//Cherry Picking

Cherry Picking

Banyak orang cepat membagi informasi tanpa mengerti isinya. Contohnya, di media social; dengan hanya membaca judul artikel tanpa membaca isinya pun, orang cenderung cepat mengambil kesimpulan dan mengklik tombol “share” untuk membagikannya. Menangkap kecenderungan ini, kini semakin banyak media penyedia berita membuat judul yang berlebihan bahkan sering kali tidak sesuai dengan kontennya, demi memancing orang untuk mengklik tautan milik mereka. Jumlah klik adalah kriteria utama untuk menaikkan popularitas sebuah media di internet, maka semakin banyak klik semakin tinggi pula nilai media itu untuk iklan atau sponsor. Jika kita lihat dengan jeli, judul tautan yang bombastis tentu sering atau pernah muncul di linimasa media sosial kita. Padahal bila kita buka, isinya sering kali adalah hoax.
————————————————-

Hoax sesungguhnya bukanlah hal baru; Paus Francis bahkan berpendapat bahwa perkataan ular di Taman Eden adalah hoax yang pertama kali dalam sejarah manusia1. Adam dan Hawa gagal melakukan konfirmasi kepada Tuhan semua perkataan ular, sehingga mereka akhirnya jatuh dalam dosa, terusir dari Taman Eden dan mendapat kutuk karena mereka terjebak hoax. Anggaplah Taman Eden adalah sebuah laman media sosial, dan Adam dan Hawa melihat post terbaru dari si ular yang muncul di linimasa mereka, yang berjudul “Buah Berkhasiat Yang Dapat Membuat Kita Menjadi Seperti Tuhan!”. Adam dan Hawa pun mengklik tombol “like” dan “share” (bahkan juga berbelanja online memesan buah itu!).

Yesus melabeli Iblis sebagai bapa dari segala tipu muslihat (Yoh. 8:44). Tidak hanya manusia, Yesus pun pernah mengalami pencobaan dari Iblis. Seperti ingin mengulangi kesuksesannya di Taman Eden, Iblis kembali memakai senjata pamungkasnya, hoax, dengan mencobai Tuhan Yesus di padang gurun. Titik akhir dalam puasa panjang Yesus mungkin menjadi kesempatan emas bagi Iblis untuk menjatuhkan Yesus, yang mungkin sedang berada dalam kondisi fisik terlemah. Iblis pun mengeluarkan kebohongan terbaik untuk mencapai tujuannya tersebut. Dari tiga “peluru” yang dikeluarkan, kebohongan yang terakhir adalah kebohongannya yang paling menyesatkan. Ketika menantang Yesus untuk menjatuhkan diri, Iblis bahkan mengutip ayat di Alkitab, yaitu Mazmur 91 ayat 11-12, “…sebab malaikat-malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.” Wah, sungguh meyakinkan! Namun, Yesus tidak tertarik dengan kebohongan yang dipajang Iblis di “lini masa media sosial”-Nya. Yesus tidak termakan hoax itu. Walau dalam kondisi fisik yang kelaparan, Yesus lebih cerdas daripada tipuan Iblis.

Mari kita perhatikan lebih cermat. Ayat yang dipakai Iblis adalah kebenaran Firman Tuhan, tetapi ucapan Iblis itu tetaplah kebohongan. Yang Iblis lakukan adalah menarik ayat tersebut dari konteks aslinya dan memakainya untuk kepentingan pribadinya. Mazmur 91 adalah tentang orang mendapat perlindungan dari Tuhan karena dia tinggal di dalam Tuhan. Perlindungan Tuhan adalah konsekuensi dari seseorang yang memutuskan untuk selalu dekat dengan Tuhan, bukan karena orang itu asal sok-sokan mencobai Tuhan untuk memamerkan perlindungan-Nya. Iblis tidak menyampaikan konteks yang utuh ini, sehingga sebagian kebenaran yang disampaikannya itu menjadi sebuah kebohongan yang menyesatkan. Yesus tahu hal ini, dan Dia melengkapinya dengan mengutip Ulangan 6:16 “Jangan kamu mencobai Tuhan, Allahmu.” Siapa yang benar? Yesus. Tentu saja bila kita yang dijamin mendapat perlindungan Tuhan, dengan sengaja mencoba menjatuhkan diri, itu sama saja dengan mencobai Tuhan. Yesus tidak terpedaya oleh tipu muslihat terbaik iblis sekalipun. Bagi Yesus, jelas sekali bahwa ayat yang dipakai Iblis itu hanya menjadi pembungkus dari maksud liciknya, agar yang bohong terlihat benar.

