga yang terbuka untuk pembicaraan yang tak membangun, tangan yang lamban untuk memberi, kaki yang memilih membelot dari jalan dan rancangan Tuhan, hati yang kebas terhadap kebaikan-kebaikan yang sudah Tuhan lakukan, komunitas yang rajin bergosip, saling menyakiti, atau saling tidak peduli… Semua ini bukanlah desain bagi rumah dari Pribadi Yang Maha Kudus dan Maha Baik. Raja segala raja ini tidak tinggal di sembarang tempat. Ia tidak tinggal di tempat “kumuh”. Anda dan saya setiap hari punya kewajiban untuk membangun hidup kita, baik secara pribadi masing-masing maupun dalam komunitas dan kebersamaan dengan sesama orang percaya, menjadi tempat yang nyaman dan layak untuk Ia menyatakan kekudusanNya.

 

“Tepat seperti yang diperintahkan Tuhan” adalah standar untuk membangun dan mengisi hari-hari kita; studi / pekerjaan / keluarga / pergaulan / pelayanan / dsb. Detilnya seperti apa, semua tertulis dalam Alkitab.
Pernahkah Anda merasakan sulitnya melaksanakan kehendak Tuhan, lalu ingin menyerah? Saya kagum sekali dengan apa yang terjadi pada Musa dan orang Israel kala itu. Sebuah peristiwa yang luar biasa terjadi di tengah-tengah mereka tepat setelah Kemah Suci selesai didirikan berdasarkan instruksi dan rancangan Tuhan yang sangat mendetil itu.

“Demikianlah diselesaikan Musa pekerjaan itu. Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci, sehingga Musa tidak dapat memasuki Kemah Pertemuan, sebab awan itu hinggap di atas kemah itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci. Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel dari setiap tempat mereka berkemah. Tetapi jika awan itu tidak naik, maka merekapun tidak berangkat sampai hari awan itu naik. Sebab awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel pada setiap tempat mereka berkemah.” (Kel. 40:33b-38)

Apakah Anda rindu hal ajaib dari Tuhan terjadi juga pada hidup dan komunitas Anda? Mari bangun hidup dan komunitas kita jadi tempat yang nyaman untuk Tuhan tinggal. Pastikan Ia betah tinggal di dalam rumahNya sendiri.

2015-02-24T06:48:16+07:00