Ekklesia

Pewahyuan Tentang Siapakah Yesus

Pada suatu ketika, Kristus membawa murid-muridNya ke Kaisarea, Filipi. Di situ, ada tebing batu besar yang memiliki gua besar dan menyerupai pintu gerbang yang disebut “pintu gerbang alam maut.” Di tempat itu, pernah dibangun berbagai kuil dari semua ilah (dewa) di segala zaman kerajaan; mulai dari kerajaan Babilonia, Yunani, sampai kerajaan Romawi. Di tempat inilah Yesus bertanya kepada murid-murid tentang siiapakah diriNya. Tiba-tiba Petrus mendapatkan pewahyuan bahwa Yesus adalah, “Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16). Selanjutnya, Yesus berkata bahwa di atas dasar pewahyuan inilah Dia akan membangun gerejaNya. Mari kita amati perkataan Petrus. Siapakah Mesias? Mesias, menurut kepercayaan orang-orang Yahudi adalah Raja yang akan datang untuk menyelamatkan orang-orang Israel. Jadi, Mesias adalah Raja Penyelamat. Lalu, Siapakah Anak Allah yang hidup itu? Yesus bukanlah manusia biasa, Ialah Anak Allah itu. Dan, Anak Allah adalah Allah.

Ingatkah Anda bahwa ketika Yesus mengaku sebagai Anak Allah, orang-orang Yahudi ingin membunuhNya (Yoh. 10:32-39)? Bagi seorang Yahudi tulen, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Allah, Yesus telah mengakui diriNya sebagai Allah. Bagi mereka, ini adalah hujat. Itulah sebabnya, mereka hendak membunuh Dia. Mengapa? Karena mereka  menganggap Yesus hanyalah seorang manusia, tetapi terlalu berani menyamakan diriNya dengan Allah.

Anak Allah adalah firman Allah yang menjelma sebagai manusia dan berdiam di dalam dan di antara umatNya. Kristus adalah Firman yang menjelma menjadi manusia untuk menyatakan siapakah Bapa itu. Ini berarti, Yesus adalah Anak Allah. Sebagai Raja dan Allah sendiri, apa yang Yesus kehendaki untuk terjadi di bumi? Sebagai seorang Raja, Yesus menginginkan sebuah kerajaan. Sebagai Allah yang hidup, Ia menginginkan sebuah bait/tempat kediaman. Kedua aspek ini menunjukkan bahwa Ia menginginkan sebuah tempat kediaman untuk memerintah. Nah, tempat kediaman itulah yang dinyatakan oleh Yesus di Kaisarea Filipi sebagai ekklesia. Jadi, apakah ekklesia itu? Ekklesia bukanlah istilah baru yang tiba-tiba diilhamkan kepada Yesus. Ekklesia justru telah digunakan oleh masyarakat sejak masa kerajaan Yunani, 400 tahun sebelumnya. Pada zaman Yunani klasik, para filsuf Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles yang memperkenalkan istilah ekklesia. Istilah ini dipakai oleh kerajaan Yunani untuk melukiskan sebuah lembaga (kelompok manusia) yang dipanggil keluar dari kesatuan militer karena telah melayani selama dua tahun, untuk menjadi dewan kota mendampingi raja dalam urusan pemerintahannya.

Ekklesia pada zaman Romawi tampaknya sedikit berubah, karena orang-orang yang dipilih tidak selalu berasal dari latar belakang militer. Tugas ekklesia adalah menentukan para eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Ekklesia adalah semacam “badan penasihat raja.” Tugasnya yang paling luar biasa adalah mengambil keputusan bersama raja di dalam melaksanakan ekspansi kerajaan. Mereka bersama raja menentukan keputusan penting untuk berperang dan memperluas kerajaan mereka. Ekklesia didirikan untuk memperluas kerajaan dari raja yang memerintah. Di zaman itu, ekklesia bertemu beberapa kali dalam sebulan (maksimal 4 kali).

Dari konsep ekklesia di atas, Yesus menyatakan bahwa sebagai Raja dan Anak Allah yang hidup, Ia akan mendirikan ekklesia-Nya, yang jauh lebih hebat daripada ekklesia para raja yang pernah memerintah. Kitalah ekklesia yang hebat itu. Gereja adalah ekklesia Kristus, Raja dan Anak Allah yang hidup. Ekklesia itu adalah sekelompok orang yang dipanggil keluar dari kerajaan kegelapan, untuk menjadi tempat kediamanNya (tubuh Kristus; keluarga Bapa; bait Roh Kudus), untuk menghadirkan atau memperluas kerajaan Allah di bumi.

