///Cinta bertepuk sebelah tangan

Cinta bertepuk sebelah tangan

Mungkin ada di antara kita yang pernah mengalami hal yang serupa dengan lagu ini. Kita merasa telah menemukan orang yang cocok untuk menjadi pasangan kita. Kita jatuh cinta kepadanya dan berharap cinta kita dibalas. Namun, ternyata orang yang kita sukai atau cintai bersikap biasa-biasa saja kepada kita, tidak menunjukkan tanda-tanda menyukai kita. Tentu hal ini akan membuat kita menjadi galau. Kegalauan kita dapat mengerucut menjadi rasa kecewa, malu, sedih atau marah bila ternyata orang yang kita cintai mengatakan, baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa ia tidak memiliki perasaan cinta kepada kita. Memang wajar jika kita menjadi kecewa, malu, sedih atau marah saat cinta kita tak berbalas. Namun, kedewasaan jiwa serta iman bahwa suatu saat kita akan bertemu dengan orang yang tepat, yang akan mengasihi kita, kita tidak akan berlarut-larut dalam perasaan-perasaan tersebut. Kita akan cepat move on dan menjalani hidup selanjutnya dengan tetap optimis serta penuh syukur. Sebaliknya, bila kita belum cukup dewasa dalam menghadapi situasi cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka dapat muncul respon berupa pemikiran dan perilaku yang negatif, yang dapat merugikan diri kita sendiri maupun orang lain, antara lain:

Menolak kenyataan
Respon lain yang dapat terjadi ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan adalah menolak kenyataan. Teman-teman kita dapat memberikan daftar tanda-tanda yang menunjukkan bahwa si dia memang tidak tertarik pada kita, namun kita tidak bergeming. Kita tetap yakin bahwa si dia menyukai kita. Perasaan suka atau cinta yang menguasai membuat kita tidak dapat atau tidak mau melihat hal-hal yang kurang dari si dia. Perilaku dia yang menurut teman kita biasa-biasa saja terhadap kita, malah kita lihat/perhitungkan sebagai ekspresi perhatian dan rasa suka kepada kita. Kalaupun kita mulai dapat melihat bahwa si dia biasa-biasa saja dengan kita, kita menganggapnya belum menyadari perasaan yang sebenarnya menyukai atau mencintai kita, maka kita akan memberi perhatian dan mengatur cara untuk menyadarkan dia bahwa ia mencintai kita. Kita memiliki wishful thinking, ilusi yang diharapkan menjadi kenyataan. Kita memiliki delusi, menganggap diri kita yang paling cocok atau layak menjadi pasangannya. Yang lebih rumit lagi, ternyata yang menyukai si dia bukan hanya kita, tetapi juga teman-teman kita. Dalam situasi seperti ini kita menjadi bersaing dengan teman-teman kita, terlibat dalam kompetisi hingga hubungan pertemanan menjadi renggang dan bahkan timbul konflik. Kita pun berusaha merebut perhatian si dia dengan berperilaku sesuai dengan yang ia sukai, bukan sesuai dengan kepribadian asli kita. Jarang kita sadari bahwa hubungan yang dibangun dengan kepalsuan pada akhirnya dapat kandas dengan lebih menyakitkan.

Terjebak dalam pengalaman masa lalu
Sayangnya, kebanyakan dari orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa pengalaman penolakan cinta di masa lalu dan perasaan negatif yang menyertainya-lah, yang membuat dia menghalangi dirinya sendiri untuk menemukan cinta sejatinya. Pengalaman ditolak ini tidak selalu harus dari calon kekasihnya, namun dapat juga dari pengalaman masa lalu yang tidak terkait dengan pengalaman cinta romatisnya. Misalnya, dari orang tua yang pernah menolaknya atau tidak membalas ekspresi cintanya pada masa kecilnya, atau dari teman lawan jenis yang menolak cintanya saat remaja. Perasaan negatif yang muncul karena ditolak pada waktu itu, terbawa terus sampai masa kini. Perasaan negatif yang muncul pada masa lalu itulah yang muncul kembali dan menjadi semakin kuat sehingga menimbulkan rasa yang tidak nyaman. Maka, tidak mengherankan bila selanjutnya, ia pun menghindari atau mengantisipasi dengan tidak menyatakan cintanya lagi. Namun sebenarnya agar dapat pulih, orang seperti ini harus dapat mengidentifikasi dan menghadapi perasaan yang muncul itu, bukan malah menghindar darinya. Perasaan malu, marah, takut atau yang lainnya, harus diakui dan dikelola agar semakin tidak mengontrol atau mempengaruhi dirinya. Ia perlu mengampuni dengan tuntas orang yang pernah menolak cintanya itu. Selanjutnya, ia perlu belajar mengelola perasaan negatif itu. Dengan cara demikian, maka lama kelamaan perasaan yang negatif dapat berubah menjadi netral bahkan positif. Penolakan pun dapat dihadapi dengan emosi yang wajar, terbuka dengan cinta dan memiliki iman akan cinta sejati.

