//Di Balik Keberhasilan Paulus

Di Balik Keberhasilan Paulus

Siapa yang tidak mengenal Paulus dari Tarsus? Ia adalah seorang rasul dan penulis 14 kitab Perjanjian Baru, yang lahir di kota Tarsus, tanah Kilikia (sekarang Turki). Pada masa mudanya, Paulus (saat itu bernama Saulus) hidup sebagai seorang Farisi yang paling keras dalam agama Yahudi. Ia seorang penganiaya para pengikut Kristus, yang sesudah pengalamannya berjumpa dengan Yesus di jalan menuju kota Damsyik, berubah menjadi seorang pengikutNya, mungkin yang paling berdedikasi dan paling berdampak. Namun, siapakah sosok penting di balik perubahan hidup dan keberhasilan Paulus ini?

Dalam Kisah Para Rasul 9:1-19a dan 22:3-16, kita melihat sosok Ananias. Ananias adalah murid Yesus, yang bisa dipercaya oleh Tuhan, yang tinggal di kota Damsyik. Ketika Yesus menampakkan diriNya pada Saulus di tengah jalan ke Damsyik sehingga Saulus buta seketika, Yesus berkata pada Saulus, “Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau perbuat” (Kisah 9:6). Karena perintah inilah, Saulus kemudian berjumpa dengan Ananias. Ananias adalah seorang murid yang dipercaya oleh Yesus dan direkomendasi untuk bertemu dengan Saulus untuk melayani Saulus yang saat itu baru saja menjadi percaya kepada Kristus. Bukan hanya itu, Ananias juga adalah murid yang hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Salah satu buktinya dapat kita lihat dalam tulisan Lukas, “Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: ‘Ananias!’ Jawabnya: ‘Ini aku, Tuhan!'”(Kisah 9:10). Tidak mungkin Ananias bisa peka mendengar Tuhan berbicara langsung kepadanya jika ia tidak hidup dipimpin oleh Roh. Hanya orang yang hidupnya dipimpin Roh dan membangun hubungan yang intim dengan Tuhan-lah yang bisa berkata, “Ini aku, Tuhan.”

Berikutnya, Ananias adalah orang yang bertindak sesuai dengan tuntunan Tuhan. Lukas menulis, “Firman Tuhan: ‘Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi,”(Kisah 9:11-12). Ananias hidup sesuai tuntunan Tuhan, sehingga ia melakukan respon yang benar, pergi untuk bertemu Paulus. Namun, apakah semudah itu Ananias dapat mengambil keputusan untuk taat dan berespon benar? Mari kita lihat.

Siapapun yang adalah pengikut Kristus di zaman itu tentu gentar jika harus menemui seorang Saulus yang sudah sangat terkenal akan kekejamannya dalam menganiaya orang-orang pengikut Kristus. Demikian pula dengan Ananias. Dan ini sangat wajar. Ananias sempat mengutarakan ketakutannya kepada Tuhan, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu,”(Kisah 9:13-14). Tetapi Tuhan tidak mengubah rencanaNya untuk memakai Ananias hanya karena ia takut. Tuhan tetap memakai Ananias dengan menyingkirkan ketakutan di hidupnya, kemudian respon yang sangat baik dari Ananias adalah ia memilih untuk taat, ia tidak membiarkan ketakutan mengendalikan hidupnya. Walaupun takut, setelah mengakui ketakutannya kepada Tuhan, Ananias taat kepada perintah Tuhan untuk menjumpai Saulus.

Kualitas pribadi berikutnya yang harus kita perhatikan adalah bahwa Ananias adalah murid yang percaya penuh kepada firman Tuhan. Banyak orang yang sudah mendengar firman Tuhan, tetapi gagal mempercayai sepenuh hati. Ananias adalah murid sejati yang percaya penuh pada firman Tuhan. Dikatakan, “Tetapi firman Tuhan kepadanya: ‘Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku,'” (Kisah 9:15-16). Di ayat ini, kita melihat Tuhan mengajar Ananias agar tidak melihat masa lalu seseorang, melainkan melihat masa depan orang tersebut sesuai rencana Allah. Meresponi Firman Tuhan ini, Ananias akhirnya pergi menemui Saulus dan menumpangkan tangannya untuk kesembuhan Saulus. Inilah titik terpenting dalam sisi kehidupan Ananias: respon untuk taat. Sebagai buah dan dampak dari ketaatan Ananias, lahirlah Paulus. Dikatakan, “Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: ‘Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.’ Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya,”(Kisah 9:17-19). Akhirnya Paulus disembuhkan, dipulihkan dan dibaptis menjadi murid Tuhan.

Setelah Paulus menjadi murid dan saksi Kristus, Paulus sendiri pun melihat kualitas seorang Ananias. Ananias saleh dan terkenal baik di lingkungannya, sehingga Paulus bersaksi, “Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ,”(Kisah 22:12). Bukan hanya saleh dan berbuat baik, tetapi ia juga mempraktekkan karunia-karunia Roh. Kata Paulus tentang Ananias, “Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia,”(Kisah 22:13). Ananias juga berani bernubuat. Paulus bersaksi tentang Ananias, “Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kau lihat dan yang kau dengar,” (Kisah 22:14-15). Paulus memperoleh iman dan kekuatan untuk menyerahkan diri kepada Tuhan karena mendengar isi nubuatan dari Ananias. Apa yang terjadi jika Ananias tidak hidup saleh lalu mengabaikan karunia Roh yang ada pada dirinya? Paulus tidak akan pernah disembuhkan oleh Tuhan dan tidak akan pernah menghasilkan dampak yang besar seperti yang kita kenal.

Karena respon Ananias yang benar kepada Tuhan, Paulus menjadi seorang rasul Kristus yang berdampak sebagai pewarta kabar baik ke seluruh dunia. Nama Paulus dikenang oleh dunia sebagai tokoh penting dalam penyebaran ajaran Yesus Kristus dalam masa Perjanjian Baru. Sosok Ananias memang tidak dikenang dunia, bahkan hampir dilupakan, namun karena responnya yang benar, ia memberi dampak yang luar biasa pada dunia karena telah ‘melahirkan’ Paulus sebagai rasul Kristus bagi banyak orang dan bangsa. Hari ini, sebenarnya dunia mengenal Kristus bukan sekedar karena pelayanan Paulus, namun pertama-tama karena Ananias melakukan responnya yang benar bagi Paulus.

2019-10-29T11:02:37+07:00