///Dari Kecil Menjadi Besar

Dari Kecil Menjadi Besar

Selamat pagi Joyce! Wah, Joyce memang karyawan yang selalu datang paling duluan!” sapa satpam kantor Joyce sambil tersenyum.

Ya Pak, selamat pagi juga!” jawab Joyce, kemudian dia segera masuk ke dalam area kantornya.

Seperti biasa, Joyce tiba di kantornya  sebelum pukul 8 pagi. Kali itu, jam dinding masih menunjukkan waktu pukul 7.30 pagi, tetapi Joyce sudah mulai menyiapkan air minum di mejanya, membuka dokumen pekerjaannya, dan menyalakan komputernya. Joyce memang berbeda dari rekan-rekannya yang lain di kantor itu; saat rekan-rekannya datang terlambat dan kerap menggunakan waktu kerja untuk bermain game, menelusuri media sosial, mengobrol di grup-grup chatting, atau meneruskan berdandan, Joyce sendiri tidak pernah menggunakan kesempatan itu. Joyce selalu mulai bekerja sebelum jam kerjanya dimulai, dan selesai bekerja setelah jam kerjanya berakhir.

Siang itu, salah satu rekan Joyce dari Divisi Keuangan berkata, “Mbak Joyce ini expense reimbursement-nya paling sedikit dibandingkan teman-teman yang lain…” Memang benar. Meski seluruh staf kantor itu diberi keleluasaan untuk mengajukan penggantian uang yang telah dikeluarkan untuk biaya-biaya yang berkaitan dengan urusan pekerjaan, Joyce sendiri hanya melakukannya sesuai fakta. Banyak rekannya yang sering menagihkan pengeluaran pribadi seperti bensin, tol, parkir, pulsa, dan sebagainya. Namun, Joyce tidak pernah menaikkan angka pengeluarannya atau memasukkan tagihan lain yang sebenarnya bukan bagian dari aktivitas kerja. Bahkan, banyak hal lain Joyce lakukan bagi kantornya sebagai upaya hidup hemat. Penggunaan berbagai alat dan fasilitas kantor diusahakannya sebaik-baiknya agar efisien. Rekan-rekan Joyce sampai berkomentar, “Joyce… Joyce… kamu sudah seperti pemilik kantor ini saja! Kamu memikirkan perusahaan, padahal belum tentu perusahaan memikirkan kamu!”

Petang harinya, Joyce terngiang akan ucapan-ucapan yang didengarnya hari itu. Banyak orang Kristen juga bekerja di kantor Joyce, tetapi kinerja serta perilaku mereka kebanyakan serupa dengan kinerja serta perilaku orang-orang yang belum mengenal Kristus. Di sisi lain, banyak pula orang non-Kristen di kantor yang rupanya mengamati kehidupan Joyce. Memang tak menyenangkan rasanya dianggap aneh, tetapi Joyce pun ingat bahwa ada orang-orang yang kini ikut melakukan apa yang dia lakukan.

Di tengah-tengah olok-olok dan keheranan orang lain di sekitarnya, sesungguhnya Joyce justru menebar pengaruh baik dari hal-hal kecil yang dilakukannya itu. Sejak dua pekan lalu, staf di tim kerja Joyce telah mulai konsisten tiba di kantor sebelum jam kerja, sehingga mereka tidak lagi terlambat untuk mulai bekerja. Mereka juga mulai rajin saling mengingatkan untuk menggunakan kertas pada kedua sisinya untuk berbagai keperluan kerja, meski sambil tertawa-tawa. Joyce tahu, semua itu mereka lakukan awalnya dari rasa tidak enak hati karena Joyce sebagai atasan mereka melakukannya. Namun, jelas sekali tampak bahwa mereka telah menjadi makin terbiasa untuk melakukan hal-hal yang benar di dalam pekerjaan, dan “tren” ini bahkan akhirnya berefek bagai bola salju yang makin besar. Kini, seluruh divisi yang dipimpin Joyce juga punya kebiasaan datang bekerja tanpa terlambat serta berhemat dalam penggunaan alat atau fasilitas kantor. Hal-hal kecil yang Joyce lakukan telah membesar.

Jika direnungkan lebih dalam, setiap hal baik yang kecil yang Joyce lakukan di kantor sebenarnya berawal dari benih-benih yang jauh lebih kecil lagi. Joyce memang memiliki ibu yang membawa banyak pengaruh baik untuknya; seorang janda yang bekerja keras untuk menghidupi Joyce dan adik-adiknya semasa mereka kecil. Mama Joyce, demikian orang-orang sekitar menyebutnya, adalah wanita yang tidak banyak bicara tetapi tindakannya selalu menunjukkan bahwa dia pribadi yang takut dan taat akan Tuhan.

