//Come What May (无论发生什么)

Come What May (无论发生什么)

COME WHAT MAY

无论发生什么

APA PUN YANG TERJADI

 

 

One sunny day, the sky was clear. You were strolling in the streets of Tokyo, gazing at the many tall buildings around, enjoying the cool light breeze. You were taking your time, but you noticed how busy the local people were around you. … Suddenly, you realized the ground began to shake, and you saw the water in your drinking bottle trembles. Earthquake! People, including you, quickly tried to find shelters and preparing to evacuate. They all had a similar pose while using their bags as a piece of self-protection from injury, and you copied their move. In the seconds of those quick emergency steps, you started to realize no one was in panic. They did all the procedures calmly and orderly, and you could clearly see it was for the best and safest for all… What an amazing sight!

想象一下一个阳光明媚的日子,天空是明亮的。你悠闲地走在东京的街头,看着周围的高楼大厦,享受着凉爽的微风。你静静地走着,但你意识到周围的当地人有多么忙碌。 ……突然,你注意到地面在震动,你注意到水瓶里的水也在震动。地震!包括您在内的人们迅速寻找庇护所并准备撤离。他们都采取相似的姿势,同时使用包作为保护自己免受伤害的手段,你模仿他们的动作。在采取这些快速紧急措施的几秒钟内,您开始意识到没有人感到恐慌。他们冷静而有序地进行了所有程序,你可以清楚地看到这对所有人来说都是最好、最安全的……真是令人惊叹的景象!

Bayangkan suatu hari yang cerah, dan langitnya tampak terang. Anda sedang melangkah santai di jalanan Tokyo, memandangi gedung-gedung tinggi di sekitar, menikmati angin sepoi-sepoi yang sejuk. Anda berjalan tenang, tetapi Anda menyadari betapa sibuknya penduduk setempat di sekitar Anda. … Tiba-tiba, Anda menyadari tanah terasa berguncang, dan Anda melihat air di botol minum Anda bergetar. Gempa bumi! Orang-orang, termasuk Anda, dengan cepat mencoba mencari tempat berlindung dan bersiap untuk evakuasi. Mereka semua mengambil posisi serupa sambil menggunakan tas mereka sebagai alat perlindungan diri dari cedera, dan Anda meniru gerakan mereka. Dalam hitungan detik langkah-langkah darurat yang cepat itu, Anda mulai menyadari tidak ada seorang pun yang panik. Mereka melakukan semua prosedur dengan tenang dan tertib, dan Anda dapat dengan jelas melihat bahwa itu adalah yang terbaik dan teraman untuk semua… Sungguh pemandangan yang menakjubkan!

 

 

Yes. Japan is no stranger to earthquakes. As a matter of fact, Japan is part of the “Ring of Fire,” a major area in the Pacific Ocean where a great many of the world’s earthquakes and volcanic eruptions occur. The country has numerous active volcanoes, around 110 in total, about which 47 are listed as active. Interestingly, because of those conditions, buildings in Japan are designed in such a way to withstand earthquakes to around magnitude 7 to 8 on the Richter scale without significant structural damage. Japan’s building codes are among the strictest in the world, and the country’s earthquake-resistant designs ensure that even in severe tremors, buildings can sway and absorb energy without collapsing! This, is on top of the well-trained and well-prepared people to face the risks anytime an earthquake comes!

是的。日本对地震并不陌生。事实上,日本是“火环”的一部分,这是太平洋上的主要地区,世界上许多地震和火山爆发都发生在这里。该国有许多活火山,约有110座,其中47座被列为活火山。有趣的是,由于这些条件,日本的建筑物的设计方式可以承受里氏 7 至 8 级地震,而不会造成严重的结构损坏。日本的建筑规范是世界上最严格的之一,该国的抗震设计确保即使在强烈地震中,建筑物也能摇摆并吸收能量而不会倒塌!而且,请记住,所有这一切都与受过训练并准备好在地震发生时承担风险的人们相结合!

