///Era dan Musim yang Baru, bagi Gereja dan Dunia

Era dan Musim yang Baru, bagi Gereja dan Dunia

Selamat datang di tahun 2022. Sejak pandemi Covid-19 merebak, kita memasuki suatu era atau musim yang baru. Nabi Yesaya kira-kira pada tahun 600 SM telah bernubuat tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman. Saat ini, makin kita berjalan lebih lanjut di masa akhir zaman, nubuatan ini telah menjadi makin relevan.

 

“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang Tuhan terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.” – Yesaya 60:1-5, TB

 

Menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali, dunia memang makin ditutupi oleh kegelapan. Kita dapat melihat kenyataan ini terjadi sejak sebelum masa pandemi, pada masa pandemi, serta setelah masa pandemi. Dosa, kejahatan, ketidakadilan, kerusakan moral, kehancuran tatanan masyarakat, sekularisme, penyimpangan seks, dan banyak hal-hal gelap lainnya makin merajalela. Bahkan, kita tahu bahwa kegelapan ini akan terus makin menutupi bumi. Namun, di tengah-tengah kegelapan, terang dan kemuliaan Tuhan dinubuatkan terbit atas kita. Terang dan kemuliaan Tuhan ini akan makin nyata pula, hingga dunia yang ditutupi kegelapan pasti melihatnya. Inilah dua hal yang bertolak belakang secara ekstrem, yang akan terjadi makin nyata secara bersamaan di seluruh bumi pada akhir zaman ini. Saya percaya di era/musim yang baru ini, kedua hal ini pun terjadi secara bersamaan di dalam kehidupan kita sebagai Gereja.

 

“Lalu ia berkata kepadaku: ‘Jangan memeteraikan perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, sebab waktunya sudah dekat. Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!’” – Wahyu 22:10-11, TB

 

Inilah yang era/musim yang baru yang dimaksud; suatu era/musim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mungkin banyak hal yang serupa pernah terjadi pada masa silam, tetapi yang sekarang ini semuanya terjadi dalam skala yang lebih besar. Kita akan melihat bahwa dunia makin gelap, sementara Gereja Tuhan akan makin bersinar. Gereja akan makin jelas sebagai terang dan garam di dunia yang gelap dan rusak ini, karena melalui proses pandemi ini Tuhan mempersiapkan Gereja-Nya untuk menjadi komunitas yang kuat dan berdampak, yang dapat menghadirkan Kerajaan Allah di bumi. Ingatlah kembali; bukankah melalui pandemi Covid-19 ini Tuhan mengajar kita cara hidup yang baru, yang melatih kita menjadi komunitas terang dan garam bagi dunia? Mari kita perhatikan tuntunan Tuhan tentang hal-hal yang harus kita adopsi, yang harus kita pertahankan, dan yang harus kita tinggalkan sehubungan dengan kedatangan era/musim baru ini.

 

Mengadopsi yang Baru, Meninggalkan yang Lama

 

  1. Mengadopsi dan mempertahankan esensi ibadah yang sejati

Semasa pandemi, Tuhan mengajar kita kembali arti ibadah yang sejati. Sebelum pandemi, kebanyakan dari kita lebih berfokus pada bentuk luar dari ibadah dan kehilangan esensinya. Kita bagaikan kue pengantin yang dihias begitu indah pada sisi luarnya, tetapi kosong dan hanya berisi tiruan berbahan styrofoam pada sisi dalamnya. Tampilan luar yang bagus, tanpa isi. Akibatnya, ibadah atau penyembahan kita tidak berkuasa dan tidak berdampak. Ini sejalan dengan peringatan Paulus bahwa pada akhir zaman ada orang-orang di dalam jemaat yang secara lahiriah kelihatan beribadah, tetapi mereka menolak kuasa yang menyertai ibadah tersebut.

Mungkin, tanpa sadar kita pernah menjadi orang-orang yang dimaksud Paulus itu. Kita berpikir bahwa ibadah adalah bernyanyi dengan musik yang indah dan menyenangkan, lalu mendengar khotbah dari pembicara yang penuh semangat dan menghibur suasana hati kita. Kita sudah begitu terbiasa segala kenyamanan dan hiburan yang kita anggap “gereja” itu, sehingga tidak sadar bahwa ibadah sejatinya adalah memberikan korban kepada sosok yang disembah, bukan mencari kenikmatan bagi diri sendiri. Melalui pandemi ini, Tuhan telah membawa kita kembali ke esensi dari ibadah, yaitu mempersembahkan tubuh (segenap keberadaan) kita sebagai korban yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan  (Roma 12:1-8). Inilah ibadah yang sejati. Dalam konteks bersama sebagai Tubuh Kristus, ibadah sejati berarti terus-menerus mempersembahkan seluruh keberadaan kita kepada Tuhan, dimulai dari diri kita sendiri, lalu bersama-sama dengan keluarga dan komunitas kita. Menjalani era/musim yang baru ini, inilah esensi ibadah yang perlu kita tangkap dan kita adopsi. Tinggalkan cara-cara beribadah lama yang berfokus pada hal-hal lain yang bukan esensi yang sejati.