Joyce ingat suatu peristiwa penting saat dia masih kecil. Suatu hari, seseorang mengirimkan dua buah sepeda dengan merek yang sangat terkenal. Saat itu, sepeda merek itu menjadi idaman hampir semua anak-anak, sekaligus kebanggaan bagi segelintir dari mereka yang beruntung hingga bisa memilikinya. Betapa girangnya hati Joyce melihat dua sepeda itu di teras rumah. Sayang, kegirangan Joyce hanya melambung sesaat, karena tiba-tiba Mama Joyce meminta orang tersebut untuk membawa kembali sepeda-sepeda itu. Orang itu berlalu dengan kepala agak tertunduk, menuntun dua sepeda itu satu per satu ke mobil pengangkutnya yang parkir di tepi jalan. “Yah, Mama… Kenapa sepedanya dikembalikan lagi?” seru Joyce dengan sedih. Mama Joyce menghampiri dia serta adik-adiknya dan menjelaskan dengan nada lembut tetapi tegas, bahwa dia tidak berhak menerima pemberian sepeda-sepeda itu karena itu adalah suap yang diberikan untuk membujuk Mama Joyce agar memudahkan kesepakatan dagang antara sang pemberi sepeda (mewakili salah satu pemasok barang) dengan perusahaan tempat Mama Joyce bekerja. “Ini suap, anak-anakku… Sepeda-sepeda itu dibeli bukan dengan uang Mama, tetapi dengan uang yang dipakai untuk tujuan curang. Mama harus bekerja jujur dan setia di perusahaan, bukan membela perusahaan tadi karena mereka memberi kita sepeda-sepeda yang bagus itu. Mungkin bos Mama tidak tahu kalau Mama menerima suap, tetapi Tuhan tahu dan melihat. Kita tidak boleh curang, anak-anak…”  demikan kata Mama Joyce. Pelajaran kejujuran itu sangat meresap di hati Joyce.

Pendirian yang teguh untuk melakukan kebenaran dalam bekerja membuat Mama Joyce sangat terkenal  pula di antara rekan-rekannya. Bahkan, kejujuran Mama Joyce pun diketahui oleh bos-bos di perusahaan maupun para pemasok barang. Alhasil, bosnya selalu menempatkan Mama Joyce untuk posisi-posisi pekerjaan yang “basah”, karena memang Mama Joyce sangat bisa dipercaya.

Kejujuran dan keteguhan pada kebenaran hanyalah sedikit dari banyak nilai kehidupan yang diwariskan oleh Mama Joyce kepada anak-anaknya dan orang-orang sekitarnya. Hal-hal kecil seperti tidak memakai  uang maupun fasilitas kantor untuk urusan pribadi, menolak pemberian suap, selalu tepat waktu dan tepat janji, membuat hidup Mama Joyce menjadi teladan. Dia berdampak besar bagi rekan-rekannya dan para bosnya, bahkan semua orang di sekitarnya. Demikian pula, berbagai perbuatan sederhana yang dilakukan Mama Joyce di rumah dilihat dan ditangkap oleh anak-anaknya: bermurah hati kepada kurir pengantar kiriman, satpam gedung yang meminjamkan payung ketika hujan, supir taksi atau supir kendaraan umum, dan banyak lagi. Mama Joyce selalu memberikan uang tip kepada mereka, bahkan sesekali memberikan paket sembako pada masa-masa sulit. Pernah Joyce bertanya kepada ibunya mengapa ia melakukan hal itu, dan jawabannya membuat Joyce tersenyum, “Joyce… dengan memberi tip atau berbagi sedikit berkat kepada mereka, kita tidak akan jadi jatuh miskin, kok! Mereka orang sederhana, yang justru akan merasa diberkati oleh tindakan kita… Lagipula, sudah seharusnya kita menyalurkan berkat Tuhan kepada sesama, ‘kan kita ini anak-anak Tuhan!”

Kini, Joyce telah dewasa dan hidup menurut teladan ibunya. Rekan-rekan Joyce pun mulai mengikuti teladan Joyce. Hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan telah berdampak menjadi lebih besar, lebih banyak, dan lebih luas. Inilah pelipatgandaan. Inilah Kerajaan Allah. Sebagai warga Kerajaan Allah, kita telah diberi kemampuan agar hal-hal yang kita lakukan, meskipun kecil, memberi dampak baik yang besar, seperti yang dijelaskan Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi di Matius 13:31-35. Biji sesawi dan ragi keduanya berukuran sangat kecil pada awalnya, tetapi ketika tumbuh dan diolah akan berbuah menjadi hasil yang berkali-kali lipat besarnya. Kerajaan Allah dimulai dari benih-benih yang kecil dan sederhana, tetapi pasti membuahkan dampak yang besar, bermakna, dan bermultiplikasi.

Bagaimana dengan kita sendiri? Sudahkah hidup kita menjadi benih baik yang bertumbuh menghasilkan dampak besar? Dunia membutuhkan anak-anak Tuhan yang dapat menghadirkan Kerajaan Allah di mana-mana: di lingkungan gereja maupun di luar sana di antara mereka yang belum beriman kepada Kristus. Di mana pun kita berada, status dan identitas kita adalah warga kerajaan Allah. Pastikan bahwa kita masing-masing pun terus menabur benih Kerajaan Allah di mana-mana, dan saksikan Tuhan mengerjakan pertumbuhan dan multiplikasinya dalam berbagai dampak yang besar.

Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” – Matius 13:32

  

Refleksi Pribadi:

  1. Apakah hidupmu juga sudah berdampak bagi orang-orang sekitarmu dan bagi komunitasmu?
  2. Renungkan dan temukan hal-hal yang dapat kaulakukan untuk memultiplikasikan Kerajaan Allah di lingkunganmu sendiri.
  3. Mulailah melakukan hasil perenunganmu itu dalam tindakan nyata. Lakukan hal-hal kecil itu secara konsisten dengan komitmen teguh, agar hidupmu dapat menghadirkan Kerajaan Allah di mana-mana.
2022-02-25T13:16:33+07:00