//Connection : Cerita Saya vs Suara Tuhan

Connection : Cerita Saya vs Suara Tuhan

Suatu hari di Ibadah Kega kelas balita, seorang anak yang bernama Ruel (sebut saja begitu) lagi-lagi melakukan hal yang membuat saya selalu tertawa. Anak berpipi tembem ini suka sekali bercerita. Semua hal bisa diceritakannya. Bahkan ketika seorang kakak pembina sedang menyampaikan cerita firman di depan kelas, Ruel bisa menghampiri sang kakak demi sekedar bercerita mengenai mobil-mobilannya yang baru. 🙂 Kali ini, kelas balita sedang melakukan permainan “Pesan Berantai”. Anak-anak berbaris dan kemudian secara berantai harus menyampaikan pesan yang pertama kali diberikan dari depan oleh kakak pembina. Ruel berdiri di paling depan. Setelah kakak pembina membisikkan pesan di telinganya, bukannya Ruel meneruskan pesan itu ke teman yang berdiri di belakangnya, ia malah menghadap sang kakak tersebut dan dengan serius mulai bercerita mengenai mainan barunya. Sementara pesan berantai di kelompok-kelompok lain sudah berjalan, Ruel masih asyik berceloteh dengan ceritanya sendiri. Terus saja ia bercerita dengan mata berbinar-binar, tidak sadar dengan usaha sang kakak yang memintanya untuk mendengar dan mengikuti aturan permainan.

Saya ada di tengah-tengah kejadian itu, dan saya jadi tertawa geli melihat respon Ruel yang lugu dengan wajahnya yang menggemaskan. Saat itulah, Tuhan tiba-tiba saja seperti berbisik dan menyadarkan saya akan sesuatu. Hei, saya sebenarnya mirip-mirip juga dengan Ruel (senyum simpul tersungging di bibir saya tanda setuju). Adakalanya Tuhan sedang berusaha menyampaikan isi hatiNya di telinga saya, seperti kakak pembina Ruel yang tadi berulang-ulang membisikkan pesannya, yang sayangnya tak kunjung didengarkan oleh Ruel. Seperti Ruel yang sibuk dengan ceritanya, demikianlah saya yang tidak akan bisa menangkap isi hati Tuhan karena sibuk dengan “cerita”-nya sendiri.

Bagaimana dengan kita semua? “Cerita” apa yang sedang, atau sering, menjadi kesibukan kita? Keinginan untuk mempunyai penghasilan lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, jabatan yang lebih tinggi, rumah mewah, mobil bergengsi, pasangan hidup…? Punya ini, punya itu, ingin begini, ingin begitu, adalah ‘cerita-cerita’ yang bisa mengintervensi suara Tuhan dalam hidup kita. Salahkah mengingini hal-hal itu? Jawabannya tidak seserderhana ya atau tidak. Jawabannya ada pada pertanyaan berikut ini: Apa yang paling banyak muncul dalam pikiran kita setiap harinya? Apa yang menjadi kesibukan terpenting dalam hati dan keseharian kita? Firman Tuhan-kah atau “cerita-cerita” serupa di atas?

Sebagian orang diberdayakan dengan hal-hal seperti judi, pornografi, pesta pora, kemabukan, perselingkuhan dan hal-hal “liar” semacamnya. Sementara orang-orang lain dibuat “tuli” dengan kesibukan. Sibuk mengejar kemapanan, standar kenormalan hidup yang dipasang dunia, bahkan sibuk dalam pelayanan. Iblis berusaha mengalihkan perhatian kita dari Tuhan, membuat telinga rohani kita menjadi tuli terhadap suaraNya. Apapun bentuk “cerita” yang tersuguh, tujuannya tetap sama, yaitu membuat kita tidak dapat menangkap kehendak Tuhan. Saat bangun pagi, apa yang pertama kali muncul dalam kepala kita? Sepanjang hari, apa yang kita renungkan? Apakah hati kita masih haus mendengar suara Tuhan, yang dibuktikan dengan kehausan kita setiap saat akan firman Tuhan? Ataukah, jangan-jangan, telinga rohani kita pelan-pelan sudah “tertulikan” oleh semua “cerita” hidup dan angan-angan? Kalau benar demikian, apa jalan keluarnya?

Jika dalam hidup kita masih ada “cerita” yang ingin kita pertahankan lebih daripada kita ingin mendengar suara Tuhan, masih ada keinginan/tujuan/cita-cita/hasrat yang ujung-ujungnya berfokus kepada diri sendiri, memang kita tidak akan bisa haus akan firman Tuhan. Akibatnya, firman Tuhan tidak akan bisa berakar (“Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” – Mat. 13:22). Kita tidak akan bisa menangkap dengan benar apa kehendak Tuhan, karena kita tidak berada pada “frekuensi” atau “saluran” yang sama dengan Tuhan. Kita punya fokus yang berbeda, dan tidak ada connection dengan Tuhan. Hasilnya adalah kesulitan yang dialami Tuhan untuk berkomunikasi dengan kita, karena kita tidak berfokus untuk mendengarkan Dia.

“Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.” (Yoh. 8:43)

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rm. 12:2)

Memang tidak mudah untuk senantiasa memiliki connection dengan Tuhan. Dan memang tidak mungkin kita bisa secara instan/langsung memiliki connection ini. Itu sebabnya, Paulus mengajarkan tentang pembaharuan budi. Pembaharuan budi adalah ketika seseorang terus-menerus diperbaharui, diubah, agar punya cara pandang yang sama dengan cara Tuhan melihat; terus-menerus belajar untuk tidak lagi mengejar hal-hal yang fana, tidak mementingkan kedagingannya atau mempertahankan egonya. Seseorang yang mengalami pembaharuan budi adalah ia yang terus-menerus mati bagi dirinya sendiri dan hidup bagi Tuhan. Ia bisa saja gagal terkadang, namun tujuan hidupnya jelas, sama seperti Tuhan Yesus ketika ada di dunia ini, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengurus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh. 4:34).

Bagaimana saat ini kondisi telinga rohani kita? Masihkah kita selalu memberi diri untuk mengalami pembaharuan budi? Setiap bangun pagi dan hendak menjalani hari, mari putuskan untuk menyingkirkan segala hal yang membuat kita ‘sibuk’ dan beralih dari kehendak Tuhan. Tanyakan kepadaNya dan temukan, apa yang Ia inginkan lewat pekerjaan kita, lewat bisnis kita, lewat studi kita, lewat keluarga kita, lewat pergaulan kita, lewat pelayanan kita, lewat segala hal dalam hidup kita di hari itu. Setelah menemukan, taati dan lakukan kehendakNya itu. Inilah yang akan melatih indera pendengaran rohani kita setiap hari, sehingga kita akan membangun dan memiliki connection dengan Tuhan. Ingat, di atas segala hal yang kita inginkan dan kita anggap penting, “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36).

2019-11-01T11:06:23+07:00