///“ Bosan main sama papa dan mama….!..huhh..!? “

“ Bosan main sama papa dan mama….!..huhh..!? “

2. Kebiasaan Bermain Tanpa Rencana (hanya sekedar pengisi waktu luang).

Masukkan dalam agenda kita untuk bermain dengan anak setiap hari. Jika tidak direncanakan, seringkali waktu itu akan terlewatkan.

Keuntungan kalau kita membuat rencana untuk bermain.

Karena waktu bermain adalah investasi untuk masa depan anak. Di waktu inilah terjalin ikatan hubungan dengan anak. Ungkapkan/ekspresikan bahwa mereka penting, sehingga mereka akan terus merindukan moment seperti ini.

3. Kebiasaan memilih mainan secara sembarangan (cari gampangnya saja)

Pilihkan mainan bukan sekedar mahal dan yang sedang trend, tetapi apakah lewat mainan ini anak juga semakin mengasihi Tuhan? (permainan game elektronik yang bersifat kekerasan?) Membangun kemampuan anak (misal:kemampuan bersosialisasi, emosi,kreatifitas)

Keuntungan kalau kita selektif dalam memilih permainan untuk anak kita

Anak kita akan mengalami 3 keuntungan melalui bermain (baca artike l“Mau Beli Gadget supaya anak bisa main dan anteng ?”, BUILD edisi Jan 2013), yaitu: Menjadi kuat dan sehat, Menjadi bertumbuh kemampuan berkomunikasi dan menjadi mengerti banyak hal yang positif.

Kalau kebiasaan kami sebagai orang tua sudah siap untuk berubah, hal apa lagi yang harus  diperhatikan supaya anak kami “kecanduan” bermain dengan orang tuanya?

Kita harus mengajak anak kita bermain dengan permainan yang ia butuhkan di usianya.  Karena kalau jenis permainan itu yang ia butuhkan, maka secara alami tubuh dan pikirannya akan siap untuk bermain dan menghasilkan hormon yang membuat diri anak kita merasa “happy”.

Berikut ini beberapa jenis permainan yang disesuaikan dengan usia anak.

1. Active,Physical play
Bermain yang melibatkan fisik seperti berayun, berguling, berlari, melompat,dan sebaginya. Mereka memakai tubuh dan energy  mereka untuk melakukan aktivitas.

2. Dramatic, imaginative play
Bermain dengan meniru. Mereka memakai pakaian seperti dokter, pura-pura menjadi petugas pemadam kebakaran, pura-pura meniru suara mobil, hewan dan banyak hal lain yang menarik perhatian mereka untuk ditiru.

3. Creative,expressive play
Akitivitas bermain ini membutuhkan kreatifitas seperti menggunting,menggambar,membangun block

4. Social play
Anak usia dibawah 3 tahun suka bermain sendiri, tetapi anak usia lebih dari 3 tahun lebih suka bermain dengan anak  lainnya. Mereka membutuhkan interaksi dengan anak lainnya. Contoh aktifitas ini seperti: berlomba, bermain telpon, bermain rumah-rumahan.

5. Mental play
Dalam bermain ini melibatkan eksplorasi dan menemukan sesuatu. Misal: kata-kata, meraba, merasakan sesuatu, melihat. Anak belajar mengingat kartu apa yang dia miliki, bagaimana memenangkan pertandingan. Seorang bayi belajar bahwa ketika dia menjatuhkan mainan, maka orang lain akan mengambilkannya.

Waah…koq “ribet” (susah) banget Cuma untuk bermain dengan anak ?

Jangan mengeluh dahulu, baca penjelasan di bawah ini:

Betapa pentingnya orang tua menyediakan waktu untuk anak-anaknya, waktu bermain (baca: waktu membangun hubungan saling percaya) hanya sebentar saja. Anak hanya bermain pada usia-usia tertentu, yang hanya sebentar saja lewat. Apakah dengan waktu yang terbatas ini orang tua masih mengabaikan dan lebih memilih  mainan elektronik yang menjadi ‘sahabat’ mereka? Pengasuh yang menjadi ‘sahabat’ dan lebih mengenal mereka? Padahal dengan waktu bermain, banyak manfaat yang diperoleh dalam membangun hubungan orang tua dan anak selain segudang manfaat lain. Lewat bermain di usia kecil, orang tua sedang menanam ‘bibit’ saling percaya antara orangtua dan anak. Lewat waktu interaksi inilah orangtua sedang menanam ’bibit’ percaya yang menjadi cikal bakal di usia besar, anak lebih percaya kepada orang tuanya daripada dunia.

Nah,…kalau mau hasil yang maksimal tentu harus dengan usaha yang maksimal bukan ?

“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” ( 2 Taw 16:9a)

(Jane Norman & hy)

 

2013-01-25T07:17:02+00:00