Ya. Jepang memang tidak asing dengan gempa bumi. Bahkan faktanya, Jepang merupakan bagian dari “Cincin Api”, wilayah utama di Samudra Pasifik tempat banyak gempa bumi dan letusan gunung berapi terjadi di dunia. Negara itu memiliki banyak gunung berapi yang masih aktif, sekitar 110 gunung berapi, dan 47 di antaranya terdaftar sebagai gunung berapi yang masih aktif. Menariknya, karena kondisi tersebut, bangunan-bangunan di Jepang dirancang sedemikian rupa untuk menahan gempa bumi berkekuatan 7 hingga 8 skala Richter tanpa dampak kerusakan struktural yang signifikan. Aturan pembuatan bangunan Jepang termasuk yang paling ketat di dunia, dan rancangan tahan gempa negara itu memastikan bahwa bahkan dalam gempa bumi yang hebat, bangunan dapat bergoyang dan menyerap energi tanpa rubuh! Dan, ingat, semua ini masih ditambah dengan orang-orang yang terlatih dan siap menghadapi risiko kapan pun gempa bumi datang!

———————————————-

Being Christians in the modern world, our faith as believers faces too many challenges. Just like those people and buildings in Japan facing earthquakes, our faith is prone to facing many constant spiritual earthquakes and tremors; and we can be sure they’re not going to be easier or fewer in the future. Just like those people are well-trained and those buildings are well-built having resistances towards earthquakes, so are our lives should be well-prepared to withstand the spiritual earthquakes. We will face, or even shaken and swayed sometimes, by all sorts of teachings around. Sticking to the sound teaching will always be a challenge for us, now more than ever.

作为现代世界的基督徒,我们的信仰现在面临着许多挑战。正如日本的人民和建筑物面临地震一样,我们的信仰也面临着多次地震和不断的精神动摇;我们可以肯定,未来地震和震动不会变得更容易或更少发生。正如人们受过良好的训练,建筑物也建造得很好,可以抵御地震一样,我们的生活也必须做好充分的准备,以抵御精神上的地震。我们会面对,甚至有时会被周围的各种教义所动摇和动摇。坚守真实的教义对我们来说永远是一个挑战,而现在这个挑战比以往任何时候都更加困难。

Sebagai orang Kristen di dunia modern, iman percaya kita kini menghadapi begitu banyak tantangan. Sama seperti orang-orang dan bangunan-bangunan di Jepang yang menghadapi gempa bumi, iman kita menghadapi banyak gempa bumi dan getaran rohani yang terus-menerus; dan kita dapat yakin bahwa gempa bumi dan getaran itu tidak akan lebih mudah atau berkurang di masa mendatang. Sama seperti orang-orang itu terlatih dengan baik dan bangunan-bangunan itu dibangun dengan baik yang memiliki ketahanan terhadap gempa bumi, demikian pula hidup kita harus dipersiapkan dengan baik untuk menahan gempa bumi rohani. Kita akan menghadapi, atau bahkan terkadang terguncang dan terombang-ambing, oleh segala macam ajaran di sekitar kita. Berpegang teguh pada ajaran yang benar akan selalu menjadi tantangan bagi kita, dan inilah masa tantangan ini lebih sulit daripada sebelumnya.

 

 

Jude, author of one of the epistles in the Holy Bible, is traditionally attributed as one the birth brothers of Jesus. At the time, the early church was facing opposition both from within, i.e. false teachings, and from external pressures, i.e. persecution from the Roman Empire. The Epistle of Jude was written as a response towards a great need for discernment, faithfulness, and unity among believers.

根据分析,《圣经》中一封信的作者犹大通常被认为是耶稣的兄弟姐妹之一。当时,早期教会面临着来自内部的反对,即异端,以及来自外部的压力,即来自罗马帝国的迫害。犹大书是为了回应教会对信徒之间的智慧、忠诚和团结的巨大需要而写的。

Yudas, penulis salah satu surat dalam Kitab Suci, menurut analisis sering dianggap sebagai salah satu saudara kandung Yesus. Pada saat itu, Gereja mula-mula menghadapi tentangan, baik dari dalam, yaitu ajaran-ajaran sesat, maupun dari tekanan-tekanan eksternal, yaitu penganiayaan dari Kekaisaran Romawi. Surat Yudas ditulis sebagai tanggapan terhadap kebutuhan besar jemaat akan hikmat, kesetiaan, dan persatuan di antara orang-orang percaya.

 

 

In his writing, Jude calls believers to “build yourselves up in your most holy faith,” much like an architect lays the foundation of a strong building. This shows that our foundation in Christ must be firm and continuously strengthened, so we are not easily shaken when trials come. Just as seismic dampers in Japan’s buildings absorb the energy of an earthquake, praying in the Holy Spirit as Jude instructs us allows God’s power to sustain us in difficult times.

