///Bunga Jam Sembilan

Bunga Jam Sembilan

Belajar dari alam dan apa yang ada di sekeliling kita itu menarik; Tuhan sering kali berbicara melalui ciptaan-Nya. Aku sendiri berulang kali mendapatinya, sehingga bias menyimpulkan bahwa setiap hal yang Tuhan ciptakan adalah gambaran dari diri-Nya, Sang Pencipta itu sendiri dan Dia sungguh-sungguh berbicara melalui ciptaan-Nya.

Salah satu ciptaan Tuhan secara khusus merefleksikan betapa terbatasnya waktu hidup kita sebagai manusia di bumi ini. Ciptaan Tuhan yang satu ini adalah sebuah bunga; bentuk kelopaknya bertumpuk, ukurannya kecil, dan warnanya merah muda cerah. Kadang warna bunga ini bervariasi juga, bias fuschia, kuning, putih, atau oranye. Bunga ini sebenarnya jenis belukar yang bias tumbuh dengan mudah dan cepat, tidak terlalu banyak memerlukan air dan tidak memerlukan perawatan khusus, subur di daerah tropis. Orang menyebutnya dengan nama bunga Jam Sembilan, dan sebagian orang juga menyebutnya bunga Pagi Sore.

Sebutan bunga jam Sembilan ini pun menarik. Bunga ini mekar penuh pada jam Sembilan pagi, tetapi kondisi mekar penuh ini sangat tergantung pada satu factor penting, yaitu sinar matahari. Semakin penuh paparan sinar matahari yang didapatkannya, semakin penuh bunga ini mekar dan semakin cerah warnanya ketika mekar. Dari jam Sembilan pagi mulai mekar penuh,bunga ini dapat bertahan sampai siang bahkan kadang sampai menjelang sore. Namun setelah mekar penuh, bunga ini tidak bertahan lama karena pasti layu di hari yang sama. Artinya, masa hidup bunga ini sangatlah terbatas. Bagaimana pun cantiknya bunga ini saat mekar penuh, mau tidak mau, senang tidak senang, bunga itu “harus” layu dan selesai masa hidupnya.

Aku memperhatikan dan belajar tentang setidaknya tiga hal penting dari bunga ini:

1. Masa hidup bunga ini terbatas
Segala kecantikan dan keindahan bunga ini tidak bias menjadi ukuran atau jaminan pasti bahwa kualitas yang semarak itu akan bertahan selama-lamanya. Seperti juga halnya dengan umur hidup manusia di bumi, demikianlah bunga ini menggambarkan betapa fananya kehidupan. Jika kita menyadari hal ini, kita akan bijaksana menjalani hari-hari hidup ini. Saat umur hidup kita di bumi ini bertambah sesungguhnya itu berarti masa hidup kita di bumi ini semakin berkurang. Aku mendapati bahwa kebenaran ini akan menolong kita untuk menjalani hidup ini tidak dengan serampangan dan memandang setiap hal yang kita lakukan dengan perspektif kekekalan. Setiap hal yang kita lakukan, setiap jam dalam setiap hari, memiliki pengaruh terhadap keseluruhan masa hidup kita di bumi dan kelanjutan hidup kita dalam kekekalan.

2. Faktor utama untuk bunga ini mekar penuh dengan kecantikan maksimal adalah paparan sinar matahari
Ini sama halnya dengan kehidupan kita sebagai orang percaya; factor terutama yang harus ada untuk kita bertumbuh menjadi kuat dan dewasa maksimal adalah Firman Tuhan, khususnya bagaimana Firman itu menjadi hidup saat kita melibatkan Tuhan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hidup tanpa menerima dan melakukan Firman sama saja dengan hidup tanpa Tuhan, dan ini sesungguhnya adalah kematian, entah perlahan atau cepat. Kuamati, ini lebih jelas lagi pada orang percaya; hidup kita sebagai orang percaya tanpa melibatkan Tuhan dan dipimpin oleh Firman-Nya sesungguhnya adalah kematian yang pasti, karena tidak ada factor utama untuk kehidupan itu bertumbuh.

3. Bunga ini selalu mekar penuh secara konsisten, asalkan mendapatkan paparan sinar matahari yang dibutuhkannya
Bunga ini mengajarkan tentang bagaimana kita hidup dengan segala kesungguhan. Mengapa? Karena hidup ini adalah fana, tidak kekal, dan masa hidup kita di bumi sangat terbatas, kesempatan untuk hidup tidak semestinya disepelekan atau disia-siakan. Hidup ini dengan segala kemungkinan dan keindahannya adalah singkat, tidak ada yang kekal. Apa yang Tuhan anugerahkan saat ini adalah yang terbaik; syukuri dan rayakan anugerah-Nya setiap hari! Menghargai setiap kesempatan yang Tuhan anugerahkan berarti kita hidup maksimal dalam kebenaran dan bertumbuh dalam keunikan talenta kita, mengalami kuasa Firman yang menghidupkan setiap hari, seperti bunga Jam Sembilan.

Sambil merenungkan kebenaran yang kudapatkan melalui bunga Jam Sembilan, aku pun teringat akan Musa.

Alkitab mencatat bahwa Musa ialah seorang nabi yang menerima panggilan Tuhan dan memberikan hidupnya dipakai Tuhan untuk membawa bangsa Israel menggenapi Firman, yang Tuhan berikan lewat Abram jauh sebelum Musa sendiri dilahirkan. “Firman TUHAN kepada Abram, ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu,’” (Kej. 15:13-15).

Alkitab juga mencatat bagaimana perjalanan hidup Musa selesai bersama Tuhan sampai pada titik akhir hidupnya. Sebuah doa yang ditulis oleh Musa memberikan kepada kita kesadaran bagaimana hidup yang singkat ini bias menjadi maksimal. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana,” (Mazmur 90:10–12).

Betapa singkatnya hidup ini! Jika mau jujur merenungkan, kita akan mengerti mengapa Musa menulis sebuah doa yang menggambarkan bahwa sejatinya hari-hari hidup kita ini perlu diisi dan dijalani dengan kebenaran yang kita hidupi dan alami. Musa sendiri berumur seratus dua puluh tahun, tetapi dia sungguh menyadari kefanaannya sebagai seorang manusia. Akhir hidup kita di dunia ini sesungguhnya adalah awal kehidupan kita dalam kekekalan. Jadilah bijak, syukuri anugerah kehidupan ini, dan maksimalkan isinya!

Pertanyaan refleksi:
1. Berapa seringkah engkau merenungkan perjalanan hidupmu sejak dilahirkan sampai hari ini?
2. Temukan titik-titik tertentu dalam kehidupanmu ketika engkau mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan.
3. Bagaimana keadaan hidupmu hari ini? Masih adakah keindahan perjumpaan dengan Tuhan itu di dalam pengalamanmu sehari-hari?
4. Temukan hal-hal sederhana dan mendasar yang perlu engkau lakukan kembali demi dirimu tetap berada di dalam panggilan dan rencana-Nya.

2019-09-27T12:17:03+00:00