///Fine Dining vs Warung Tegal

Fine Dining vs Warung Tegal

Berbeda halnya ketika makan di warung  pinggir jalan atau yang biasa dikenal dengan istilah “warteg” (“warung Tegal”). Di warteg, kita bisa makan bebas tanpa aturan dan urutan. Kita bebas mengambil makanan yang kita suka, bebas menggunakan alat makan yang ada, dan bahkan bebas menentukan posisi dan cara duduk ketika makan. Meskipun tidak ada aturan tertulis yang mengatur cara makan fine dining dan cara makan di warteg, tapi pada umumnya setiap orang akan mengikuti gaya makan yang ada di masing-masing tempat. Ketika saya hadir di acara fine dining, saya akan makan dengan gaya yang teratur, karena suasananya membuat saya harus teratur. Tapi suatu saat, ketika makan di warteg, saya otomatis menjadi tidak teratur karena suasananya membebaskan saya untuk tidak teratur. Ini terjadi karena ada “hadirat” (suasana, atmosfer) fine dining ketika kita makan malam di hotel bintang lima. Dan ada “hadirat” warteg ketika kita makan di warteg.

Hadirat Allah pun seharusnya bisa dirasakan. Ketika seseorang berada dalam hadirat Allah, ia akan bisa merasakan kasih dan damai sejahtera, karena Allah adalah sumber kasih dan damai. Hadirat Allah bukanlah hanya sebuah kata kiasan atau suasana yang hanya bisa dirasakan di gereja, tetapi justru di manapun dan kapanpun, karena Allah memang Mahahadir. Sederhananya, hadirat Allah seharusnya bisa dirasakan ketika orang berada dalam lingkungan anak-anak Allah, karena pada dasarnya hidup anak-anak Allah adalah representasi pribadi, kasih dan damai sejahtera Allah sendiri.

Kehidupan orang percaya seharusnya merepresentasikan hadirat Allah. Di mana kita sebagai orang percaya berada, di situlah lingkungan sekitarnya akan berubah menjadi merasakan kasih dan damai sejahtera Allah. Di mana kita berada, seharusnya kita menjadi terang bagi lingkungan kita, sehingga kebaikan-kebaikan Allah akan dirasakan banyak orang, dan semua orang akan memuliakan Bapa di surga. Seperti fine dining, di mana ada anak Tuhan, di situ ada keteraturan dan kebaikan, bukan sebaliknya. Sayangnya, masih ada anak-anak Tuhan yang hidup serupa dengan dunia, melakukan kecurangan dan dosa yang seringkali dianggap biasa oleh orang dunia. Sehingga hidupnya hanya menghadirkan “hadirat warteg”, yaitu ketidakteraturan dan kekacauan. Akibatnya, bukannya mendatangkan hadirat Allah, tapi malah anak Tuhan ini menjadi batu sandungan bagi orang dunia untuk dapat mengenal kasih Allah.

Tuhan sesungguhnya memanggil dan mengutus kita ke tengah-tengah dunia untuk bisa menjadi saksi dan menghadirkan hadirat Allah ke tengah-tengah lingkungan kita. Di sekolah/kampus, di pasar, di tempat usaha, di kantor, dan dimana pun, hadirat Allah harus benar-benar dirasakan oleh setiap orang yang berada di dekat kita, sehingga mereka dapat berkata, “Aku merasakan damai sejahtera dan kasih Allah ketika berada di dekatmu.”

Hadirat apa yang kita bawa hari ini dalam lingkungan kita, apakah “hadirat fine dining” atau “hadirat warteg”? Tuhan mau kita melakukan banyak kebaikan, bukan untuk diri kita, tapi untuk kemuliaan Bapa di surga. Tuhan memberkati.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat. 5:16)

2019-10-17T14:29:17+07:00