///Chef in your ear

Chef in your ear

Chef in Your Ear adalah sebuah acara TV reality show tentang lomba memasak yang unik. Peserta lomba adalah orang yang awam dalam memasak, tetapi ia dibantu oleh seorang koki yang ahli. Koki ahli ini memberikan arahan dan perintah agar si peserta bisa memasak. Dengan bantuan layar monitor dan alat komunikasi, koki ahli memperhatikan dan mengarahkan peserta untuk melakukan proses memasak sesuai dengan kehendaknya. Dalam waktu satu jam, koki ahli dituntut untuk bisa mengarahkan peserta melalui sebuah proses memasak untuk menghasilkan satu menu makanan kualitas restoran.

Kunci keberhasilan dalam lomba ini sebenarnya bukanlah keahlian sang koki ahli, karena pada dasarnya koki ahli yang disediakan adalah koki ahli yang memang berpengalaman dan terkenal unggul di bidangnya. Kunci keberhasilan sebenarnya adalah keterampilan komunikasi. Selain kemampuan mengarahkan dari sang koki ahli, kemampuan mendengar dan ketaatan peserta untuk melakukan arahan sang koki ahli juga sama pentingnya. Peserta tidak boleh mempertahankan ego dan pemikirannya sendiri, tetapi dia harus taat mendengar dan melakukan arahan sang koki ahli.

Menyaksikan acara ini membuat saya teringat akan kompetisi yang sedang kita semua jalani sebagai anak-anak Tuhan, yaitu kompetisi melawan tipu muslihat iblis. Kita memiliki “koki ahli” yang agung pula, yaitu Allah Bapa yang senantiasa memperhatikan dan memberikan perintah pada kita. Sayang, sebagai peserta yang awam, kita sering merasa lebih tahu, lebih mengerti, dan bersikeras bertindak di luar perintah atau arahan Allah Bapa. Kita memiliki banyak siasat dan mempertahankan ego dan pemikiran sendiri, sehingga kita pun lalai mendengarkan suara Allah. Akibatnya, kita kalah berperang melawan tipu muslihat iblis.

Kunci keberhasilan dalam peperangan anak Tuhan adalah ketaatan mendengar dan melakukan apa yang Allah Bapa perintahkan. Ketaatan ini bisa nyata kalau kita mau menyerahkan perasaan, pikiran dan kehendak kita pada-Nya, bukan mempertahankan semua itu. Apa artinya menyerahkan perasaan, pikiran, dan kehendak kita kepada Allah?

Perasaan kita bukan lagi tentang diri kita, tetapi tentang kasih Allah, sehingga dalam setiap situasi kita bisa terus mempraktikkan kasih Allah. Perasaan kita bukan lagi menuntut untuk dikasihi, tetapi rela untuk mengasihi. Dalam hubungan dengan pasangan, anak, teman, atau siapa pun, kita tidak menuntut, tetapi justru ingin memberi dan menyatakan kasih.

Pikiran kita bukan lagi tentang hal-hal duniawi, tetapi tentang Allah Bapa. Bukan berfokus pada hal-hal duniawi, tetapi berfokus pada hati Bapa, yaitu memperluas Kerajaan Allah di bumi. Pikiran kita harus dipenuhi dengan keberlimpahan surgawi, sehingga tidak perlu lagi ada kekhawatiran yang melemahkan dan menguasai.

Kehendak kita juga bukan lagi tentang mencapai atau melakukan apa yang baik menurut dunia, tetapi kini selaras dengan kehendak Allah Bapa. Kita menyerahkan setiap kehendak kita, dan mau taat melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya.

Dengan menyerahkan perasaan, pikiran, dan kehendak kita kepada Allah terus-menerus, akhirnya hidup kita bukan lagi kita yang hidup, tetapi Kristus Yesus yang memenuhi hidup kita (Gal. 2:22). Syukurlah, kita memiliki waktu sebanyak atu kali masa hidup untuk menyelesaikan pertandingan iman ini dengan baik, bukan hanya satu jam seperti dalam acara Chef in Your Ear.

Mari kita selesaikan pertandingan ini dengan baik, yaitu dengan menyerahkan hidup kita dan mendengarkan arahan serta perintah “koki ahli agung” kita, Allah Bapa. Hanya dengan demikianlah kita akan berhasil menang dari segala tipu muslihat iblis.

“Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” (2 Kor. 10:5)

 

2019-10-11T11:01:11+07:00