/, Youth Corner/“FIRTU” EMANG KEREN BANGET…!!!

“FIRTU” EMANG KEREN BANGET…!!!

Namaku Kania, umurku menjelang 14 tahun… kata orang-orang sih aku ini “generasi Z”… Wow, itu lebih muda dari generasi milenial, lho… ?? Aku ini anak tunggal di rumah, jadi keluargaku boleh dibilang keluarga kecil gitu, deh. Di rumahku sehari-harinya Cuma ada aku, Ayah, dan Ibu. Well, ada Mbak juga sih, yang bantu cuci gosok pakaian di rumah, tapi dia Cuma datang dua jam-an setiap hari. Orang bilang anak tunggal biasanya kesepian, dan iya sih kadang aku sendirian di rumah. Tapi aku nggak sampe kesepian gimana gitu. Aku hepi kok jadi anak Ayah dan Ibu! Dari kecil, aku sering diajak Ayah aktivitas bareng gitu, dan Ibu sering ajak aku ngobrol tentang apa aja. Rasanya aktivitas kubareng Ayah sekarang lebih banyak nonton bareng, tapi dulu Ayah suka ajak aku bikin eksperimen macam-macam dari bahan-bahan yang ada di rumah. Ayahku kreatif! Asiknya, Ayah ngerti anak seumurku seneng nonton, apalagi kalau film-filmnya dari Marvel, aku suka! Eh, tapi ada juga sih yang aku suka tapi Ayah kayaknya kurang berminat: K-Pop. Hehehe… Aku emang penggemar beberapa grup K-Pop. BTS tuh yang aku paling suka. Kalau soal K-Pop, Ibu lebih “nyambung” ngobrol sama aku. My mom is cool…! Ibu tuh sampe pelajari semua tentang K-Pop, terutama grup yang aku suka, demi bias nyambung ngobrol sama aku. Yang kayak gini tuh bikin aku berasa dimengerti banget sama ortuku. Bersyukur bangetlah, aku punya ayah dan ibu yang ngerti anaknya sesuai zamannya, walau kadang mereka juga suka ngomong dengan kalimat semacam “Dulu, waktu Ayah seumur kamu….” atau “Dulu, waktu Ibu seumur kamu…” Kadang aku pengen protes kalau mereka mulai ngomong begitu, tapi lama-lama kayaknya mereka makin jarang ngomong kayak gitu. Mungkin mereka udah lebih ngerti anaknya gak terlalu suka dibanding-bandingin. Iyalah, biar gimana kan zamannya emang beda…

Nah, sebenernya yang aku mau ceritain tuh… aku ini ternyata bukan Cuma anak zaman now yang kekinian, tapi anak yang bener-bener diajarin untuk hidup ngikutin firtu. Firman Tuhan. Ayah sama Ibu selalu tanemin apa yang Firtu bilang supaya jadi nilai-nilai kehidupan yang penting sejak aku kecil. Aku inget banget, bed time story telling-ku setiap sebelum tidur pasti dibacain cerita-cerita dari Alkitab gitu sama Ayah atau Ibu. Kalau sama Ayah, ceritanya bias lebih seru soalnya pake gaya-gaya gitu. Ayahku memang ekspresif banget, dan setahuku dulu Ayah suka main drama…?? Dari cerita-cerita setiap malam ini, aku jadi punya cerita kesukaan tentang Ratu Ester, Rut, dan Rodhe…
Tapiiii…sejujurnya nih, waktu aku tambah besar dan aku jadi remaja gini, aku tuh lumayan ngerasa sulit juga pas bergaul sama temen-temenku yang belum kenal Tuhan. Seperti umumnya remaja seusiaku, aku ini IG-er dan Liner, dan aku beneran aktif di dua medsos ini. Akun IG-ku ini sebenarnya punya ibuku, tapi Ibu lebih banyak aktif di WA sama Facebook. Beda generasisih, ya… Anyway, ini artinya semua aktivitasku di medsos, terutama IG, bias ketahuan sama Ayah dan Ibu.

Suatu kali, entah kenapa DM-ku di IG kebaca sama Ayah. Daaan… DM itu adalah pas aku lagi ikutan ngomong yang heboh-heboh gak pantes gitu sama temen-temenku. Aku nggak sadar tapi tiba-tiba udah ikutan aja… Rasanya asik juga ternyata bias ikutan ngelakuin yang dilakuin kayak temen-temen, walaupun aku tahu itu nggak bener. Bener aja, aku udah nyangka, malamnya Ibu tanya sama aku soal DM-ku itu. Ini sih kayaknya Ayah sudah cerita sama Ibu tapi urusan ini bakal Ibu yang “beresin”. Aku tunggu Ibu bakalan ngomong apa, sambil pikiranku sibuk dengan adegan Ibu bakal tanya-tanya yang ribet dan ujung-ujungnya nasihat, “Kania, kamu mestinya tahu, mestinya gini, mestinya gitu…” Hmmm… ribet sih, tapi emang itu juga ada salahnya aku. Ngapain juga aku ngomong yang kacau gitu di DM, coba? Ya udahlah, aku tungguin aja Ibu bakal ngomong apa, sambil berusaha tenang-tenangin hatiku.
Kali ini Ibu nggak langsung tanyain aku, tapi 2-3 hari setelah kejadian DM-ku itu pas aku pulang sekolah dan ditemani Ibu makan siang, baru Ibu tanya. Aku ngerasa Ibu rada berhati-hati waktu nanya hal ini. Mungkin Ibu coba ngertiin aku, atau mungkin juga Ibu ngomong sambil berdoa biar aku gak salah ngerti… Ibu ngomong ke aku, “Kania… Ayah ada cerita sama Ibu soal DM kamu di IG. Ibu boleh tahu apa yang ada di hati dan pikiranmu waktu kamu lakukan itu?” Wah, aku sempat mikir juga gimana jawabnya, soalnya pertanyaan Ibu gitu doang tapi dalem. Setelah berpikir sekian detik, aku jawab, “Mmm…iya sih bu, aku tahu itung gak bener. Yah, aku Cuma ngikut temen-temen aja. Rasanya sih nggak enak juga.” Trus yang bikin aku sedikit bingung, Ibu cuma senyum-senyum sambil ngomong, “Nah, kenapa kamu berpikir bahwa itu nggak bener?” Aku mikir waktu itu, emang sebenernya jawabanku itu lucu juga, soalnya aku udah tahu itu nggak bener tapi kok tetep dilakuin. Spontan aku jawab, “Ya nggak bener aja, Bu…” Ibu Tanya lagi ke aku, “Kamu tahu arti kata yang kamu sebut itu? B*ngs*t?” Aku geleng-geleng kepala sambil mikir, “Kok aku nggak pernah kepikir ya artinya, padahal kata itu ‘kan punya arti…” Ibu ambil HP-nya trus ajak aku untuk pegang HP-ku juga, “Yuk, kita sama-sama googling kata itu apa artinya.” Kita langsung googling dan langsung keluar deh tampilan di layar HP-ku:
1kepinding; kutubusuk; 2cak orang yang bertabiat jahat (terutama yang suka mencuri, mencopet, dan sebagainya): dasar anak– ,menjadi – juga