 

Berperang Untuk Memperluas Kerajaan Allah

Di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, ekklesia selalu mengadakan rapat (sidang) dengan raja untuk menentukan keputusan menyatakan perang dan mengirim utusan-utusan perang (jenderal-jenderal), yang disebut “apostolos” atau “rasul”. Para jenderal (apostolos/rasul) yang diutus akan berperang melawan negara yang hendak ditaklukkan. Setelah ditaklukkan, para utusan perang (apostolos) akan melakukan parade kemenangan dan memberitakan kabar kemenangan dan mengajak rakyat kota yang ditaklukkannya untuk menjadi warga negara kerajaan mereka. Dengan cara yang sama seperti itulah, Allah Bapa mengutus jenderal/rasul pertamaNya, yaitu Yesus Kristus, untuk memperluas kerajaanNya di bumi.

“Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Mat. 12:28)

Bagaimana cara Yesus sebagai rasul pertama memperluas Kerajaan Allah? Caranya adalah dengan mengusir setan, musuh Kerajaan Allah. Bila musuh Kerajaan Allah telah dihancurkan dan dikalahkan, maka kerajaan Allah diperluas. Memang tugas kedatangan Anak Allah adalah untuk membinasakan perbuatan-perbuatan iblis itu (1 Yoh. 3:8). Jadi, satu-satunya cara untuk memperlebar Kerajaan Allah adalah dengan berperang melawan iblis dan menghancurkan perbuatan-perbuatannya.

Hal inilah yang dilakukan oleh Yesus dengan kuasa Roh Allah. Setelah Yesus datang sebagai Rasul, utusan perang yang pertama, Ia juga memperbanyak utusan-utusan perangNya untuk menjadi penakluk-penakluk di daerah teritorial musuh dan memperluas Kerajaan Allah.

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendakiNya dan merekapun datang kepadaNya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutusNya memberitakan Injil dan diberiNya kuasa untuk mengusir setan.” (Mrk. 3:13-15)

 

Seperti Bapa mengutus Yesus, Rasul pertamaNya, demikian pula Yesus mengutus ke-12 rasul untuk memperluas Kerajaan Allah dengan metode yang sama, yaitu mengusir setan dengan kuasa Roh Allah. Apakah tugas memperluas Kerajaan Allah hanya diberikan kepada ke-12 murid yang diberi jabatan rasul? Tidak. Ternyata tugas yang sama diberikan oleh Yesus kepada ke-70 murid yang tidak berjabatan rasul (Luk.10:1-12) untuk memperluas Kerajaan Allah. Ternyata tugas peperangan melawan setan untuk memperluas Kerajaan Allah, bukan hanya diperintahkan kepada rasul-rasul dan ke-70 murid saja, tetapi juga diberikan kepada seluruh orang percaya (Mrk. 16:15-20).

Itu sebabnya, kita sebagai Tubuh Kristus harus sadar bahwa tugas untuk memperluas Kerajaan Allah ternyata diberikan kepada seluruh ekklesia-Nya. Karena itulah hakekat dari maksud didirikannya ekklesia. Ekklesia didirikan oleh Yesus untuk melakukan peperangan melawan kerajaan kegelapan dan memperluas Kerajaan Allah.

 

Kunci-kunci Kerajaan

Sekarang, marilah kita mendalami kuasa apakah yang diberikan oleh Kristus kepada ekklesia-Nya? Kepada ekklesia itulah, Tuhan Yesus memberikan kunci-kunci kerajaan untuk mengalahkan “pintu gerbang” kerajaan kegelapan. Mengapa? Karena kerajaan kegelapan telah menguasai kehidupan manusia di seluruh bumi ini (Mat. 4:8-9; 1 Yoh. 5:19). Jika kita melihat Matius 18:18-20, walau dengan konteks yang sedikit berbeda, kita dapat melihat bahwa kunci-kunci kerajaan, yaitu kuasa mengikat dan melepaskan tersebut, diberikan bukan hanya kepada Petrus (Mat. 16:17-19), tetapi kepada semua orang percaya yang bersepakat.

Itulah sebabnya, ekklesia mempunyai kunci-kunci kerajaan yang bisa mengalahkan kerajaan kegelapan. Ekklesia, dengan kunci-kunci kerajaan, akan mengalahkan pintu gerbang kerajaan kegelapan dan melepaskan jiwa-jiwa yang terikat dan membawanya ke dalam Kerajaan Allah. Kunci-kunci kerajaan tersebut adalah kuasa yang diberikan oleh Kristus (Raja) untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan setan atas manusia. Kunci-kunci kerajaan adalah pelayanan doa syafaat, doa peperangan rohani, pengusiran setan, doa pelepasan, kesembuhan, mujizat, dan pemberitaan Injil yang membebaskan jiwa-jiwa dari ikatan setan.

