//Dipimpin Roh

Dipimpin Roh

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” – Galatia 5:22-26

 

Youth, pernahkah kamu sadari, dari sembilan macam buah Roh yang disebutkan di surat Galatia ini: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri; tiga (kasih, sukacita, dan damai sejahtera) berurusan dengan hubungan orang percaya dengan Kristus, tiga selanjutnya (kesabaran, kemurahan, dan kebaikan) berurusan dengan hubungan orang percaya dengan sesamanya, sedangkan tiga yang terakhir (kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri) berurusan dengan hubungan orang percaya dengan dirinya sendiri? Juga, pernahkah kamu sadari bahwa kata yang dipakai untuk mendaftar deretan kualitas hidup itu adalah “buah Roh“, kata bermakna tunggal/satu, bukan “buah-buah Roh” yang bermakna banyak/lebih dari satu? Rupanya, kehidupan Kristen harus berkualitas dalam hal hubungan antar tiga subjek yang saling terkoneksi: Tuhan, sesama, dan diri sendiri; dan seluruh kualitas kehidupan Kristen ini adalah satu, tidak terpisah satu sama lain dan tidak ada bagian atau macamnya yang kurang penting atau boleh diabaikan. Wow!

 

Nah, yuk kita lihat maksudnya. Setiap orang yang sudah menjadi milik Kristus, kita semua, punya Roh Kristus. Roh Kristus atau  Roh Kudus itu tinggal dan hidup di dalam diri kita. Ayat di Galatia 5:22-26 tadi menyatakan bahwa buah Roh itu sudah seharusnya muncul dan terlihat pada diri kita, hawa nafsu dan keinginan daging kita sudah seharusnya kita salibkan, dan hidup kita sudah seharusnya kita jalani dengan dipimpin oleh Roh.

 

Kita tahu bahwa buah Roh seharusnya selalu terlihat dalam hubungan kita dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri kita sendiri. Bentuk atau macam buah Roh yang pertama kali disebutkan sebetulnya menjadi intinya: kasih. Kasih adalah Kristus sendiri; karena kita adalah milik Kristus dan Roh-Nya hidup di dalam kita, kita pasti bisa hidup dengan mengeluarkan seluruh buah Roh itu secara nyata. Caranya? Hidup dipimpin oleh Roh, supaya kita mengikuti pimpinan Roh itu, bukan mengikuti keinginan kita sendiri.

 

Wait… Memang apa salahnya punya keinginan? Kenapa kita tidak boleh mengikuti keinginan kita sendiri?

 

Tepat sebelum ayat yang kita baca tadi, yaitu di Galatia 5:19-21, tercatat beberapa bentuk kedagingan (kecenderungan dosa) yang harus kita hindari. Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, mementingkan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, dan pesta pora. Semuanya terkesan kacau dan jahat, ‘kan? Ini semua adalah kecenderungan, atau keinginan, yang normal pada diri setiap manusia. Bayangkan kalau kita hidup mengikuti keinginan-keinginan ini… Bukan cuma kita jadi saling menyakiti dan merusak, tetapi kita juga berubah menjadi orang yang jahat serta berdosa terhadap Tuhan! Mengikuti kedagingan atas nama “gue kepinginnya gitu” sungguh berbahaya, karena merusak hubungan kita dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Ini berlawanan dengan sembilan macam buah Roh!

 

Di dalam diri kita sebagai manusia, banyak sekali keinginan kedagingan yang merupakan kecenderungan dosa. Dua contoh yang sering menjadi pergumulan orang-orang muda adalah penyembahan berhala dan iri hati. Yuk, kita lihat lebih jelas dengan jujur.

 

Banyak orang Kristen, termasuk kita, masih terjebak dengan konsep “dosa kecil” atau “dosa nggak penting”. Ini juga terkait dengan dosa penyembahan berhala. Memang penyembahan berhala tidak selalu seekstrem perbuatan menyembah patung ataupun melakukan ritual-ritual khusus kepada dewa-dewa, tetapi berhala mudah sekali muncul di dalam hidup kita: popularitas, hubungan dengan seseorang, kecanduan tertentu, gadget, atau apa pun. Pada dasarnya, kita semua punya potensi untuk memberhalakan atau mendewakan hal-hal yang menurut kita prioritas. Ketika prioritas atas hal itu sudah mengatasi prioritas akan Tuhan di hati kita, itulah penyembahan berhala.

