///Catatan harian seorang pemimpi

Catatan harian seorang pemimpi

Inilah yang kuanggap sebagai penghiburan atas penderitaan demi penderitaan yang belakangan (tak habis-habisnya) aku alami. Tentang kepala penjara itu, ia pernah berkata bahwa ada sesuatu yang berbeda dari pancaran mataku. Benarkah demikian?  Mungkin inilah yang dulu juga membuat saudara-saudaraku begitu bencinya kepadaku. Mereka merasa Ayah kami memperlakukan aku secara berbeda dengan mereka semua. Panjang ceritanya sampai aku bisa berada di tempat pengap dan kelam ini, tetapi memang kasih sayang selalu aku terima di manapun aku berada. Anugerah atau kutukankah ini? Ah, yang jelas, aku mau hidup dan tidak ingin mati kehabisan napas karena keadaan, sebab aku adalah Yusuf. Yehova sendiri akan menambahkan kekuatan dari padaNya bagiku.

Aku ingin menutup semua cerita masa lalu. Titik terendah dalam sejarah kehidupanku adalah ketika saudara-saudaraku sendiri mengolok-ngolok dan menghempaskan tubuhku ke dalam sumur. Aku ingat bagaimana di dalam lubang kegelapan itu aku berteriak minta ampun atas kesalahan yang aku sendiri tidak pernah mengerti. Pertanyaanku masih saja sama hari ini, mengapa hari itu mereka tetap bulat dengan pendirian mereka, bahwa aku harus disingkirkan? Sama sekali tidak pernah terlintas demikian jijiknya aku di mata mereka, saudara-saudaraku sedarah dan sedaging.

Apakah ada kebencian di hati ini terhadap saudara-saudaraku? Hanya Tuhan yang bisa menjawab. Lama aku bekerja keras dan belajar mencintai hidupku di sini, dan sekarang aku telah menerima bahwa inilah rumahku yang sekarang. Aku tidak lagi melihat ke belakang dan kini menerima takdirku sebagai seorang terhukum. Tentang Ayah, adik, rumah… rapat-rapat mata ini kupejamkan dari bayangan akan mereka. Aku terkurung sangat jauh dan terlalu sulit untuk bisa kembali. Penderitaan benar-benar telah menjadi sahabat karibku. Ia membuat aku menjadi lebih kuat daripada hari kemarin. Siapakah yang ingin menghempaskan aku lebih jauh lagi? Asalkan Yehova besertaku, aku tidak takut. Seperti kubilang, namaku adalah Yusuf. Tuhan akan menambahkan segala yang baik dalam hidupku.

Pernah, dua ekor kupu-kupu datang di antara jeruji besi penjara ini. Mereka sempat tinggal bersama aku, si ulat. Di rumah tahanan ini, kami hidup bersama dan mereka berjanji akan membawa aku keluar jika mereka berhasil terbang melampaui tembok yang tinggi itu. Aku senang sekali tentu! Si ulat ini membayangkan menjadi kupu-kupu yang naik terbang ke atas awan, dan menembus segala jarak untuk menemui mereka yang sangat dirindukan di jauh sana. Berharap dan berharap, tiap hari menunggu saat itu. Mereka berjanji demikian, dan aku percaya.

Dalam penantian, akhirnya kami pun mendapat kabar bahwa pintu terbuka luas dan mereka tak perlu lagi tinggal di dalam sini. Persis seperti perkataanku, yang satu mati terhukum dan yang lainnya dibebaskan untuk kembali lagi ke dalam istana. Aku sangat sedih atas apa yang menimpa temanku yang satu itu, sekaligus juga sangat bahagia atas kerinduanku untuk dibawa serta keluar sana. Dengan bersemangat aku melepas kepergian si kupu-kupu istana dan berkata, “Jangan lupakan aku! Aku menunggu di dalam sini!” Namun, apa yang terjadi? Sehari, dua hari, tiga hari, setahun… Waktu terus berjalan, aku berharap, dan pada akhirnya aku tersadar. Semua ini hanya ilusi! Aku telah dilupakan dan aku tidak akan kemana-mana. Rasanya seperti apa? Hancur. Sekali lagi hatiku remuk dibuat.

Tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa setiap kali bangun pagi aku akan tetap menyaksikan tembok dan jeruji penjara yang tebal ini. Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku memang tidak akan bertemu dengan Ayah dan adikku. Rasa sakit dan sesak di dada seketika menyertai air mata yang kukira selama ini sudah kering. Gelapnya malam menjadi saksi bagaimana rapuhnya seorang “Yusuf” yang kukira selama ini cukup tegar. Tidak bisa kuceritakan bagaimana aku hampir dibuat menyerah oleh keadaan. Namun syukurlah, sekali lagi, aku kembali bangkit. Aku dapat menerima kenyataan di depan mataku dan kembali kuat untuk menjalani hidup. Bahwa jangan pernah berharap selain kepada Allah adalah nilai penting untuk kupegang.

Semua aktivitasku di dalam sini kembali kujalani, dan aku hampir-hampir tidak lagi ingat tentang keinginanku untuk terbang ke luar sana. Ini hidupku dan aku harus bahagia. Oh, kepala penjara yang baik hati itu, ia sangat suka dengan semua hasil pekerjaanku. Aku semakin giat tentu dan tak ingin mengecewakan pemimpin kami itu. Kekuatan demi kekuatan yang kuperoleh sampai dengan hari ini barang tentu datangnya dari Ia yang menyertaiku. Bagaimana mungkin aku dapat mengingkari semua anugerah ini. Sudahlah cukup mendapat kebaikan demi kebaikan di tempat yang orang bilang tak ada masa depannya. Aku berkata kepada jiwaku, “Yusuf, cukuplah kasih karunia Tuhan bagimu!” Di titik hidupku sekarang ini, aku bisa tersenyum dan merasa puas, bukankah ini adalah mujizat?

Ah, perjalanan ini tidak mudah. Namun, aku menaruh kepercayaan betapa aku akan menemukan sebuah kebaikan lainnya yang tidak pernah dilihat oleh mata ini, tidak pernah didengar oleh telinga ini, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati ini. Ia dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Mengapakah engkau sedih hai jiwaku? Mengapa tak datang saja kepada Allahmu setiap hari? Yusuf, Tuhanlah pengharapanmu dan kekuatanmu!
(tulisan ini hanyalah kisah fiksi yang disadur dari perjalanan hidup Yusuf dalam penantiannya akan Allah)

2016-04-22T06:07:16+07:00