//Ekspresikan Diri-Mu

Ekspresikan Diri-Mu

Mari kita membaca sambil merenungkan sejenak Amsal 31,

Istri yang cakap siapakah yang mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.

Is serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.

Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.

 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.

Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.

 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam

Tangannya ditaruhnya pada lentera, jari-jarinya memegang pemintal.

 Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.

Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.

Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang. Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

 

Siapakah wanita yang ada di bayangan kita saat membaca Amsal 31 ini?

 

Hmm… rasanya nggak ada deh wanita sesempurna itu… Seluruh hidupnya berkisar pada menghormati Allah, belas kasihan bagi orang miskin, setia dan kasih pada suami dan keluarganya, lemah lembut, dan rajin bekerja.

 

Mungkin, kita tidak akan pernah menemukan sosok wanita yang memenuhi kriteria “sempurna” seperti dalam Amsal 31 ini. Bahkan tokoh-tokoh wanita yang namanya tercatat dalam Alkitab pun tidak ada yang memiliki ciri-ciri sesempurna itu.  Namun, kabar baiknya, setiap wanita bisa melayani Allah, sesama, keluarganya, bahkan dunia dengan kemampuan dan kasih karunia yang diberikan oleh Allah. Ini termasuk kita, wanita-wanita yang sedang membaca artikel ini.

 

Kita tidak perlu menunggu diri kita sempurna untuk melayani. Justru ketika kita berfungsi dengan benar, Allah-lah yang akan memenuhi dan melengkapi kita, sehingga kesempurnaan Allah dapat diekspresikan melalui hidup kita.

 

Mari kita berkenalan dengan Joni Eareckson Tada, seorang pelukis sekaligus penulis disabilitas asal Amerika Serikat (AS). Salah satu buku best seller-nya adalah autobiografinya yang berjudul Joni, yang telah difilmkan dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 15 bahasa dan telah menyentuh serta mengubah hidup ribuan orang.

 

Siapakah Joni? Dia lahir pada tahun 1949 di Baltimore, AS, merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Joni adalah wanita muda yang mengasihi Allah, cantik, pintar, dan aktif. Walaupun belum sesempurna seperti gambaran wanita dalam Amsal 31, tetapi hidup Joni sangatlah baik-baik saja pada waktu itu, hingga pada suatu saat ia mengalami proses Tuhan yang mengubah hidupnya.

 

Saat berusia 17 tahun, Joni mengalami kecelakaan. Tepatnya di bulan Juli 1967. Joni dan kakaknya pergi ke sebuah pantai untuk berenang.  Joni melompat terjun ke dalam air dari sebuah rakit, tetapi ternyata air itu tidak sedalam yang dia kira. Tubuh Joni membentur dasar pantai tersebut dan berakibat kerusakan tulang belakangnya. Dia mengalami lumpuh dari leher sampai ke bawah kakinya, secara permanen.

 

Pada bulan-bulan pertama penderitaannya di rumah sakit, dia mengalami depresi yang berat dalam usahanya mencoba memahami apa yang terjadi pada dirinya. Dia bahkan sempat memohon kepada teman-temannya untuk membantunya melakukan bunuh diri. Syukurlah, melalui pertolongan dari teman-temannya, semangat hidupnya bangkit kembali. Joni akhirnya siap memulai rehabilitasi fisik.

 

Selama dua tahun masa rehabilitasi, dia menyadari bahwa apa pun yang terjadi, betapa buruknya situasi yang terjadi, hidupnya tetaplah sebuah pilihan. Dia dapat memilih hidup dengan penuh penyesalan dan kemarahan kepada Tuhan, atau menjalaninya dengan berjalan bersama Tuhan.

 

Joni mengisi masa-masa rehabilitasinya dengan belajar melukis. Awalnya hal ini tentu bukan cara yang mudah bagi Joni, karena tangannya tidak dapat digerakkan. Dia belajar melukis dengan cara yang unik dari Tuhan, yaitu menggunakan mulutnya sebagai tangannya. Rasa frustrasi masih berkecamuk di dalam batinnya dalam kegiatan melukisnya sehari-hari itu, tetapi Roh Kudus terus memberi kekuatan kepadanya dan orang-orang di sekitarnya terus memberi semangat kepadanya. Akhirnya dia berhasil melakukannya dengan terampil. Kini, lukisan-lukisan karya Joni dikoleksi oleh banyak orang. Tidak hanya itu, Joni kembali membangun imannya lewat bersekutu akrab dengan Tuhan setiap hari. Kebergantungannya dengan Tuhan setiap hari membuat imannya kepada Tuhan semakin bertumbuh. Joni menemukan makna hidupnya di dalam persekutuannya dengan Tuhan.

 

Pada tahun 1979, Joni mendirikan “Joni and Friends” yaitu sebuah organisasi untuk melayani orang-orang cacat dan keluarga atau teman-teman mereka. Mereka juga membuat program “Wheels for the World”, yaitu mengumpulkan 14.000 kursi roda dari seluruh Amerika untuk dikirim ke negara-negara yang membutuhkan. Selanjutnya, Joni membuat program siaran radio Joni and Friends, yang disiarkan oleh 850 pemancar radio. Pada tahun 1982, Joni menikah dengan Ken Tada dan keduanya melayani Tuhan bersama-sama hingga hari ini.

 

Tuhan memakai keterbatasan Joni untuk menjadi ekspresi-Nya. Tuhan menjangkau jiwa-jiwa melalui kehidupan dan karya-karya Joni yang serba tidak sempurna. Demikian pula keindahan eskpresi Tuhan melalui kita. Jangan menunggu hingga Anda sempurna untuk dipakai oleh Tuhan, karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Dalam kondisi cacat dan di atas kursi roda sekalipun, Joni dipakai Tuhan untuk memberitakan nama-Nya kepada bangsa-bangsa. Firman Tuhan memang benar ketika berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna,” (2 Kor. 12:9).

 

Kita masing-masing bisa menjadi alat untuk Tuhan mengekspresikan diri-Nya, karena kuasa Tuhanlah yang membuat apa yang kita kerjakan menjadi sempurna, bukan kehebatan atau kuat dan gagah kita. Hari ini, terlepas dari kondisi ketidaksempurnaan kita, biarlah kita berkata kepada Tuhan, “Ekspresikan diri-Mu melalui hidupku.”

2023-09-29T13:07:18+07:00