 

  1. Mengadopsi dan mempertahankan gaya hidup Tubuh Kristus sehari-hari

Salah satu pelajaran terpenting yang dikembalikan Tuhan kepada kita selama pandemi adalah bahwa gereja bukanlah sekadar acara atau kegiatan rutin seminggu sekali, melainkan gaya hidup Tubuh Kristus sehari-hari. Gereja mula-mula sampai kira-kira tahun 200 masih bersekutu tiap-tiap hari. Mengapa? Karena Gereja memang sesungguhnya adalah Tubuh Kristus, yang dalam kehidupan bersama saling mengasihi, saling berbagi waktu dan hidup, saling berinteraksi dan bersekutu, saling membangun, dan saling membawa dampak baik.

Pandemi memang membuat kita untuk sementara tidak dapat bertemu secara fisik, sehingga sebagai manusia normal yang butuh bersosialisasi kita menjadi haus terhadap koneksi dengan sesama. Melalui pertemuan online, kita dapat dan perlu bersekutu secara roh dan jiwa. Pertemuan online juga membuka dimensi baru dalam komunikasi, yang melampaui batas ruang dan perbedaan waktu; teknologi modern dapat dimanfaatkan untuk mempraktikkan kehidupan bergereja sebagai gaya hidup Tubuh Kristus sehari-hari. Inilah yang harus kita adopsi dan pertahankan. Setelah pandemi, kita perlu tetap mempraktikkan pertemuan-pertemuan online tanpa hambatan jarak dan melintasi perbedaan waktu, meskipun juga kembali melakukannya secara langsung/fisik (on-site). Keduanya sama-sama diperlukan dalam gaya hidup Tubuh Kristus sehari-hari. Inilah pola baru yang harus kita adopsi.

 

  1. Terus berjalan dan meluas dalam Amanat Agung

Perkembangan yang terjadi dalam berbagai bentuk penginjilan atau penjangkauan selama pandemi menunjukkan kepada kita bahwa Amanat Agung tidak dapat dibatasi. Dengan teknologi modern, berita injil dapat diberitakan di mana-mana tanpa terbatas oleh ruang dan zona waktu, kita dapat menjangkau banyak jiwa di berbagai tempat di seluruh dunia. Terjadi penjangkauan jiwa di titik-titik yang sebelumnya terisolasi karena lokasi/jaraknya atau budayanya, sehingga kelompok-kelompok orang yang sebelumnya sangat sulit dijangkau sekarang menjadi begitu terbuka terhadap berita injil. Teknologi internet yang makin canggih membawa kita ke lokasi-lokasi terpencil sekaligus menyediakan cara-cara yang kreatif untuk berinteraksi dengan sasaran penjangkauan. Ini sejalan dengan doa yang diajarkan Paulus tentang penjangkauan jiwa.

Akhirnya, Saudara sekalian yang saya kasihi, menjelang akhir surat ini, saya mohon supaya Saudara berdoa untuk kami. Pertama-tama berdoalah supaya Firman Tuhan menyebar dengan cepat dan mendapat kemenangan di mana-mana, menyelamatkan orang di segala tempat, seperti halnya Saudara diselamatkan pada waktu Firman itu datang kepada Saudara. – 2 Tesalonika 3:1, FAYH

 

Saya percaya isi doa yang diajarkan Paulus ini, yaitu agar injil dapat menyebar dengan cepat, memperoleh kemenangan di mana-mana, menyelamatkan orang di segala tempat, kita perlu terus berjalan dan meluas dalam Amanat Agung, dengan bantuan teknologi modern.

 

Mencermati situasi yang ada, kita dapat menyimpulkan tiga tuntunan Tuhan bagi kita di era/musim yang baru ini: esensi ibadah yang sejati, gaya hidup Tubuh Kristus sehari-hari, dan pengembangan Amanat Agung. Mari tinggalkan hal-hal lama yang tidak sejalan, lalu adopsi dan pertahankan ketiga hal ini sesudah pandemi berlalu, agar kita bersama-sama terus berjalan dalam kehendak Bapa sampai kedatangan Kristus kembali kelak.

2021-12-20T12:08:30+07:00