//Dekat di mata, jauh di hati

Dekat di mata, jauh di hati

Dekat di Mata, Jauh di Hati

Saya galau…! Ijinkan saya menceritakan kisah ini kepada Anda, pembaca setia Build…

Saya lahir di tengah keluarga yang bahagia. Bisa dibilang saya cukup beruntung karena ayah saya cukup berada, sehingga segala kebutuhan, bahkan keinginan saya dapat terpenuhi. Saya sehat dan bahagia. Saya memiliki adik, satu-satunya adik yang begitu saya kasihi. Sedari kecil, saya dan adik sudah ditanamkan oleh papa agar kami mencintai Tuhan dan keluarga. Seiring bertambahnya usia, saat ini saya sudah bekerja di sebuah perusahaan yang cukup bonafide, yang sebenarnya merupakan salah satu perusahaan di grup usaha milik Papa juga. Senang rasanya menyadari bahwa saya tak lagi “merepotkan”orang tua. Saya kini berpenghasilan sendiri, bahkan saya kadang memberikan ini-itu yang menjadi kesukaan Papa. Bangga rasanya. Apalagi Papa juga mempercayakan tanggung jawab untuk mengawasi beberapa pegawainya di rumah kepada saya. Ah, hidup rasanya sempurna…

Namun singkat cerita, di beberapa bulan terakhir hubungan saya dengan adik tak semanis dahulu. Entah karena pergaulan yang kurang baik atau Papa yang kelihatannya begitu memanjakan adik, yang jelas ia mulai membandel. Bermalas-malasan, bolos kuliah, pulang larut malam, menjadi kebiasaan barunya. Sampai suatu malam, karena Papa sudah tak tahan dengan kelakuan adik, beliau memarahi adik saya. Sebenarnya saya kurang setuju dengan cara Papa yang hanya menegur secara lembut itu. Memang tegurannya tegas, tetapi bukankah memarahi adik dengan lebih keras, dan menghukumnya kalau perlu, akan lebih efektif untuk membuatnya jera mengulangi kelakuannya? Tapi ternyata, karena kesal dengan teguran Papa, adik saya justru berkemas-kemas dan pergi meninggalkan rumah. Yang lebih parah, ia meminta bagian harta yang memang Papa sudah siapkan untuk masa depan saya dan adik. Sudah saya coba untuk menahan dia semaksimal mungkin, namun ia memberontak dan dengan penuh kebencian ia hanya berucap, “Gue udah capekkk, Kak…. Capekk ‘ma bokap!”

Di hari-hari awal, saya banyak berdoa. Saya menitikkan air mata. Saya minta pada Tuhan untuk mempersatukan kembali keluarga saya seperti sedia kala. Rasa pedih makin menjadi tatkala saya melihat Papa begitu merana. Beliau merasa sangat gundah dengan kepergian adik saya. Tangisannya seolah mengatakan bahwa ialah yang bersalah, karena telah menyebabkan adik saya pergi dari rumah. Tetapi lama-kelamaan, saya justru merasa bahwa adik saya-lah yang menyebabkan Papa menderita seperti ini. Ia tidak layak untuk terus-menerus ditangisi oleh Papa. Kemudian pelan-pelan, saya mulai “belajar” menikmati perhatian Papa yang seolah tak terbagi untuk saya.

Suatu hari saya mendengar kabar bahwa seorang tetangga sempat melihat adik saya. Semangat untuk mendengar kabar baik seketika runtuh ketika berita yang terdengar adalah ia melihat adik saya keluar dari diskotek sambil berpelukan dengan dua gadis yang berpakaian minim dengan dandanan menor, dan mereka bertiga tampaknya dalam keadaan mabuk. Astaga, bikin malu saja dia!! Sejak mendengar kabar itu, hati saya semakin tidak menantikan adik untuk pulang. Saya pun semakin “kebal”, atau justru sebal, melihat Papa yang terus-menerus mendoakan dan menangisi dia. Dan memang, hari demi hari berlalu, namun adik saya tak kunjung kembali. Tubuh Papa yang makin kurus setiap malam terlihat meringkuk sambil berdoa, meminta hal yang sama tiap hari. Papa menangis… “Ah, Papa… Buat apa menantikan dan mengasihi adik, toh dia tak mau dikasihi dan tak mau pulang,” pikir saya.

Kemudian siang itu tiba. Papa mengirim sebuah pesan singkat ke ponsel saya. Isinya cukup sederhana, “Hari ini jangan lembur ya. Pulang cepat.” Agak aneh, tidak biasanya Papa seperti ini. Biasanya ia sangat memahami kesibukanku sehari-hari yang sangat penting. Namun saya pun menuruti perintah Papa untuk pulang tepat waktu. Betapa terkejutnya saya ketika melihat begitu banyak mobil yang terparkir di depan rumah. Ada apa gerangan??

Pesta! Tebak, untuk apa??
ADIK SAYA KEMBALI…!!!
Hah? Adik pulang???
Buat apa?
Apa gunanya??
Astaga!!!

Setelah mempermalukan keluarga, membuat Papa sakit, kurus dan selalu menangis setiap hari, hari ini ia tiba-tiba pulang seolah tak ada apa-apa? Apalagi saya dengar dari desas-desus para pegawai, ia pulang karena sudah kehabisan uang. “Bodoh”nya lagi, Papa malah membuat welcome party! Buang-buang uang!!! Menyebalkan! Kalau kuingat-ingat… Papa malah tak pernah membuat surprise party untuk saya… Saya, yang selama ini selalu menuruti perintah Papa, melakukan segala tanggung jawab dengan rajin, bahkan memberikan ini-itu yang Papa sukai… Aaaarrrggghhhh…..!!!

(Lukas 15:7) “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (diadaptasi dari kisah Anak yang Hilang di Injil Lukas)

Bapa memang selalu mencari dan menantikan anak yang hilang. Kenyataannya, banyak sekali “anak” yang saat ini “terhilang” di dalam RumahNya sendiri. Ia-lah si Sulung seperti di Lukas 15. Kekristenan yang mulai padam dan mati pelan-pelan mulai mewabah seperti yang diingatkan Paulus untuk jemaat Efesus. Sukacita yang melimpah berubah menjadi kelesuan. Roh yang antusias lambat laun menjadi padam. Dan kasih yang semula tulus berangsur menjadi tawar. Pribadi si Sulung yang sangat mengasihi Bapa dan adiknya mulai bergeser menjadi dingin sementara berbagai hal terjadi. Memang ia tidak pergi dari RumahNya seperti sang adik, namun hati dan pikiranNya sudah berpaling dari Rumah itu sendiri. Ya, mungkin si Sulung masih aktif di berbagai pelayanannya, masih berinteraksi secara teratur dengan Bapa, namun semuanya sudah terasa hambar. Si Sulung memang dekat di mata, namun ia jauh di hati. “Adik” di sini bisa kita pahami sebagai sesama anggota Tubuh Kristus atau juga bicara tentang jiwa-jiwa yang Allah percayakan lewat hidup kita. Namun siapakah si “Sulung” di sini? Diri kitakah si Sulung itu?

Di awal tahun yang baru ini, ijinkan saya mengajak kita semua untuk terus menjaga api gairah dan kasih kita pada Bapa dan jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan. Ya saya pun tahu, banyak hal mungkin dapat membuat kasih dan iman kita padam. Namun, mari bersama-sama berjuang untuk kasih yang mula-mula itu terus ada, sehingga pada akhirnya kita bukan didapati terhilang, namun didapati setia oleh Bapa.

2019-10-17T17:27:21+07:00