犹大在他的著作中呼吁信徒“在最神圣的信仰上建立自己”,就像建筑师为坚固的建筑奠定基础一样。这个呼召表明我们在基督里的根基必须坚固并不断坚固,这样当试炼来临时我们才不会轻易动摇。正如日本建筑物上的减震器吸收地震的能量一样,按照犹大教导我们的那样在圣灵中祈祷,可以让上帝的力量在困难时期支撑我们。

Dalam tulisannya itu, Yudas menyerukan agar orang-orang percaya “membangun diri di atas imanmu yang paling suci”, seperti seorang arsitek yang meletakkan fondasi bangunan yang kuat. Seruan itu menunjukkan bahwa fondasi kita di dalam Kristus harus kokoh dan senantiasa diperkuat, sehingga kita tidak mudah goyah ketika pencobaan datang. Sama seperti peredam seismik pada bangunan-bangunan di Jepang menyerap energi gempa bumi, berdoa dalam Roh Kudus seperti yang diajarkan Yudas kepada kita memungkinkan kuasa Tuhan untuk menopang kita di masa-masa sulit.

 

 

In Japan, buildings are designed with flexible materials to withstand the shaking. Pondering on this in the practical connection to our lives as Christians, I found that Jude wrote, “Keep yourselves in the love of God.” God’s love acts as our spiritual reinforcement, allowing us to bend but not break when faced with adversity.

在日本,建筑物采用柔性材料设计以承受冲击。当思考这与我们作为基督徒的生活的关系时,我发现犹大写道:“保守自己常在神的爱里。”神的爱是我们属灵的力量,让我们在面对困难时能够顺服,但不会崩溃。

Di Jepang, bangunan dirancang dengan bahan yang fleksibel untuk menahan guncangan. Ketika merenungkan hal ini dalam kaitannya dengan kehidupan kita sebagai orang Kristen, saya menemukan bahwa Yudas menulis, “Jagalah dirimu dalam kasih Allah.” Kasih Allah berperan sebagai penguat rohani kita, yang memungkinkan kita untuk tunduk tetapi tidak patah ketika menghadapi kesulitan.

 

 

Moreover, Jude also reminds us to show mercy to those who doubt and to “snatch others from the fire.” This is a call for us to rescue our brethren whose faith is facing challenges. In times of crisis, like rescuers after an earthquake, we are tasked with helping others find their way back to safety. However, we must do so with caution, ensuring we are not drawn into sin ourselves.

此外,犹大还提醒我们要怜悯那些怀疑的人,“把他们从火中抢出来,拯救他们”。这是呼吁我们拯救信仰面临挑战的兄弟姐妹。在危机时期,例如地震后的救援人员,我们的任务是帮助他人找到返回安全的道路。然而,我们必须谨慎行事,同时确保我们自己不会陷入罪恶。

Lebih jauh, Yudas juga mengingatkan kita untuk menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu dan untuk “selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api”. Itu adalah panggilan bagi kita untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang imannya sedang menghadapi tantangan. Di saat-saat krisis, seperti regu penyelamat setelah gempa bumi, kita bertugas membantu orang lain menemukan jalan kembali ke tempat yang aman. Namun, kita harus melakukannya dengan kewaspadaan, sambil memastikan agar diri kita sendiri tidak terjerumus ke dalam dosa.

 

 

In the end, just as Japanese buildings are designed to remain standing after earthquakes, we too must build lives that can withstand the spiritual earthquakes of life. With a foundation of faith, sustained by God’s love and Spirit, we can remain firm in our standing—no matter what comes our way.

最终,正如日本的建筑被设计为在地震后仍能屹立不倒一样,我们也必须建造一种能够承受今生属灵地震的生活。有了信仰的基础,并得到上帝的爱和圣灵的支持,我们就可以坚定不移地坚持我们的信心——无论我们遇到什么。

Pada akhirnya, seperti halnya bangunan-bangunan Jepang yang dirancang untuk tetap berdiri setelah gempa bumi, kita juga harus membangun kehidupan yang dapat bertahan terhadap gempa bumi rohani dalam kehidupan ini. Dengan dasar iman, yang ditopang oleh kasih dan Roh Tuhan, kita dapat tetap teguh dalam pendirian kita—apa pun yang terjadi yang menghadang kita.

 

 

So, come what may, but we will stand firm in Him. God bless you.

因此,无论发生什么,请确保我们对他保持坚定。上帝保佑我们大家。

Jadi, apa pun yang terjadi, pastikan kita tetap teguh di dalam Dia. Tuhan memberkati kita semua.

2024-09-27T11:12:01+07:00