//Cinta yang Terputus

Cinta yang Terputus

Hari itu tepat dua puluh tahun sejak kami terakhir bertemu. Ya! Tepat dua puluh tahun. Aku ingat betul karena setiap kenangan tentang pria ini terekam kuat di kepalaku. Ada suatu masa kami sangat dekat, sampai kemudian ia pergi menghilang bak ditelan bumi.

 

Ceritaku berawal dari sepupuku, Anne. Richard adalah kerabat dekat suami Anne, yang bersuku Maluku. Kami diperkenalkan lewat telepon, ketika Richard sedang berbincang-bincang dengan suami Anne. Aku ada di situ, dan spontan saja Anne menginisiasi perbincangan kami. Aku di Jakarta, dan Richard entah di belahan lautan mana. Dari perbincangan di udara itu, perkenalan kami pun berkembang menjadi hubungan akrab. Pria yang berprofesi sebagai pelaut ini datang menemui aku di Jakarta.

 

Dari sekian banyak pria yang pernah datang, Richard yang paling istimewa. Selain sudah mapan, karakternya juga sangat cocok di hatiku. Ia sangat baik dan rendah hati. Aku semakin yakin dengan hatiku ketika Richard datang ke rumah menemui papi dan mamiku. Dari kamar, kulihat papi berbincang-bincang dengan Richard. “Aman…” aku bergumam dalam hati karena senang melihat tanggapan Papi, sedangkan Mami, kulihat beliau juga sangat senang dengan Richard. “He is the one…,” sambil menatap Richard, aku berkata pada diriku sendiri.

 

Suatu hari, Richard menelponku ke kantorku, tetapi waktu itu aku tak bisa menanggapinya mengobrol sedikit pun karena aku sedang berkomunikasi dengan atasan. Hanya beberapa kata aku katakan kepada Richard ketika itu, entah apa. Yang pasti aku sampaikan bahwa kita belum bisa bicara dulu. Dua puluh tahun lalu, sarana komunikasi belum seperti sekarang. Masih terbatas. Aku saja belum punya ponsel waktu itu. Namun entah bagaimana, salah di mana, komunikasi kami sekonyong-konyong terputus. Hari itulah jejak terakhirnya ada di dalam hidupku.

 

Sejak peristiwa itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang Richard. Aku pernah mencoba mengorek informasi dari Anne, tetapi Anne pun tak pernah lagi mendapat kabar dari Richard. Ke mana pria ini? Setiap hari aku menunggu. Entah emosi apa yang ada di dada ini. Marah, bingung; yang pasti… aku rindu! Richard tak pernah lagi memberi kabar, apalagi menunjukkan batang hidungnya. Aku sendiri? Aku tetap menunggu.

 

Dua puluh tahun berselang; dan tanpa kusangka-sangka, kami bertemu kembali di rumah Anne, sepupuku. Saat itu, aku sedang mendampingi Anne mempersiapkan prosesi pemakaman suaminya yang berpulang ke rumah Bapa di surga. Betapa terkejutnya aku hari itu ketika melihat Richard berdiri tepat di depan mataku. Pria ini, yang hilang ditelan bumi, kini muncul kembali. Namun, tentu situasi sudah tak sama lagi.

 

Kami berbincang-bincang, dan di situlah aku tahu bahwa Richard sekarang telah berumah tangga dan memiliki tiga orang anak. “Kamu sendiri sudah punya berapa anak?,” tanya Richard. “Aku belum menikah,” jawabku. Richard tak percaya. Ia pikir aku bergurau. Padahal, begitulah kenyataannya. Aku belum menemukan pria lain yang dapat mengisi hati ini, setidaknya seperti apa yang pernah aku rasakan bersama Richard. Perbincangan kami sempat canggung di awal, tetapi kemudian mulai mencair. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku mengajukan pertanyaan yang telah lama sekali kusimpan. “Kamu kemana?”

 

Hari itulah baru kutahu, Richard pergi karena salah mengerti. Aku ingin marah rasanya, tetapi tak ada gunanya juga aku marah. Pada hari terakhir Richard meneleponku, pria pemalu ini rupanya menyangka bahwa aku meminta dia untuk tidak pernah menghubunginya lagi. Bayangkan bagaimana kagetnya aku! Padahal saat itu yang kumaksud adalah untuk tidak menghubungiku dulu saat itu, karena konteksnya aku sedang berbicara dulu dengan atasanku. Bukan cuma itu saja. Richard juga rupanya salah menyangka bahwa papiku tidak menyukainya. Padahal, ia salah besar. Papi dan mamiku menyukai Richard. Dua asumsi inilah yang membuat kami terpisah sekian lama; dan, kami “tidak berjodoh”. Kulihat raut penyesalan di wajah pria ini ketika mendengar penjelasanku. Namun, sama saja, menyesal toh sudah tak ada gunanya. Detik itu, ketika jawaban sudah kutemukan, aku pun merelakan dirinya pergi dari hatiku untuk selama-lamanya.

 

Asumsi, betapa mahal harga yang harus dibayar karenanya. Ah, sudahlah Setidaknya ini menjadi pelajaran. Aku gagal bersama Richard, karena asumsi yang timbul dalam proses komunikasi yang rusak. Daripada terus hidup dalam penyesalan, lebih baik kupastikan: aku tak akan gagal dalam hubunganku bersama mempelaiku yang kekal, Yesus Kristus. Akan kudengar suara-Nya dengan jelas dan kubaca isi hati-Nya di dalam Alkitab, agar tak perlu ada salah mengerti dan asumsi yang merusak.

 

… meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya. (Efesus 1:18)

 

(Yans P.D. Pattiwael)

2019-09-27T11:45:09+07:00