Kesepian
Salah satu hal yang dapat menyebabkan kita cenderung memaksakan agar ia mencintai kita adalah karena kita tidak memiliki iman bahwa Tuhan dapat memberi pasangan hidup yang terbaik untuk kita, bahwa Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang sungguh-sungguh mencintai kita dan kita akan dipertemukan dengannya, tepat pada waktuNya. Maka, walaupun di hati yang terdalam kita mengetahui bahwa si dia tidak mencintai kita, kita tetap berupaya dengan kekuatan kita sendiri agar ia mencintai kita. Atau, hal ini juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang menuntut kita untuk segera memiliki pasangan, karena usia ataupun kelaziman di lingkungan pergaulan kita. Maka, kita berfokus untuk mendapatkan si dia yang sudah ada di depan mata. Kita berangan-angan betapa bahaginya bila kita dapat hidup bersama dengan dia. Kita tidak menyadari bahwa gambaran mengenai dia yang kita bangun adalah dari harapan dan khayalan kita sendiri. Dan ketika semua khayalan ini tidak menjadi kenyataan, ketika kenyataan mulai menunjukkan hal sebaliknya, kita menjadi kesepian dan nelangsa. Dalam kesepian, pemikiran dan perasaan seringkali menjadi semakin kacau dan menenggelamkan diri kita.

Menjadi tertutup terhadap cinta sejati
Orang yang ditolak cintanya dapat menjadi sangat malu sehingga tidak pernah berani lagi menunjukkan atau menyatakan perasaan cintanya kepada orang lain. Penilaian terhadap dirinya pun berubah dengan menganggap dirinya tidak menarik, tidak berharga dan tidak layak untuk dicintai. Ia dapat memandang sinis hal-hal yang terkait dengan cinta, misalnya ia tidak percaya adanya cinta sejati. Ia juga dapat lebih memilih hidup sendiri daripada menghadapi resiko ditolak kembali cintanya. Bila pun suatu saat ada orang yang datang menyatakan cinta kepadanya, ia tidak dapat sepenuhnya mempercayai orang ini. Dalam menjalin hubungan dengan orang yang mencintainya, ia tidak dapat mengekspresikan dan menerima cinta dengan wajar dan lepas, namun cenderung berusaha melindungi hatinya. Ini karena ia memiliki kepercayaan yang salah (false belief) bahwa pasangannya tidak sungguh-sungguh mencintainya sehingga ia menjaga hatinya agar tidak terlalu sakit lagi bila sewaktu-waktu terbukti pasangannya tidak mencintainya. Orang-orang seperti ini tidak merasa aman dalam menjalin hubungan cinta dengan pasangannya.

Segala hal di atas memang biasa terjadi pada kita yang mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mengerikan sepertinya, namun masih ada jalan keluar bagi kita yang sedang mengalaminya. Semuanya kembali pada firman Tuhan. Bagaimana kita menjadikan firman Tuhan sebagai pembaharu pikiran kita, itulah yang akan menjadi solusi/obat bagi gejala-gejala patah hati yang telah diuraikan di atas. Mengapa demikian?

Secara psikologis, dapat diketahui bahwa hal-hal yang dapat menyebabkan orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan berespon secara berlebihan atau tidak tepat adalah karena memiliki keyakinan/pemikiran yang salah (false belief) tentang dirinya sendiri, tentang cinta dan tentang kebahagiaan. Mereka merasa dirinya tidak berharga, tertolak, dan kesepian. Hal ini membuat mereka dapat melakukan tindakan yang disadari maupun tidak, merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Maka, yang harus dilakukan oleh mereka atau kita yang pernah/sedang mengalami hal yang sama adalah dengan menggantikan pemikiran kita yang salah selama ini dengan pemikiran yang benar, yaitu yang sesuai dengan firman Tuhan. Ingatlah, bahwa hanya firman Tuhanlah sumber kebenaran yang dapat memerdekakan kita. Firman Tuhan mengatakan, “Engkau berharga di mata-Ku dan mulia dan Aku ini mengasihi engkau.” (Yes. 43:4a); serta “Aku bersyukur kepada-Mu  oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib ; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mzm. 139:14). Inilah kebenarannya. Renungkanlah, resapilah dan ijinkan firman itu menjadi iman bagi hidup kita. Milikilah kesadaran yang berdasarkan kebenaran yang sesungguhnya: kita ini spesial, berharga dan dikasihi Tuhan.

Firman Tuhan dalam Yeremia 29:11 mengatakan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Mazmur 37:4 BIS mengatakan “Carilah kebahagiaan pada Tuhan, Ia akan memuaskan hatimu.” Inilah kebenarannya. Bila kita masih merasa hari-hari kita masih suram, datanglah kepadaNya dan mintalah petunjuk mengenai rancanganNya agar kita tidak membuat rancangan sendiri dan tersesat. Ikutilah jalanNya, temukan kebahagiaan dan kepuasan hati kita pada diriNya, dan bersukacitalah ketika kita akhirnya dipertemukan dengan pasangan yang sepadan dan mencintai kita dalam Tuhan.

2015-02-24T06:53:23+07:00