/, Youth Corner/FirmanMu pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku

FirmanMu pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku

41 kilometer adalah perjalanan yang harus ditempuh oleh seorang Mary Jones, yang kala itu berusia 15 tahun, menuju Kota Bala di daerah Wales, Inggris. Matahari mulai terbenam, langkahnya mulai berat, dan dengan sisa-sisa tenaga Mary akhirnya sampai juga di kota itu untuk membeli sebuah Alkitab yang telah diidam-idamkannya selama 6 tahun ini.

Mary Jones berasal dari desa Llanfihangel-y-Pennant di sebelah utara Wales, Inggris.  Ayahnya adalah seorang penenun kain. Walau sang ayah tidak dapat membaca, namun ia adalah seorang pembawa cerita yang pandai. Di gereja, ia biasa mendengarkan baik-baik saat Firman Tuhan dibacakan dalam bahasanya sendiri, yaitu bahasa Wales. Lalu, di rumah ia menceritakannya kembali kepada putrinya, si kecil Mary.

Ketika Mary berusia sepuluh tahun, setelah masuk sekolah dan belajar membaca, ia sering diajak membaca Alkitab di rumah tetangganya yang cukup kaya. Kala itu, Alkitab merupakan barang langka yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya saja. Semakin banyak Mary membaca, semakin besar pula kerinduan hatinya untuk mempunyai sebuah Alkitab sendiri. Setiap kali ia membaca Alkitab, ia mencatat ayat-ayat yang penting. Bahkan, terkadang ia menyalin satu perikop untuk dibacakan kepada orangtuanya dan mereka bersama-sama mempelajarinya. Sungguh sebuah kehausan yang begitu dalam akan firman Tuhan!

Mary Jones menyadari bahwa ia tidak akan dapat mewujudkan keinginannya untuk memiliki sebuah Alkitab jika ia tidak bekerja keras, apalagi jika tidak meminta bantuan Tuhan. Karena itu, ia sering berdoa, memohon bantuan Tuhan, dan terus berusaha mencari pekerjaan. Dan… Tuhan pun menjawab doa Mary Jones. Ia mendapat pekerjaan menjaga anak-anak tetangga, menambal pakaian-pakaian dan mulai diberi kepercayaan untuk memelihara ayam-ayam milik tetangganya yang kaya itu. Sedikit demi sedikit, tabungannya bertambah. Namun, ia harus menunggu selama enam tahun hingga uang simpanannya itu akhirnya cukup untuk membeli sebuah Alkitab.

Mary Jones hanya memiliki sepasang sepatu saja, ia memutuskan untuk berjalan dengan kaki telanjang sambil menjinjing sepatunya itu agar tidak cepat rusak. Di pinggir desa Bala, baru ia mengenakan lagi sepatunya; tentu saja ia harus berpakaian rapi dan sopan pada saat bertemu Pendeta Charles untuk membeli sebuah Alkitab.

Pertemuan dengan Mary memberikan kesan yang sangat mendalam di hati Pendeta Charles. Semula, ia memberi tahu Mary bahwa Alkitab berbahasa Wales itu hanya tersisa tiga buah saja dan ketiga-tiganya sudah dijanjikan kepada orang lain, tanpa tahu kapan akan ada lagi persediaan Alkitab berbahasa Wales. Mendengar kabar itu, Mary Jones langsung terduduk dan menangis. Pak Pendeta merasa prihatin, apalagi setelah si Mary dengan terbata-bata menceritakan perjuangannya; mulai dari memimpikan untuk bisa membaca, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, berdoa tiada henti, dan menempuh perjalanan yang sangat jauh berjalan kaki menuju kota Bala. Akhirnya, Pendeta Charles berusaha membujuk salah seorang calon pembeli untuk menunggu dengan sabar hingga stok berikutnya tiba, dan orang itu setuju. Jadi, Alkitab yang semula dijanjikan kepada orang itu dapat dijual kepada Mary Jones.

Selepas pertemuannya dengan Mary Jones, Pendeta Charles mengadakan perjalanan menuju ibu kota, London. Di sana ia berunding dengan pemimpin-pemimpin gereja dan menceritakan pengalamannya berjumpa dengan Mary Jones. Terdorong oleh peristiwa itu, pada tahun 1804 didirikanlah Lembaga Alkitab Inggris dan Negara-negara Tetangga di Wilayahnya (The Bible Society of Britain and Foreign Parts, sekarang the British and Foreign Bible Society). Itulah lembaga Alkitab yang pertama-tama didirikan di dunia. Selanjutnya, di mana-mana menyusul didirikan lembaga-lembaga Alkitab yang lain, termasuk Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Tekad, kerinduan, dan kehausan seorang gadis kecil terhadap firman Tuhan telah membuka pintu hingga Alkitab lebih banyak lagi diterbitkan dan tersebar di berbagai belahan bumi. Betapa bersyukurnya kita jika masih dapat memegang, memiliki, dan membaca Alkitab kita sendiri setiap hari!

Mary Jones telah membuktikan bahwa setiap firman yang ia baca bukanlah sekadar kumpulan kata-kata, melainkan perkataan Tuhan yang bertumbuh menjadi iman di dalam hatinya. Perjuangan para rasul juga merupakan bukti bahwa Tuhan berkuasa dan berdaulat atas setiap firmanNya. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada alasan untuk kita ragu terhadap firman Tuhan. Seperti pemazmur berkata, “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mzm. 119:105), demikianlah firman Tuhan akan menjadi penuntun yang memampukan kita melangkah melewati setiap tantangan yang hadir dalam kehidupan kita. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda membaca Alkitab setiap hari? Seberapa besar kerinduan dan kehausan kita untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan, sebesar itulah kasih karunia Allah memampukan kita untuk melakukan setiap firman yang kita baca dan kita renungkan, karena otoritas firman itu berkuasa mengubah hidup kita. Baca dan cintailah firman Tuhan, lebih daripada apa pun!

(disadur dari buku “Tekad Gadis Kecil”, kisah nyata Mary Jones terbitan YKBK, dan artikel “Alkitab bagi Raja dan Rakyat”, terbitan sabda.org)

2019-10-17T15:46:30+07:00