///Divinity Behavior (Perilaku Anak Allah)

Divinity Behavior (Perilaku Anak Allah)

Ada ucapan yang menyatakan bahwa bagaimana perilaku kita sesungguhnya mencerminkan siapa yang kita sembah. Jika direnungkan, pernyataan ini benar. Siapa yang kita sembah: sifat-Nya, isi hati-Nya, jati diri-Nya; akan memengaruhi cara hidup kita: pola pikir, pola rasa, pola ucap, pola tindak, dan pola tanggap kita. Jika pribadi yang kita sembah itu bersifat penuh kasih, kita pun akan berperilaku penuh kasih. Hubungan antara sosok yang disembah dengan si penyembahnya sangat menyerupai hubungan antara orang tua dan anaknya, yang tergambar dalam pepatah yang berbunyi, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Bagi kita sendiri, kita adalah anak-anak Allah, yang menyembah Allah sendiri, Pribadi Mahasempurna yang menciptakan segalanya.

Firman Tuhan berkata, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya,” (Yoh. 1:12). Untuk menjadi anak Allah, seseorang perlu “menerima” Kristus (dalam bahasa Yunani, “elabon“, dari akar kata “lambano“). Bentuk kata kerja lampau “menerima” ini menunjukkan suatu tindakan tertentu dari iman, yang sudah dilakukan. Setelah tindakan iman tersebut dilakukan, masih harus ada tindakan percaya yang terus berkesinambungan, yaitu kata kerja “percaya” (dalam bahasa Yunani, “pisteuousin“, dari akar kata “pisteuo“) dalam bentuk partisip masa kini, yang menunjukkan tindakan yang dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan. Ini memerlukan ketekunan. Supaya seseorang menerima keselamatan yang sempurna, iman sejati harus utuh, terdiri dari ketekunan percaya yang berlangsung terus-menerus setelah tindakan pertama/awal menerima Kristus (Mat. 10:22; 24:12-13Kol. 1:21-23Ibr. 3:6, 12-15). Orang yang melakukan dua hal ini secara utuhlah yang menjadi anak Allah. Mereka berhak menjadi anak angkat Allah setelah menerima Kristus sehingga dilahirkan kembali, serta percaya dalam nama Kristus sehingga hidup baru sebagai anak Allah (Yoh. 3:1-21).

Nah, sebagai anak Allah, bagaimana seharusnya kita berperilaku? Perilaku anak Allah pada intinya didasarkan pada satu motivasi, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia,” (Kol. 3:23). Dari dasar ini, lahirlah pola perilaku kehidupan yang ilahi sebagai anak Allah, yang mencakup:

 

  1. Pola pikir ilahi

Selalu berpikir untuk melakukan kehendak Bapa. Bukan berpikir untuk keinginan dan kesenangan diri sendiri, melainkan berpikir dengan tujuan dan fokus yang mencari cara dan mengusahakan untuk melakukan kehendak Bapa.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” – Filipi 4:8

 

  1. Pola rasa ilahi

Senantiasa menjaga hati dan emosi di dalam kontrol Roh Kudus, terus-menerus. Melewati dan menghadapi setiap situasi sambil belajar memaknainya dari perspektif hati Allah, sehingga mengerti alasan munculnya setiap perasaan dan bijak dalam mengekspresikannya.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. –  Amsal 4:23

 

  1. Pola ucap ilahi

Dalam setiap proses komunikasi, selalu teguh mengucapkan perkataan kebenaran, apresiasi, teguran, perintah, dengan kasih, hikmat/kebijaksanaan, sekaligus prinsip yang jelas. Tidak berkata-kata sia-sia, kotor, atau yang meruntuhkan sesama.

Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” – 1 Petrus 4:11

 

  1. Pola tindak ilahi

Memahami skala prioritas dengan jelas dan bertindak sesuai skala prioritas itu. Mengeksekusi segera hal-hal yang penting dan mendesak serta mengelola rencana-rencana masa depan dengan dasar mengerjakan segala sesuatu sesuai isi hati Allah sebagai Bapa.

Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” – Filipi 4:9

 

  1. Pola tanggap ilahi

Dalam menanggapi apa pun yang terjadi, menanggapi/berespons benar seperti Tuhan Yesus berespons. Selalu memilih Tuhan Yesus sebagai panduan dan teladan dalam berespons atas segala sesuatu, termasuk ketika ketika orang lain berespons tidak benar atau ketika situasi tidak benar/ideal. Respons yang lebih tinggi, melampaui keadaan yang ada.

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” – 1 Yohanes 2:6

Bagi kita yang telah menjadi anak-anak Allah dan sedang belajar hidup dalam pola perilaku sesuai diri-Nya, ada tiga janji Allah yang pasti berlaku:

  1. Allah pasti menyediakan upah bagi kita: “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” – Kolose 3:24
  2. Allah pasti memberikan yang terbaik bagi kita: “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” – Matius 7:9-11
  3. Allah pasti memenuhi segala kebutuhan kita dengan limpah: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.” – Filipi 4:19-20

 

Di dunia masa sekarang yang penuh dengan kegelapan dan kejahatan ini, mari hidup di dalam pola perilaku ilahi sebagai anak-anak Allah. Dari kehidupan kitalah, terang Allah akan menyinari dunia. Selamat melakukannya dengan setia, di dalam berkat dan penyertaan Allah sebagai Bapa kita.

2022-02-25T13:09:57+07:00