///Dalam genggaman tangan Sang Penuntun

Dalam genggaman tangan Sang Penuntun

Di tengah kelelahan sepulang lembur bekerja, bergegas saya menyiapkan diri untuk beristirahat. Sambil bersantai melihat-lihat Instagram, pikiran pun melayang tak karuan, “Ahh, enak banget kalau bisa jalan-jalan, wisata kuliner, belanja, bahkan mengunjungi objek wisata yang indah. Apa berhenti kerja aja ya? Ehh, tapi kalau gak kerja dapat uang dari mana…? Duh!

Sekilas, muncul pengingat di pikiran, “Jangan lupa baca Alkitab” Namun, pikiran sekilas itu segera kesampingkan dengan jawaban ringan di dalam batin, “Iya, ‘ntar dulu. Leha-leha dulu sambil memuaskan mata lewat Instagram boleh kali…

Foto-foto dan gambar menarik, bombardir berbagai produk cantik yang dijual, sampai kabar-kabar gosip dari para selebritas yang bahkan tak saya kenal perlahan memuaskan waktu pribadi saya malam itu. Akhirnya, sampailah saya pada sebuah berita terbaru mengenai seorang remaja putri yang dikeroyok oleh sekelompok remaja putri lainnya. Sadis, miris, dan sedih rasanya membaca kejadian yang nyata-nyata tidak manusiawi itu terjadi di negeri ini, apalagi pelaku perbuatan kekerasan yang tak senonoh itu juga wanita dan masih di bawah umur. Berita terus bergulir dengan berbagai info detailnya, membuat saya semakin asyik menelaah segala rincian yang sambung-menyambung. Dari siapa si korban, siapa para pelakunya, bagaimana detail kejadian, apa yang kemudian dilakukan para pelaku, sampai komentar para netizen mengenai kasus ini. Waktu yang terus bergerak semakin larut dan tubuh yang semakin letih tak sadar membuai saya hingga jatuh tertidur. Kira-kira jam 3 pagi buta, saya terbangun dengan posisi masih terduduk dan memegang ponsel. Saya lantas meletakkan ponsel dan kembali tidur dalam posisi tubuh yang lebih nyaman. Pelan dan lambat tetapi spontan, terdengar suara hati saya sendiri di benak, “Tanggung, sekarang udah pagi, baca Alkitabnya besok aja lah, dirapel!

 

Pagi harinya di kantor, berita tentang bullying yang brutal terhadap gadis remaja itu menjadi berita hangat yang dibicarakan banyak orang. Ibu-ibu di meja sebelah terdengar mengutuk perilaku perempuan-perempuan remaja yang menjadi pelaku, sementara di sana-sini terdengar komentar bernada emosional tentang kejadian itu. Saya terdiam, mendengarkan semuanya.

 

Sambil terus bekerja di depan komputer, pikiran saya terus berkecamuk: mengapa para perempuan remaja ini tega melakukan kekerasan yang kejamitu? apakah hal itu seolah biasa terjadi? apakah bullying kini telah lumrah di kalangan mereka? apakah nilai keperawanan wanita kini sudah menjadi terlalu rendah dan sederhana untuk generasi mereka? Saya tetap diam, karena saya tak tahu pasti apakah seluruh kejadian itu memang benar terjadi atau hanya akal-akalan media memuat berita agar menjadi tinggi rating-nya.

 

Sambil mendengarkan musik yang melantun melalui earphone, Sang Pengingat itu seakan kembali datang di dalam pemikiran saya. Ia berkata, lembut tetapi jelas dan tegas, “Ikuti saja Kebenaran-Ku, maka Kebenaran itu akan menjagamu.” Sontak saya mengerti… Inilah jawaban dari serangkaian pertanyaan yang berkecamuk di dalam benak saya sepanjang hari ini! Hidup dalam kebenaran-Nya adalah satu-satunya penuntun agar kita terjaga aman. Ini berarti saya tidak sekadar melakukan kebenaran yang sedang kita baca atau pahami di dalam Firman-Nya, tetapi juga perlu usaha yang aktif dan giat untuk terus-menerus menjaga kebenaran-Nya itu agar hidup di dalam diri saya dan menuntun segala hal pada diri saya setiap saat.

 

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” – Mazmur 119:105

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” – Mazmur 139:23-24

 

Sesungguhnya, kebenaran Tuhan akan terus menjadi Penuntun bagi kita masing-masing untuk tetap melakukan hal-hal yang benar, karena Dia tak akan rela melihat kita anak-anak-Nya hidup di dalam gelap dan melakukan hal yang tak berkenan di hati-Nya. Syaratnya hanya satu. Kita terus berpegang pada tangan Sang Penuntun itu. Sayang, sering kali kitalah yang enggan untuk menghidupi kebenaran-Nya dengan giat setiap saat. Dengan segala macam kesibukan, kesenangan, dan kepentingan, kita menjadi beralasan untuk tak sempat, malas, atau bosan berpegang pada tangan Sang Penuntun dan menghidupi kebenaran-Nya.

 

Hidup di dalam kebenaran Tuhan, berpegang pada tangan Sang Penuntun itu, memang membutuhkan usaha. Kita perlu aktif dan giat berusaha terus menyediakan waktu, pikiran, dan tenaga kita demi mengenal, menerima, dan memahami kebenaran yang menuntun itu. Selanjutnya, kita pun perlu mengizinkan Tuhan menuntun kita, dengan cara kita rajin dan terus melakukan kebenaran itu. Inilah tuntunan yang menjaga kita: memahami setiap Firman-Nya dan melakukan apa yang berkenan di hati-Nya.

Sekali lagi, suara Sang Pengingat menyadarkan saya, “Jangan lupa baca Alkitab, ya,” dan dengan mantap kali ini saya langsung menjawab dalam hati “Iya, Tuhan. Pasti. Saya tak mau melewatkan tuntunan kebenaranMu untuk saya.

2019-09-27T12:03:16+07:00