 

Pola Dasar Ekklesia

Yesus berkata bahwa Ia “akan” membangun ekklesia-Nya. Artinya, hal itu belum terjadi pada masa itu, tetapi akan terjadi pada hari Pentakosta. Namun, selama 3,5 tahun pelayanan Yesus, sebenarnya Ia sedang mempersiapkan sebuah pola dasar bagi ekklesia-Nya. Pola dasar ekklesia adalah sebuah contoh seperti pola dasar yang terlebih dahulu dibuat untuk memotong kain, sesuai dengan pola dasar tersebut. Ketika kain tersebut dijahit, pakaian yang dihasilkan sesuai dengan model dan ukuran yang diinginkan oleh desainernya.

Pola dasar ekklesia adalah seperti “cetak biru” (blue print) pada bangunan. Pola dasar ekklesia adalah seperti “DNA awal” dari suatu mahluk hidup (misalnya, binatang) yang hendak dikloning menjadi banyak mahluk hidup, yang persis serupa sifatnya dengan mahluk hidup awalnya. Setelah Yesus membentuk pola dasar ekklesia yang dihidupi oleh para rasul pada masa 3,5 tahun pelayananNya, pola tersebut kemudian digunakan sebagai pola dasar yang dimultiplikasikan kepada ekklesia mula-mula di hari Pentakosta. Jadi, DNA gereja yang mula-mula dikloning dari pola dasar ekklesia, untuk kemudian dihidupi oleh para rasul.

 

Nah, apakah pola dasar ekklesia tersebut? Markus menuliskan keterangan yang luar biasa bagi kita:

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendakiNya dan merekapun datang kepadaNya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutusNya memberitakan Injil dan diberiNya kuasa untuk mengusir setan.” (Mrk. 3:13-15)

 

Bukan hanya itu saja, tetapi Markus juga menjelaskan kepada kita tentang apa yang dilakukan oleh Yesus:

“Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,” (Mrk. 6:7)

 

Yesus memanggil ke-12 muridNya (rasul) untuk menjadi ekklesia (= yang dipanggil keluar)

 

Yesus menetapkan ke-12 muridNya (rasul) untuk menyertai Dia dalam sebuah komunitas kecil (komunitas sel = komsel)

 

Yesus mengutus ke-12 muridNya (rasul) berdua-dua untuk menghadirkan (memperluas) Kerajaan Allah dengan memenangkan jiwa (komunitas sepakat = kompak)

 

Unit Dasar Ekklesia


Sebelum ekklesia dilahirkan di hari Pentakosta, Yesus mengumpulkan “komsel” para rasul selama 40 hari dan mengajarkan berulang-ulang kepada mereka topik Kerajaan Allah (Kis. 1:1-3). Adapun daftar nama para rasul (11 orang) dicantumkan dengan menggunakan pola kelompok kecil yang berisi 2-3 orang, dan masing-masing pasangan dihubungkan dengan kata sambung “kai” (kata yang menunjukkan hubungan beberapa objek di dalam satu kesatuan).

“Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.” (Kis. 1:13)

 

Kemudian, mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama (Kis. 1:1-4). Tapi, sebelum Roh Kudus dicurahkan, maka rasul-rasul harus membuang undi untuk menentukan pengganti Yudas yang jatuh dan bunuh diri. Jadi, jika ke-12 murid telah komplit, maka beginilah bentuk unit dasar ekklesia yang menjadi pola dasar.

Inilah unit dasar ekklesia yang terus dipraktikkan oleh para rasul sebagai pola dasar, yang harus terus-menerus dimultiplikasikan gaya hidupnya (DNA) kepada seluruh anggota ekklesia. Itu sebabnya, semua orang yang sedang mendengarkan kotbah Petrus menjawab PANGGILAN untuk menjadi ekklesia (Kis. 2:37-41). Semua orang yang telah dipanggil tersebut, DITETAPKAN untuk hidup di komunitas kecil di rumah-rumah (Kis. 2:46-47). Akhirnya, semua orang percaya diurapi oleh Roh Kudus dan DIUTUS untuk bersaksi, sehingga tiap-tiap hari ada jiwa baru yang dimenangkan (Kis. 4:47).

 

Jadi, marilah kita pada tahun ini benar-benar mempersiapkan diri, supaya dipakai oleh Kristus untuk membangun ekklesia yang pintu alam maut pun tak sanggup mengalahkannya. Ingat, Kristuslah yang sedang membangun ekklesia-Nya melalui kita.

2019-10-17T14:32:13+07:00