//Damai di Bumi

Damai di Bumi

Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri dan merenungkan alasan mengapa Anda menjadi seorang Kristen? Setiap orang tentu punya jawaban serta penjelasannya sendiri. Bagi saya secara pribadi, menjadi Kristen adalah sebuah pilihan berdasarkan apa yang saya yakini tentang apa yang Allah lakukan lewat penebusan Kristus yang sempurna. Dan apa yang saya percayai ini, menjadi dasar untuk saya menjalani kesempatan yang Tuhan beri selama saya hidup di dunia.

Semakin mengenal Tuhan dan kebenaranNya sungguh mengubah pola pikir saya mengenai cara menjalani hidup, terutama tentang pusat hidup saya selama ini, dari yang tidak jelas bergantung pada siapa, hingga menjadikan Dia inti dan pusat dari seluruh hidup saya. Karena pribadiNya yang benar-benar hidup, dan apa yang tertulis dalam Alkitab bukanlah sebuah dongeng hebat tentang Allah dan mujizatNya, Ia adalah Allah yang nyata, yang kini menjadi pusat dari seluruh hidup saya.

Inti dari keselamatan yang saya yakini adalah saya mendapatkan kasih karunia untuk ‘kembali’ kepada rancangan semula, yaitu hidup dalam hubungan persekutuan dengan Dia. Persekutuan ini tadinya sudah rusak karena dosa, dan ini fatal, karena sebenarnya Ia adalah sumber dari segala sesuatu bagi hidup kita. Jadi tanpa disadari oleh banyak orang termasuk saya sendiri di masa lalu, hidup tanpa memiliki hubungan persekutuan dengan Dia itu sebenarnya bukan hidup. Itu mati. Mengapa? Karena memang kita sejak awalnya diciptakan untuk memiliki hubungan dengan sang Pencipta, Dialah sumber, inti, pusat dari seluruh hidup kita, untuk menggenapi tujuan dan rencanaNya. Ini berarti, persekutuan pribadi dengan Tuhan memang menjadi hal yang paling penting di antara segala kepentingan yang lain.

Mungkin banyak dari kita yang pada awalnya tertarik menjadi Kristen karena ingin ‘masuk surga’, termasuk saya! Tapi semakin mengenal Allah, semakin saya menyadari bahwa kematian Kristus itu bukan sekedar supaya saya mendapatkan tiket masuk ke surga. Karena arti dari surga (kerajaan Allah) itu sendiri bukan tentang keindahan yang kelihatan semata, tapi dimana Allah yang memerintah, Allah yang menjadi pusat, inti dan sumber. Segala sesuatu berpusat pada Dia, segala sesuatu adalah tentang Dia, dan daripadaNyalah segala sesuatu yang baik dan benar berasal. Ini berarti kita bukan sekedar masuk surga, tetapi justru kita mengalami dan menghadirkan surga itu di bumi. Oleh karena itulah, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa, “…datanglah kerajaanMu di bumi seperti di surga…” (Mat. 6:10). Jadi, sebelum kita benar-benar tiba dan tinggal di surga, alangkah baiknya kita sudah membiasakan diri untuk menjadikan Allah sebagai pusat hidup kita di bumi ini, seperti di surga. Inilah yang akan menjadi perwujudan surga di bumi, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36).

Jadi kita bisa memahaminya sekarang, bahwa surga di bumi ini akan terjadi ketika kita menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita. Bagaimana caranya? Belajar bukan sekedar melibatkan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita dengan melakukan apa yang Tuhan kehendaki, tetapi benar-benar menempatkan Dia pada posisi yang mengatasi posisi ego kita sendiri. Artinya, kapanpun dan dalam hal apapun terjadi perbedaan keinginan/kepentingan, kitalah yang menyerah dan keinginan/kepentinganNyalah yang harus ditaati. Ingin melanggar peraturan lalu-lintas? Merasa perlu berbohong? Ingin berlama-lama menikmati enaknya dosa? Yakin perlu membalas dendam? Bagaimana dengan kehendakNya dalam semua hal ini? Sulit? Mungkin, tetapi bisa dilakukan.

Ingat, Ia sendiri ada di dalam diri kita yang telah percaya dan menyerahkan hidup kita kepadaNya. Galatia 2:20 berkata, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.”  Inilah jaminan pasti dari Dia sendiri, bahwa kalau kita rela/mau menyerahkan kepemimpinan hidup kita kepadaNya, Ia sendiri yang akan mengambil alih hidup kita itu. Karena memang untuk itulah kita diciptakan, agar Ia menjadi pusat dan inti dari seluruh hidup kita, agar seperti yang Yesus contohkan, kita melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa, agar pemerintahanNya datang di bumi seperti di surga. Ia yang memilih taat untuk mengambil jalan salib dengan kematian tragis, mengambil pilihan yang kelihatannya tidak masuk akal, bahkan dengan cara hina, demi kehendak Bapa terjadi dan untuk menggenapi maksud serta tujuan Allah tentang penebusan manusia.

Segala hal yang kita lakukan, sebesar atau sekecil apapun, dilakukan atas dasar Dia yang telah lebih dahulu memulai kehidupan ini, dijalankan dengan kasih karunia dari Dia dan untuk kemuliaanNya saja. “Apa pun yang Saudara lakukan–Saudara makan atau Saudara minum–lakukanlah semuanya itu untuk memuliakan Allah.” (1 Kor. 10:31).
Mendekati akhir tahun, kita biasa mempersiapkan rencana dan target-target untuk tahun depan. Namun, alangkah baiknya jika kali ini kita benar-benar mempersiapkan semua itu agar sesuai dengan kehendak Bapa dan mendatangkan surga dalam kehidupan kita maupun kehidupan orang-orang lain yang bersentuhan dengan hidup kita. Selamat datang di surga di bumi! (fd)

2019-10-17T17:34:42+07:00