 

Kemudian, dosa kedua yang sering menjebak banyak orang muda adalah iri hati. Misalnya, iri dengan pencapaian orang lain, iri dengan hal yang dimiliki oleh orang lain, iri dengan rupa dan kondisi fisik orang lain, dan lain-lainnya. Berapa sering kita habis-habisan mengusahakan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang orang lain miliki, sesuatu yang sebenarnya kita inginkan sampai iri hati untuk diri kita sendiri? Contohnya banyak: serangkaian produk perawatan kulit mahal yang kita beli dengan cara cicilan berbunga padahal kita tak mampu demi mendapatkan tampilan kulit yang putih mulus seperti yang dimiliki sang idola K-pop, gadget baru supercanggih yang kita beli meski kita tak membutuhkan sebagian besar fungsinya demi dianggap sama dengan teman-teman segeng di kampus, dan banyak lagi lainnya. Kita semua, tanpa kecuali, perlu berhati-hati, karena iri hati mampu mengungkit amarah dan kedengkian sehingga menimbulkan perselisihan dan perseteruan yang membuat kita sulit untuk mengasihi.

 

Bentuk yang mana pun dari kecenderungan dosa atau kedagingan membawa kita menjauh dari hidup yang saling mengasihi dengan kasih Kristus. Iblis benci jika kita hidup saling mengasihi dengan kasih Kristus, maka ia berusaha merusak anak-anak muda dengan segala kedagingan, agar kita anak-anak muda tidak mencerminkan kasih Kristus dalam hidup kita. Bahkan, Iblis rajin mengecoh kita untuk terjebak dalam kedagingan tersebut.

 

Jangan menunggu sampai kita berhadapan langsung dengan godaan atau kecohan iblis dalam berbagai kecenderungan dosa dan kedagingan itu. Serang dan kalahkan musuh kita secara proaktif. Bagaimana caranya? Ingat, Firman Tuhan di ayat yang kita baca tadi sudah jelas menyatakan bahwa kita harus melawan segala kedagingan dengan:

 

  1. Senantiasa hidup dipimpin oleh Roh

Galatia 5:25 berkata, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Roh Kudus jauh lebih berkuasa di atas segala roh lainnya, termasuk atas roh jahat. Kekuatan kita sebagai manusia sangatlah terbatas, kita tidak mampu melawan roh jahat yang menggoda atau mengecoh lewat segala keinginan kedagingan kita sendiri, jika kita melawan tanpa kekuatan yang berasal dari Roh Tuhan. Latih dirimu untuk menangkap keinginan Roh Kudus di dalam hati nuranimu, lalu ikuti keinginan Roh Kudus itu. Ini butuh proses, tetapi kamu pasti akan makin terbiasa dan akhirnya melihat bahwa hidupmu dipimpin oleh Roh Kudus.

 

  1. Kuasai dirimu dan jadilah tenang

1 Petrus 4:7 menjelaskan alasannya mengapa kita perlu menguasai diri, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Penguasaan diri adalah bagian penting dari seluruh buah Roh. Pada masa seperti ini,¬† ketika begitu banyak hal terjadi dan berubah tanpa dapat kita kendalikan, penguasaan diri sangatlah penting. Ketika kita menguasai diri kita, kita mampu mengontrol diri kita untuk memilah apa yang benar untuk kita lakukan dan apa yang tidak patut.

 

  1. Tetap saling mengasihi

Selanjutnya, 1 Petrus 4:8 juga berkata, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” Kasih adalah inti sekaligus kunci utamanya. Kasih merupakan solusi terbaik untuk mengatasi segala perselisihan dan hubungan yang tidak harmonis. Dengan kasih yang menyatukan yaitu kasih Kristus, kita semua sanggup bersatu dan saling mengasihi tanpa syarat, bahkan saling menyembuhkan dan memulihkan dari luka-luka akibat hubungan yang sebelumnya rusak. Kasih adalah satu-satunya cara yang membawa kita berhubungan baik dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri.

 

Youth, perlu sekali untuk diingat bahwa kita adalah anak-anak Allah yang telah ditebus dan dimerdekakan oleh belenggu dosa. Maka dari itu, jangan mau untuk diperbudak oleh keinginan kedagingan lagi. Berikan dirimu untuk senantiasa hidup dipimpin oleh Roh, menguasai diri dalam ketenangan, dan saling mengasihi dengan kasih Kristus. Yuk, kita lakukan… Bersama-sama dan dengan Roh Allah di dalam kita, kita pasti bisa!

 

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” – Galatia 5:1

2021-11-02T09:01:12+07:00