///Fokus pada yang Asli

Fokus pada yang Asli

Ketika kita melakukan transaksi tunai di bank, petugas bank pasti memastikan bahwa uang yang diterima dan diproses untuk transaksi itu adalah uang asli. Setiap lembar uang yang masuk ke bank selalu diverifikasi keasliannya dengan sangat teliti agar setiap lembar uang yang keluar dari bank pun adalah asli. Tentu, ada beberapa kejadian uang palsu lolos dari proses pemeriksaan, tetapi pada umumnya semua bank menerapkan prosedur kewaspadaan yang sangat tinggi demi memastikan keaslian seluruh uang yang keluar dan masuk melalui setiap transaksi tunai. Karena itu, setiap petugas bank yang diposisikan untuk menangani transaksi tunai pasti menguasai keterampilan khusus untuk mengidentifikasi uang asli. Dengan pengenalan akan ciri-ciri uang asli ini, mereka mampu mengenali pula uang yang tidak asli, yaitu uang palsu, sehingga bisa menolak dan menahan uang palsu dari peredaran lebih lanjut.

 

Para petugas transaksi tunai di bank dibekali pengetahuan tentang ciri-ciri uang asli. Semua ciri umum dan ciri khusus uang asli diberikan untuk dipelajari. Kemudian, mereka dilatih untuk terampil memastikan keaslian lembaran-lembaran uang; jika ciri-ciri yang asli tidak ditemukan pada selembar uang tertentu, bisa dipastikan itu adalah uang palsu. Makin sering mereka melatih diri dalam mengenali uang asli, makin peka pula mereka dalam mengidentifikasi mana uang asli dan mana uang palsu. Karena banyaknya kondisi dan ciri-ciri uang palsu yang beredar, yang terpenting bagi mereka bukanlah menghafal ciri-ciri uang palsu, melainkan mengenal sebaik-baiknya ciri-ciri uang asli. Untuk dapat mengenali uang palsu, mereka hanya perlu berfokus pada identifikasi ciri-ciri uang asli. Fokus proses identifikasi ini terletak pada ciri-ciri yang asli, bukan yang palsu.

 

Dulu, saya sendiri sering bertanya-tanya bagaimana caranya membedakan keinginan daging dari kehendak Roh Tuhan, seolah-olah batas antara keduanya samar atau keduanya serupa. Padahal, serupa dengan prinsip berfokus pada yang asli untuk mengidentifikasi yang palsu, kita hidup sebagai anak Tuhan dengan memastikan diri kita dipimpin oleh Roh, bukan menuruti keinginan daging. Firman Tuhan menegaskan bahwa hidup anak Tuhan adalah hidup dengan dipimpin Roh Tuhan. Identitas asli kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus, dengan Roh Tuhan tinggal di dalam diri kita. Apa pun yang tidak sesuai dengan identitas asli ini bisa saja terlihat baik-baik saja atau nyaman, tetapi sebenarnya palsu. Hidup berdasarkan identitas asli ini berarti hidup dalam kasih karunia yang memerdekakan, bukan dalam perhambaan atau perbudakan. Kita mengalami dan menerima kasih karunia untuk melakukan kehendak Roh Tuhan, bukan merasa terpaksa atau terbebani dengan berbagai aturan agama atau ekspektasi dunia.

 

Bagaimana menerapkan fokus pada yang asli ini dalam kehidupan kekristenan kita sehari-hari? Hidup saja dengan berfokus pada pikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatan yang dipimpin Roh Tuhan. Jangan terlalu memusingkan yang sebaliknya, yaitu berusaha menahan keinginan daging atau menghindari perbuatan dosa. Ingat, Roh Tuhan tinggal di dalam kita, dan Dia hidup serta senantiasa menyediakan kasih karunia untuk kita hidup sesuai identitas asli kita. Ketika kita berfokus pada hidup yang dipimpin Roh Tuhan, seiring dengan waktu dan mungkin tanpa kita sadari, kita akan makin mudah mengenali hal-hal yang bukan identitas asli kita, yaitu hal-hal yang bukan kehendak Roh Tuhan. Itulah kasih karunia Tuhan yang menuntun kita sebagai anak-Nya.

 

Mari berfokus pada yang asli saja. Kenali kehendak Roh Tuhan melalui perenungan Firman setiap hari dan setiap saat sampai menjadi rhema dan membuahkan iman, dan teruslah lakukan sesuai perenungan dan iman itu di dalam kebersamaan dengan komunitas sesama anak Tuhan. Di dalam komunitas, kita saling menolong dan menguatkan dalam mengenali dan mengikuti kehendak Roh Tuhan, sehingga bersama-sama kita tumbuh makin serupa dengan Kristus, sesuai pola dan identitas asli kita. Sebaliknya, hidup di luar komunitas yang seidentitas akan membawa kita terpapar hal-hal yang palsu, yaitu berbagai keinginan daging yang mendatangkan kehancuran, meskipun kita berusaha keras untuk melakukan yang benar.

 

Sambil kita kembali ke fokus pada kehidupan sesuai dengan identitas kita yang asli, saya berdoa agar Anda dan saya masing-masing makin peka membedakan yang mana kehendak Roh Tuhan dan yang mana keinginan daging. Biarlah kita semua dibawa oleh kasih karunia-Nya hingga secara otomatis hidup makin mengarah pada kehendak-Nya dan keserupaan dengan Dia.

 

“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Roma 8:5-6

2022-04-27T13:36:09+07:00