Sebagai contoh di zaman modern ini, dalam cerita film Iron Man, tepatnya film yang kedua, Tony Stark yang adalah Iron Man dianggap berbahaya karena memiliki persenjataan yang canggih yang dapat menjadi ancaman bagi keamanan negara. James Rhodes, sahabat Tony Stark (Iron Man), di hadapan para pimpinan kongres memberikan laporan tentang keuntungan dan risiko kehadiran Iron Man. Namun, di tengah-tengah sidang James Rhodes diminta hanya membacakan satu paragraf pendek yang bertuliskan risiko Iron Man sebagai ancaman publik, padahal bagian yang membela dan menjelaskan keuntungan Iron Man jumlahnya lebih dari ratusan halaman. Pimpinan Kongres menghiraukan keutuhan laporan James Rhodes dan mengambil sebagian kecil saja untuk menjustifikasi maksudnya menghukum Iron Man.

Pada tahun 2009, dunia dihebohkan oleh merebaknya jenis flu baru yang disebut Swine Flu (penyakit flu babi). Pemerintah berbagai negara bergerak cepat mencari obat untuk penyakit tersebut, sampai terdengar bahwa sebuah merek obat flu biasa teruji bisa menyembuhkan swine flu. Mengetahui temuan itu, Pemerintah Inggris mengeluarkan biaya 500 juta Poundsterling demi memproduksi obat itu besar-besaran. Namun, ternyata obat itu tidak bisa menghentikan wabah swine flu2. Setelah diselidiki mengapa obat itu bisa lulus uji klinis sebelumnya, ternyata terjadi obat itu diujicoba sebanyak 10 kali, lalu hanya hasil dari dua kali ujicoba yang dipublikasi, sedangkan hasil dari sisanya yang delapan kali tidak.

Dalam dunia akademis, yang Iblis lakukan terhadap Yesus, Pimpinan Kongres lakukan terhadap James Rhodes, dan publikasi sebagian hasil ujicoba obat swine flu ini disebut sebagai cherry picking (memetik buah ceri – maksudnya mengambil sebagian materi yang dianggap menguntungkan bagi tujuan pelaku dari keseluruhan materi yang utuh). Cherry picking menyesatkan. Walaupun yang kita ambil adalah fakta, tetapi karena tidak utuh dan di luar konteks, hasilnya dapat lebih berbahaya daripada hoax yang murni bukan fakta.

Bayangkan bila kita melakukan cherry picking terhadap Firman Tuhan. Berbahaya sekali jika kita (mungkin tanpa sadar) menarik satu ayat keluar dari konteksnya dan mengabaikan ayat lainnya demi mendukung opini kita. Apa pun yang Tuhan letakkan di dalam Alkitab, masing-masing memiliki arti dan tempat yang spesifik sesuai konteks yang Dia maksudkan. Melakukan cherry picking terhadap Alkitab bisa menyesatkan kita secara pribadi dan orang lain yang mendengar kita. Lebih parah lagi, terhadap dosa kita yang sudah jelas-jelas salah pun kita bisa mencari pembenaran dengan asal-asalan di dalam Alkitab, dengan jurus cherry picking. Kita mengutip kisah Yesus yang membalikkan meja-meja pedagang di Bait Allah untuk membenarkan kebiasaan kita marah-marah; kisah Nuh untuk membenarkan bahwa bukan masalah yang besar kalau kita minum-minum sampai mabuk; kisah Daud dan Yonatan untuk membenarkan homoseksualitas; kisah Salomo untuk membenarkan hubungan asmara dengan banyak pasangan; dan banyak lagi lainnya.

Alkitab sejatinya bukanlah sebuah kumpulan buku yang terpisah-pisah, melainkan sebuah satu kesatuan teks yang ditulis oleh berbagai penulis dengan rentang waktu yang sangat panjang, oleh wahyu Roh Allah sendiri. Alkitab menceritakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dan isinya dengan baik, dosa kemudian masuk merusak ciptaan Tuhan, Yesus datang untuk menebus manusia dari dosa, serta kedatangan-Nya yang kedua kali untuk kemudian terwujud kesatuan kekal manusia dengan Dia. Tuhan adalah subjek utama dalam Alkitab, dan seluruh isi Alkitab harus dipahami dalam keutuhan maksud-Nya. Bila kita ingin menghindari cherry picking dalam mengerti ayat-ayat Alkitab, kita harus belajar untuk merenungkan dan menemukan Sang Subjek Utama itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus, dalam setiap ayat yang dibaca. Pengertian dari perenungan yang utuh inilah yang kemudian dapat kita bagikanuntuk memberkati orang lain. Selain itu, kita juga bisa melakukan peer review, yaitu mengizinkan orang lain mengevaluasi hasil perenungan kita dan membuka ruang untuk masukan dan koreksi. Hal ini selain menghindari kita dari pengertian yang salah, juga akan memperkaya dan memperdalam pengenalan kita terhadap Yesus Kristus menjadi lebih sehat, lengkap, dan utuh.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” – 2 Timotius 3:16-17

2019-09-27T12:28:22+07:00