/, Character/Biblical Mindset

Biblical Mindset

Mindset Ilahi: Kemampuan Melihat Potensi Ilahi
Ketika Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi salah satu anak Isai sebagai pengganti Saul, ia bertemu dengan kakak-kakak Daud terlebih dahulu. Pada awalnya, Samuel menyangka bahwa karena postur tubuh, keahlian, dan karisma kakak-kakak Daud tampak begitu menonjol, tentu merekalah yang akan dipilih Tuhan sebagai pengganti Raja Saul yang juga memiliki kualitas yang mirip itu. Namun, Tuhan memilih Daud yang masih muda.

Beberapa ayat setelah kejadian itu, Alkitab menceritakan bahwa Tuhan tidak salah pilih. Ketika semua kakak-kakaknya merasa ketakutan menghadapi Goliat, Daud justru dengan berani berkata kepada Goliat, “Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau kepadaku; engkau akan kukalahkan … Maka seluruh dunia akan tahu bahwa … TUHAN tidak memerlukan pedang atau tombak untuk menyelamatkan umat-Nya. Dialah yang menentukan jalan peperangan ini dan Dia akan menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” Di akhir cerita, kita tahu bahwa keyakinan Daud bukan gertakan kosong. Ia menang dan kisah kemenangannya dikenang hingga saat ini. Mindset ilahi membuat Anda dapat melihat potensi ilahi yang Tuhan sediakan di dalam diri Anda, di dalam diri orang lain, dan di dalam situasi-situasi yang ada di sekitar Anda. Mindset ilahi akan membuat Anda mampu melihat peluang di dalam sebuah tantangan, harapan di tengah kesulitan, dan potensi kemenangan di dalam kegagalan.

Bagaimana Mengembangkan Kemampuan untuk Melihat Potensi Ilahi
1. Akui ketidakmampuan kita.
Jika kita merasa kuat, kita akan cenderung menggunakan pengalaman, pengetahuan, keberanian, jejaring atau kenalan, dan ketekunan atau kesabaran diri sendiri dalam menghadapi tantangan. Namun, ketika kita menyadari keterbatasan kita dan berharap sepenuhnya kepada Tuhan, sebenarnya kita sedang berusaha mengintegrasikan pengalaman, pengetahuan, keberanian, jejaring, dan ketekunan kita dengan kuasa Allah.
Mengakui ketidakmampuan kita di hadapan Allah tidak sama dengan sikap pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, ini adalah sikap aktif yang mengizinkan Allah mentransformasi pikiran, perasaan, komunikasi, dan tindakan kita sehingga memiliki kualitas dan kuasa Ilahi.

2. Akui kemahakuasaan Allah.
Apa yang kita rasakan jika kita sedang mengalami kesulitan finansial dan presiden direktur sebuah bank internasional mengatakan kepada kita bahwa ia akan membantu kita mengatasi kesulitan itu? Saya yakin kita akan merasa sangat tenang, bahkan sebelum bantuan itu direalisasikan dan masalah kita benar-benar selesai. Mengapa? Kita yakin kita sedang berada di tangan orang yang ahli di bidangnya. Kita akan berpikir bahwa yang perlu kita lakukan hanyalah menaati semua instruksinya dan kita akan terbebas dari masalah kita.
Hal yang sama juga berlaku dalam mindset ilahi. Kita tidak bisa hanya membuat pernyataan iman sebagai jargon-jargon yang palsu. Kita harus benar-benar percaya bahwa kemahakuasaan Allah pencipta alam semesta ini mampu menolong hidup kita. Kita harus benar-benar memercayai kredibilitas Allah sampai pikiran kita dapat berkata, “Yang perlu saya lakukan hanyalah menjalankan semua instruksi Tuhan, maka hidup saya akan sejahtera di dalam kuasa-Nya.”

3. Berikan yang terbaik melalui ketaatan.
Mengembangkan mindset ilahi tidak cukup hanya dengan mengakui ketidakmampuan kita dan mengakui kemahakuasaan Allah. Kita harus benar-benar melakukan aturan main Tuhan dengan taat. Hanya ketika kita telah melakukan yang terbaik dalam ketaatan terhadap Firman Tuhan, Tuhan akan menjamin hasil akhir yang gemilang bagi kita.

RESPONDING TIP
“Di dalam kelemahanmulah kuasa-Ku menjadi nyata.”

2019-10-11T12:54:21+00:00