///Fight with endurance, Finishing well with victory

Fight with endurance, Finishing well with victory

Penulis (P) : Kak, sebenarnya endurance itu apa sih menurut Kakak? Sebegitu pentingnyakah endurance?

Narasumber (NS) : Endurance adalah daya tahan utk berjuang lebih lama dan lebih jauh secara konstan dan terus-menerus. Di dunia olahraga, khususnya olahraga renang yang saya geluti, endurance ini ditentukan oleh besaran kapasitas paru-paru dan jantung kita untuk menampung oksigen. Biasanya istilah yang digunakan adalah VO2 max, dan ini ada metode pengukurannya serta bisa dilatih/ditingkatkan. VO2 max ini memang sangat penting. Makin besar angka VO2 max, semakin jauh jarak yang bisa ditempuh oleh seseorang, dan semakin lama orang itu sanggup bertahan dalam pertandingan. Artinya, kalau kita melihat seorang atlet renang yang sanggup menempuh jarak yang panjang dengan kekuatan yang konstan (tidak menurun/melemah), itu berarti ia memiliki VO2 max atau endurance yang besar. Ibarat mobil, mesin adalah besarnya kekuatan yang dimiliki, namun kapasitas tangki bahan bakar adalah endurance atau daya tahan itu. Kapasitas tangki ini menentukan seberapa banyak bahan bakar yang bisa ditampung dan seberapa jauh mobil sanggup berjalan dengan menggunakan bahan bakar itu. Jadi seberapa penting endurance itu? Menurut saya, penting sekali. Mesin mobil dengan kekuatan luar biasa besar tentu tidak akan berarti jika kapasitas tangki bahan bakarnya terlalu kecil. Mobil itu akan berulang-ulang mogok di tengah jalan, atau setidaknya harus terus-menerus berhenti untuk mengisi bahan bakar lagi dari nol. Akibatnya, perjalanan tidak akan ditempuh dengan efektif, baik secara jarak maupun waktunya.


P : Oh, begitu… Berarti, endurance sangat berkaitan dengan pencapaian hasil atau prestasi kita ya, Kak?

NS : Tentu saja! Seorang atlit yang ingin mencapai prestasi dan meraih gelar juara wajib memiliki endurance, selain memiliki teknik, kekuatan dan kecepatan. Ketiga hal yang saya sebutkan ini memang penting, tapi tidak ada artinya tanpa endurance. Seorang atlet renang yang hanya memiliki teknik nyaris sempurna, kekuatan yang besar dan kecepatan yang luar biasa, tetap akan “kedodoran” saat semakin menjelang garis finish pertandingan. Endurance-lah yang akan membuat dia sanggup menjaga teknik, kekuatan dan kecepatannya dengan stabil, bahkan meningkat, sampai di garis finish. Otomatis, endurance yang semakin tinggi menghasilkan kesiapan atlet untuk meraih prestasi, kapanpun waktu pertandingan itu tiba.

 

P : Hmm… Ternyata endurance sangat menentukan pencapaian hasil, ya! Kalau begitu, bagaimana kalau ternyata endurance kita rendah? Apakah kita bisa meningkatkan endurance, Kak?

NS : Sangat bisa. Nah, seperti sudah saya sebutkan di awal tadi, endurance di dunia olahraga berbicara tentang kapasitas paru-paru dan jantung untuk menampung oksigen, atau ibaratnya kapasitas tangki bahan bakar pada sebuah mobil. Ini bisa dilatih supaya meningkat. Biasanya, seorang atlet renang melatih endurance dengan aktivitas-aktivitas fisik yang bersifat konstan, terus-menerus, dan menggunakan target jarak serta target waktu yang harus dipatuhi. Misalnya: berenang 3 X 100 m dengan target waktu maksimal 2 menit 10 detik untuk setiap 100 m, istirahat selama 30 detik, berenang 3 X 100 m lagi dengan target waktu maksimal 2 menit untuk setiap 100 m, istirahat lagi selama 30 detik, berenang 3 X 100 m lagi dengan target waktu maksimal 1 menit 50 detik untuk setiap 100 m. Dan ini tidak boleh terputus sebelum tuntas, harus terus dilakukan. Biasanya, endurance akan meningkat sekitar 10-20% setiap 6 minggu. Kita tidak bisa asal-asalan berkata, “Capek, ah… Hari ini aku latihan hanya 1 set saja, deh. Besok saja latihan lengkap 3 set lagi…” Memang di saat-saat awal, latihan endurance sangat melelahkan dan seolah-olah menghabiskan nafas, karena kapasitas paru-paru dan jantung kita yang tadinya kecil sedang diperbesar dan oksigen yang sedikit itu serasa tidak cukup untuk latihan seberat itu. Tetapi, jangan berhenti. Latihan, latihan, latihan. Putus latihan endurance berarti kembali ke titik nol. Kita harus membangun endurance kita dari awal lagi. Ini membuang-buang waktu dan membuat kita gagal mencapai target.

 

P : Wah, berarti fatal sekali akibatnya kalau kita tidak melatih endurance, ya… Lalu, dalam hal apa saja endurance ini harus dilatih, Kak?

