//Bunga yang Dipangkas

Bunga yang Dipangkas

Pada suatu Sabtu sore yang cerah, aku berjalan menyusuri sebuah jalan yang kecil. Kala itu, aku diajak oleh kakak mamaku untuk mengunjungi sebuah tempat terbaik (katanya). Sambil menggandeng tanganku, dengan penuh semangat dia bercerita tentang betapa seringnya dirinya mengunjungi tempat tersebut. Kisahnya, hampir setiap akhir pekan dia menyempatkan datang dan berbelanja di tempat itu. Itu jalan setapak biasa saja, tetapi memang terlihat rapi. Bahkan hilir mudik orang yang tampak tetap terlihat tenang, ramah, dan terkesan santai, agak berbeda dari suasana hiruk pikuk di jalanan kota Jakarta. Malang, kota tempat jalan setapak itu, sungguh sebuah kota kecil yang tenang.

 

Ve, lihat tuh di sana, itu dia tokonya Mang Jun, toko bunga paling cantik sekota Malang…”

 

Mata tanteku berbinar-binar saat dia menggandengku berjalan ke pintu toko bunga Mang Jun; kali ini, langkah-langkahnya terlalu bersemangat untuk disebut tenang. Beberapa lama aku menunggunya tenggelam dalam keasyikan memilih-milih bunga, sampai akhirnya kulihat sebuah buket berisi bunga beraneka macam jenis di tangannya. Memang cantik. Rupanya, hari itu kami membeli bunga itu untuk dibawa pulang ke rumah.

 

Kenangan 15 tahun lalu saat aku menikmati masa liburan sekolah di Malang itu masih tergambar jelas di ingatanku. Tanteku sampai saat ini masih menyukai bunga, parfum, dan segala kerabat wangi-wangian lainnya. Dari tubuhnya selalu tercium aroma harum, rumahnya pun wangi, serta benda belanjaan favoritnya masih tetap bunga. Masih terekam jelas pula di telingaku kata-katanya saat mengajarku merawat bunga agar tetap segar meskipun disimpan beberapa hari. Mungkin, semua itulah yang juga membuatku sampai saat ini rajin membeli bunga dan menikmati merawatnya.

 

Ve, ini ujung tangkainya harus dipotong. Lalu daun-daun di bagian bawah dipangkas saja… Nggak usah sayang rusak, karena kalau nggak dipotong malah nanti bunganya cepat layu. Ngerawat bunga segar itu nggak cukup cuma dikasih dan diganti air, tapi harus dipotongin juga…”

 

Tanteku benar. Siang ini, aku pun melakukan pemotongan dan pemangkasan pada bagian-bagian tertentu bunga mawar yang kubeli. Sesungguhnya memang di hatiku ada rasa sayang setiap kali melakukan hal ini, karena setelah dipotong tentu tampilannya secara keseluruhan menjadi kurang cantik, apalagi beberapa helai daun di bagian bawah tangkainya juga harus dibuang. Namun kali ini, sambil aku menggunakan gunting untuk memotong-motong, Roh Kudus di hatiku mengingatkan bahwa pemangkasan bunga itu seperti pemangkasan hidup kita secara rohani. Seperti bunga itu, kita harus selalu siap untuk dipangkas dan dipotong agar terus hidup dan tak redup sampai potensi maksimal, meski kadang terpaksa menahan rasa “tak nyaman” dan “tak cantik”.

 

Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” – Yohanes 15:2

 

Tahun 2021 yang kita jalani ini ternyata berlalu begitu cepat. Banyak hal mungkin telah terjadi di dalam hidup kita: jatuh-bangun keuangan, kehilangan orang terkasih, kesulitan beraktivitas, stres berat, atau malah lahirnya kreativitas dan peluang baru. Sebagian menyenangkan, sebagian lainnya menyedihkan. Bagaimana dengan tahun 2022 yang akan segera datang nanti? Apakah akan berlalu makin cepat atau sebaliknya, terasa lambat? Apakah pandemi akan berakhir atau makin berlarut-larut? Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di 2022.

 

Tahun 2022 tentu akan membawa tantangan yang baru. Apa pun yang akan terjadi nantinya, kita menghadapi tantangan untuk terus tumbuh sehat dan tak redup. Ingat bagaimana bunga dijaga untuk tetap hidup dan segar dengan diberi air dan berulang kali dipangkas? Kita masing-masing adalah bunga itu. Air tentu saja adalah Firman Tuhan sendiri, dan pemangkasan adalah pemurnian dari tangan Tuhan yang kita harus terima sebagai bagian kita. Disirami atau menerima Firman saja tak akan cukup jika kita tak rela diproses dan dimurnikan oleh Firman itu, dipangkas setiap kelemahan, sakit hati, dosa, kebiasaan buruk, luka lama, dan hal-hal tak sehat lainnya yang melemahkan iman dan menghambat pertumbuhan kita di dalam Tuhan.

 

Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” – Ibrani 12:11

 

Seperti satu bunga dirangkai bersama bunga-bunga lainnya yang berbeda satu sama lain, kita juga hidup di dalam komunitas bersama teman-teman seiman yang punya karakteristik maupun latar belakang bermacam-macam. Kalau kita semua masing-masing selalu haus menerima Firman dan selalu rela dimunikan, bersama-sama kita akan tetap hidup dan tumbuh sehat, mencapai potensi maksimal kita meski hari-hari ke depan makin tak pasti. Orang lain akan melihat kita bersama komunitas sebagai kumpulan bunga yang cantik dan menebar harum semerbak; mereka menikmati keberadaan kita dan menerima dampak baik dari kita.

 

Waktu terus berjalan, tahun kembali berganti tahun, dan era yang baru sudah tiba di depan mata. Maukah kamu dimurnikan agar tetap sehat dan menjadi berkat bagi mereka yang di luar sana?

2021-11-26T12:56:45+07:00