/, Tokoh Alkitab/Billy Graham : sang pengabar injil yang setia

Billy Graham : sang pengabar injil yang setia

Billy Graham melayani pula dalam program radio Hour of Decision pada tahun 1950-1954 dan pelayanannya ini menjangkau 210 juta orang di 185 negara. Ia menjadi penasihat rohani bagi para presiden AS sejak presiden ke-33, yakni Harry S. Truman, sampai presiden ke-44, yakni Barack Obama. Ia pun sangat dekat dengan presiden-presiden AS yang lain, seperti Dwight D. Eisenhower, Lyndon B. Johnson, dan Richard Nixon. Kesetiaannya berkhotbah mengabarkan Injil dalam KKR sejak tahun 1953 menurut para stafnya telah membuahkan 3,2 juta orang menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi mereka, di antara total sekitar satu miliar orang yang menghadiri.

William Franklin Graham Jr. lahir di ranjang kayu milik Morrow Coffey, ibunya, dan William Franklin Graham Sr. di kota Charlotte, North Carolina, AS. Ia bersekolah di Sharon Grammar School agar bisa membaca buku-buku dan novel. Hingga Billy Graham berusia 14 tahun, ayahnya mendorong dia untuk menyerahkan diri kepada Tuhan. Akhirnya, Albert McMakin, teman baiknya, mengajak Billy untuk mengikuti KKR dari penginjil keliling bernama Mordecai Ham. Inilah yang membuatnya bertobat dan menerima Yesus secara pribadi pada tahun 1934.

Pada tanggal 13 Agustus 1943, Billy Graham menikah dengan Ruth Bell, yang orang tuanya telah menjadi misionaris di Tiongkok daratan. Ruth Graham meninggal pada tanggal 14 Juni 2007 dalam usia 87, setelah mereka menikah selama 64 tahun dan memiliki 5 anak: Virginia Leftwich (Gigi) Graham, Anne Graham Lotz, Ruth Graham, Franklin Graham, dan si bungsu Nelson Edman Graham. Dari kelima anak ini, mereka memiliki 19 cucu dan 41 cicit.

Billy Graham menjadi gembala sidang selama setahun di First Baptist Church di Western Springs, Illinois, AS. Sejak tahun 1947, Billy memimpin lebih dari 400 KKR di 185 negara. KKR pertama diadakan pada 13-21 September 1947 di Civic Auditorium di Grand Rapids, Michigan, AS, dan dihadiri 6.000 orang. Kemudian, Tuhan menuntun Billy untuk memakai stadion-stadion besar. Awalnya KKR “hanya” dihadiri 5.000 orang, lalu bertambah sampai 155.000 orang. Ia juga memimpin KKR di London serta di New York City di Madison Square Garden.

Dalam buku “Billy Graham, God’s Ambassador – A Lifelong Mission of Giving Hope to the World”, Billy berkata, “Tujuan saya adalah menolong orang-orang untuk memiliki hubungan pribadi dengan Allah lewat mengenal Kristus…. Saya membaca kitab Efesus berulang-ulang dan menaruh perhatian pada rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar. Saya berespons terhadap panggilan Tuhan kepada saya, yakni menjadi penginjil. Itulah sebabnya, saya memiliki hak istimewa untuk memberitakan Injil di setiap negara di berbagai benua. Saya menemukan bahwa memberitakan Injil Yesus Kristus bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, tetapi dengan penuh wibawa dan otoritas. Tuhan mengambil Firman itu dan menaruhnya secara rohani ke dalam hati manusia. Tidakkah Anda heran mengapa Allah menaruh Anda di bumi dengan arti dan tujuan yang penting bagi kehidupan? Karena Ia mau Anda mengenal Dia dan mengenal kasih-Nya. Kebutuhan terbesar di dunia saat ini adalah mentransformasi manusia. Kita membutuhkan hati yang baru, yang penuh dengan kasih dan sukacita. Itulah sebabnya, Yesus harus datang ke dunia ini, mati di kayu salib dan bangkit, dan kembali naik ke surga.“ Yesus datang ke dunia, dengan tujuan membawa setiap orang yang percaya kepada-Nya agar mendapat kasih karunia sehingga setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal, karena Dia adalah Tuhan yang merupakan kasih itu sendiri. Inilah inti pesan Injil yang Billy terus beritakan bagi banyak orang di bumi ini.

Pada suatu kali, Morrow, ibunya, berkata, “Billy menyadari sesuatu yang lebih dari tujuan yang ia miliki, yaitu sebuah panggilan. Ia selalu menulis dengan serius, semuanya dimulai dengan jelas dengan suatu belas kasihan dari Tuhan, yang kemudian mengkhotbahkan pesan Injil.” Billy Graham terus setia dengan panggilan Allah seumur hidupnya. Pernah pula pada suatu hari setelah KKR, orang-orang bertanya kepada Billy Graham, ”Apakah Anda memiliki harapan untuk umat manusia di masa mendatang?” Billy Graham menjawab bahwa, “Ya. Saya masih memiliki harapan. Saya tidak berpikir bahwa orang-orang akan hidup tanpa harapan. Seperti oksigen bagi paru-paru, demikian pula pengharapan adalah suatu kelangsungan hidup bagi dunia. Sebab, Alkitab itu penuh dengan pengharapan. Yesus adalah Imanuel, yang berarti Allah beserta kita. Apakah Anda tahu seperti apakah Allah itu? Allah seperti Yesus. Ia menyatakan diri-Nya di dalam Perjanjian baru demi manusia.” Menurut Billy, masalah manusia yang paling mendasar bersifat rohani sekaligus bersifat alami. Manusia menolak untuk mencari Allah, padahal manusia membutuhkan Alah demi kelangsungan hidup mereka. Masalah manusia terletak di dalam hati mereka masing-masing, dan hanya Allah sendirilah yang bisa mengubah hati manusia.

Di sepanjang hidupnya, Billy Graham telah memberikan contoh dan teladan kepada kita, bahwa kesetiaan kepada panggilan Allah itu lebih penting dari segalanya. Ia terpanggil menjadi pembawa Injil sejak usia belasan tahun dan tetap memelihara api Allah tersebut di dalam jiwanya hingga akhir hayatnya pada tanggal 21 Februari 2018 yang lalu, dalam usia 99 tahun. Kurang beberapa bulan saja dari usia seabad, tetapi jiwa dan semangatnya untuk pemberitaan Injil tidak pernah pudar. Billy Graham selalu siap sedia memberitakan Injil setiap saat, tetap berpacu dengan waktu demi karya penyelamatan Injil itu.

Benarlah kata-kata Rasul Paulus, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya,” (2 Timotius 4:6-8). Kini Billy Graham telah kembali kepada Tuhan Yesus dan menjadi pahlawan iman yang diberitakan serta diteladani di seluruh dunia. Mahkota kekal telah siap baginya di surga atas kesetiaannya mempersembahkan hidup sebagai hamba Kerajaan Surga. Selamat jalan, Pahlawan. Biarlah teladanmu yang begitu berharga itu juga menggerakkan kami untuk setia dengan panggilan Allah bagi kami masing-masing, sampai kami pulang kepada Yesus dan bertemu denganmu di sana.

 

2019-10-11T12:28:46+07:00