Aku masih belum paham apa maksud Ibu. Nggak lama kemudian Ibu tanya lagi, “Sudah baca arti kata itu apa? Nah, dari penjelasan di Google itu, apakah arti yang pertama itu merujuk kemanusia?” Aku jawab dengan gelengan kepala yang nyaris nggak kelihatan saking pelannya… Aku mulai paham yang Ibu maksud. “Nah, arti yang kedua baru merujuk ketabiat buruk seseorang. Tapi,arti yang pertama itu merujuk kepada binatang. Kania,yang kamu sebut dengan kata itu manusia atau bukan?” Jawabanku nyaris nggak kedengaran,“Manusia, Bu…” “Kamu tahu apa yang Firtu tulis tentang manusia? Masih ingat apa yang kamu pernah baca waktu Tuhan Allah ciptakan manusia?” Ibu tanya bagian ini pake nada lembut,tapi nada suaranya tegas. Aku mulai jawab lagi, “Tuhan ciptakan manusia segambar dan serupa dengan Allah.” Trus Ibu menanggapi jawabanku, “Kalau kamu menyebut manusia ciptaan Tuhan, yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah,dengan sebutan binatang, lalu artinya siapa yang kamu rendahkan?” Aku langsung angkat kepalaku trus melihat kemata Ibu. Tatapan tajam Ibu serasa nancep di hatiku. Tanpa sadar, aku menjawab cepat dalam hatiku, “Aku merendahkan manusia ciptaan Tuhan dan Penciptanya.”
Ibu menarik napas panjang dan mulai pegang tanganku, sambil tangan Ibu yang satunya pegang pundakku. “Kania, Ibu mengerti kamu sedang dalam proses memahami kehidupan dan apa yang terjadi sehari-hari di sekitarmu. Ibu tidak akan memaksa kamu terima apa yang Ibu ngomong, cobalah ambil waktu tenang dan pribadi, berdua sama Tuhan. Renungkan apa yang barusan kita belajar sama-sama. Nanti kita diskusi lagi, yah…” Trus ternyata Ibu nggak tanya apa-apa lagi dan santai aja lanjutin cuci piring trus beresin meja makan. Abis makan siang itu kami naik kekamar masing-masing tanpa ngobrol apa-apa lagi. Ternyata Ibu bener-bener kasih aku waktu sendirian buat mikir, dan kayaknya bener juga kata Ibu, aku perlu berdoa: ngobrol sama Tuhan tentang hal ini.

Malamnya sebelum tidur, seperti biasa kami bertiga baca Alkitab dan doa bareng. Nah, waktu kumpul itu pun Ibu gak bahas apa-apa soal obrolan tadi siang. Tapi sebelum aku masuk kamar, malah aku minta waktu bicara berdua sama Ibu. “Bu, tengkyu ya buat obrolan tadi waktu makan siang. Kania sekarang paham untuk nggak sembarangan ikut-ikutan temen ngomong apa yang Kania sebenernya nggak ngerti. Tengkyu buat kesabaran Ibu bantuin Kania sampe paham. Maafin Kania ya, Bu…” Ibu senyum dan buka lebar-lebar tangannya untuk peluk aku dengan hangat sambil usap-usap kepalaku. Jujur, walau pun tinggi badanku sekarang sudah lebih dari Ibu, aku tetep sukaaaa sama momen seperti ini. Aku berasa anak Ibu yang disayang, diterima, dingertiin, tapi tetep diajarin dan dididik dengan Firtu.
Firtu emang keren banget!!!

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat  Untuk mengajar,untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” – 2 Timotius 3:16

Pertanyaan refleksi:
1. Apakah Anda membaca Alkitab secara teratur setiap hari?
2. Apakah Anda punya waktu pribadi merenungkan Firman Tuhan dan mengaplikasikannya dalam keseharian Anda?
3. Berapa sering Anda menyadari ketika apa yang sedang Anda lakukan sehari-hari sebenarnya bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan?
4. Buatlah komitmen pribadi untuk melatih disiplin membaca, merenungkan, dan mengaitkan Firman yang Anda baca kedalam kehidupan Anda sehari-hari!

2019-09-27T11:46:34+07:00