NS : Oh ya, bagi seorang atlet, olahraga renang atau apapun lainnya, endurance bukan hanya dibutuhkan dalam hal aktivitas olahraga itu sendiri, tetapi dalam segala hal yang terkait. Misalnya, endurance dalam frekuensi dan intensitas latihan: apakah saya sanggup menyelesaikan program latihan dengan jadwal yang sudah ditentukan, menahan segala kelelahan dan kemalasan, dengan semangat dan kerajinan yang sama? Atau, endurance dalam hal fokus pada tujuan: apakah saya sanggup untuk senantiasa berusaha sekuat-kuatnya untuk meraih, bahkan melampaui, target waktu dan jarak saat latihan, demi target waktu dan jarak saat pertandingan nanti? Atau yang tidak kalah pentingnya juga, endurance dalam hal mental: apakah saya sanggup untuk terus-menerus menjaga kondisi mental yang terbaik, tidak patah semangat atau minder, juga tidak lengah atau sombong, senantiasa memelihara mood yang positif dan mengelola serta mengatasi tekanan menjelang pertandingan? Ini semua sangat-sangat penting.

 

P : Ck ck ck…. Saya jadi mengalami pencerahan, nih Kak! Berarti sebenarnya endurance ini bukan hanya untuk aktivitas fisik saja, tapi untuk seluruh kehidupan kita, ya…

NS : Betul sekali! Endurance memang sebenarnya berkaitan dan ada di seluruh kehidupan kita, termasuk kehidupan rohani kita. Endurance dalam hal kesehatan fisik, contohnya: apakah hasil tes kesehatan kita (kolesterol, tekanan darah, dll) tahun ini lebih baik atau sama atau bahkan lebih buruk daripada hasil tahun lalu? Endurance dalam hal keuangan, contohnya: apakah tabungan kita tahun ini dan pola pengeluaran kita tahun ini lebih baik atau justru lebih buruk daripada tahun lalu? Endurance dalam hal rohani, contohnya: apakah kualitas dan durasi hubungan pribadi kita dengan Tuhan minggu ini lebih baik atau malah lebih buruk daripada minggu lalu? Endurance dalam hal karakter, contohnya: apakah kelemahan karakter saya bulan lalu sudah berkurang atau masih ada atau bahkan makin menjadi-jadi bulan ini? Apakah jumlah orang yang terganggu/tersakiti oleh karakter buruk saya di tahun ini menjadi semakin berkurang atau malah makin bertambah daripada tahun lalu?

 

P : Hmm…. Saya setuju sekali, Kak! Menurut saya, endurance ini perlu dilatih di segala sisi kehidupan kita. Dan, rasanya tidak mungkin ya kita bisa menjalani hidup kita sampai mencapai garis akhir dengan baik (finishing well) tanpa endurance.

NS : Nah, benar pemikiranmu itu! Apalagi untuk finishing well. Jadi memang, endurance harus dilatih bukan hanya oleh para atlet saja, tetapi oleh semua orang… Ingat lho, pertandingan olahraga selalu terjadwal, tetapi pertandingan kehidupan berlangsung terus-menerus. Ujian bisa datang kapan saja. Endurance-lah yang menjaga kita selalu siap untuk menang dalam ujian dan pertandingan ini. Tanpa endurance, kemenangan pertama sangat mungkin diikuti dengan kekalahan demi kekalahan di masa-masa selanjutnya.


P : Iya, iya, benar, Kak… Saya jadi ingat, sekarang ini banyak orang Kristen menganggap wajar bahwa kualitas kehidupan kita, khususnya kehidupan rohani, menurun setelah melewati masa-masa “kasih mula-mula”. Jatuh cinta pada Tuhan, lalu mengalami perubahan karakter yang luar biasa, melayani Tuhan dengan luar biasa, dan setia membangun hubungan yang luar biasa intim dengan Tuhan; tetapi lalu semuanya menurun seiring dengan waktu. Seolah-olah, memang seperti itulah yang wajar. Tetapi sebenarnya, endurance harus menjaga kualitas itu minimal tetap sama, bahkan meningkat, sejak dari masa “kasih mula-mula” sampai akhir hidup kita nanti, ya.

NS : Ya, sebenarnya “kasih mula-mula” itu adalah titik nol. Itulah titik start di mana segala kualitas kehidupan seharusnya akan makin meningkat, bukan menurun. Lagipula, bukankah memang Tuhan ingin membawa kita kepada kesempurnaan? Itulah garis finish-nya, di mana kita menjadi pemenang.

 

P : Kesimpulannya, berarti kita tidak boleh “tertipu” dengan fenomena umum tadi ya, Kak, di mana seolah-olah wajar saja jika grafik hidup kita terus menurun setelah lewat dari masa “kasih mula-mula”. Justru kita harus terus melatih endurance hidup kita masing-masing, setia mempertahankan dan bahkan terus meningkatkan kualitas hidup kita di segala sisi.

NS : Benar sekali… Dan itu mungkin untuk dilakukan, karena Tuhan yang sempurna itu ada di dalam diri kita, dan Ia sudah menyediakan orang-orang yang tepat di sekeliling kita untuk melatih kita di setiap sisi kehidupan itu.

 

P : Ok, Kak, saya senang sekali dengan pencerahan yang muncul dari obrolan ini. Terima kasih untuk waktu dan inspirasinya ya, Kak! Sukses selalu! 🙂

NS : Sama-sama… Senang rasanya bisa berbagi… Sukses selalu untuk kamu juga, ya…

*Keterangan: Narasumber adalah Sdri. Lina Lasup, seorang atlet renang sejak tahun 1978, dan saat ini masih aktif sebagai atlet renang master serta pelatih renang untuk anak, terutama anak-anak berkebutuhan khusus.

2019-10-17T17:38:03+07:00