BOLDNESS

1. Berani terbuka
Keberanian untuk terbuka sebenarnya adalah keberanian dalam menghadapi realita hidup, termasuk realita kondisi diri kita sendiri. Seringkali kita berusaha untuk menyangkali atau menghindari, bahkan kita tidak mau membicarakannya dan berusaha menutup-nutupinya.

Berani terbuka artinya berani mengakui keadaan diri kita di hadapan orang lain, dan berani mengakui bahwa kita butuh ditolong serta dipulihkan. Kita tidak akan bisa dipulihkan jika kita tidak berani mengakui semua ini. Untuk mengalami pemulihan, kesembuhan dan pertolongan di dalam komunitas rumah Tuhan, kita perlu berani terbuka mengenai kondisi diri kita.

 

2. Berani sangkal diri dan pikul salib

Sebagai murid Kristus, kita harus menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Berani melakukannya berarti berani menghidupi realita hidup, dengan cara Kristus. Setiap saat, kita akan menghadapi berbagai perubahan dan ketidaknyamanan dalam realita hidup kita. Banyak orang yang takut dan menghindari segala pergumulan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan, sehingga akhirnya mereka tidak berbuah dalam kehidupannya. Tanpa keberanian untuk menyangkal diri dan memikul salib, kita tidak akan mengalami pelatihanNya untuk hidup dalam kebenaran, dan hidup kita tidak akan menjadi teladan kebenaran bagi orang-orang di sekitar kita.

3. Berani memberitakan kebenaran
Keberanian untuk terbuka, menyangkal diri serta memikul salib, akan menghasilkan keberanian untuk memberitakan kebenaran. Dalam realita hidup sehari-hari, banyak sekali ketidakbenaran terjadi dan hanya orang yang telah dipulihkan serta senantiasa melatih diri untuk hidup benarlah yang sanggup untuk memberitakan kebenaran. Dengan keberanian untuk memberitakan kebenaran inilah, kita dapat hidup saling menegur, saling menasehati, dan saling mengajar dalam komunitas rumah Tuhan yang sedang kita bangun.

Lalu, untuk membangun ketiga keberanian di atas, apa faktor kunci yang kita butuhkan? Saya percaya bahwa faktor kuncinya adalah kematian terhadap ego kita. Penghalang utama yang membuat kita tidak berani adalah mengasihi diri sendiri. Rasul Yohanes berkata, ”Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih,”(I Yohanes 4:18). Jadi, jika kita mengizinkan kasih Allah bekerja dengan sempurna di dalam diri kita, ketakutan kita pun akan lenyap. Demi kasih kita kepada Tuhan, kita akan tidak mengasihi ego/”nyawa” kita sendiri. Inilah yang disebut dengan mati terhadap ego. Orang yang telah mati tidak takut/kuatir kehilangan apa-apa lagi, karena memang ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

Bulan ini, saya berdoa agar kita semua beroleh kesempatan untuk belajar mempraktekkan karakter berani ini. Dengan keberanian, kita akan membangun rumah Tuhan dan memperluas dampak kerajaanNya di muka bumi. Mari, kita praktekkan bersama-sama.

 

 

2019-10-04T22:22:44+00:00