//For Better or Worse (在欢乐和悲伤中)

For Better or Worse (在欢乐和悲伤中)

“I choose you to be mine, and I submit myself to be yours, from this day forward, in joy and in sorrow, in sickness and in health, for richer or poorer, for better or worse, until death do us part.”

“我选择你成为我的,我也臣服于你,从今天开始,无论顺境还是逆境,无论疾病还是健康,无论富有还是贫穷,无论快乐还是悲伤,直到死亡将我们分开。”

“Aku memilihmu untuk menjadi milikku, dan aku berserah diri untuk menjadi milikmu, mulai hari ini dan seterusnya, saat susah maupun senang, saat sakit maupun sehat, dalam keadaan miskin maupun kaya, dalam suka atau duka, sampai maut memisahkan kita.”

 

Sounds familiar? You’re right; it’s the wedding vow we usually hear at matrimony ceremonies. The happy couple exchange their sacred promise to each other before their closest ones and ultimately, before God. A beautiful moment to witness, and even more so when it’s our own wedding.

“我选择你成为我的,我也臣服于你,从今天开始,无论顺境还是逆境,无论疾病还是健康,无论富有还是贫穷,无论快乐还是悲伤,直到死亡将我们分开。”

Anda tahu kata-kata di atas? Benar; itulah ikrar atau janji pernikahan yang biasa kita dengar pada upacara perkawinan. Pasangan yang berbahagia saling bertukar janji suci di hadapan orang-orang terdekat dan terutama di hadapan Tuhan. Momen yang indah untuk disaksikan, terutama jika itu adalah pernikahan kita sendiri.

 

However, how often do we get back to that sacred vow in the marriage life after?

问题是,仪式结束后,我们多久会回到婚姻生活中的这些神圣的誓言?

Pertanyaannya, seberapa sering kita kembali pada ikrar suci tersebut dalam kehidupan pernikahan setelah upacara itu?

 

The Bible in Paul’s letter to the Ephesians mentions how God’s people, the Church, is the bride of Christ; that we are to Him as a wife to her husband. We are to honor Him, respect Him, be faithful to Him, and submit to Him, for as long as we live, since we first accepted His love that made Him give His life for us, His love. One moment in our life some time ago, we might have had the most wonderful experience of getting to know God’s love, and we promised to love Him and follow Him for the rest of our life. Much like the vow in the wedding. But then again, how often do we get back to that sincere promise in our life with Him after?

在保罗写给以弗所教会的信中,圣经提到神的子民,即教会,是基督的新妇;我们对于他,就像妻子之于她的丈夫一样。我们必须珍惜祂,尊重祂,忠于祂,顺服祂,只要我们还活着,因为我们首先接受了他的爱,使他为我们,他所爱的人献出生命。不久前,我们当然经历过最美好的经历。在我们生命中的某个时刻,我们第一次认识神的爱,然后我们承诺爱他并一生跟随他时,类似于婚姻中的誓言或神圣承诺。但是,话又说回来,事后我们有多少次会会回到与他在一起的生活中那些衷心的承诺呢?

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus, Alkitab menyebut bagaimana umat Allah, Gereja, adalah mempelai Kristus; bahwa kita kepada-Nya bagaikan seorang istri kepada suaminya. Kita harus menghargai Dia, menghormati Dia, setia kepada Dia, dan tunduk kepada Dia, selama kita hidup, sejak kita pertama kali menerima kasih-Nya yang membuat Dia memberikan nyawa-Nya untuk kita, kesayangan-Nya. Suatu saat dalam hidup kita beberapa waktu yang lalu, kita tentu mengalami pengalaman yang terindah ketika pertama kali mengenal kasih Tuhan, lalu kita berjanji untuk mengasihi Dia dan mengikut Dia seumur hidup kita. Mirip seperti ikrar atau janji suci dalam pernikahan. Namun, sekali lagi, seberapa sering kita kembali ke janji tulus itu dalam hidup kita bersama-Nya setelahnya?

 

Wedding is beautiful, but marriage is hard work. Many people feel satisfied that they are now “Christians” and churchgoers, maybe even volunteers in church activities, like they’re all enough. On the other hand, they forget their promise at the “wedding moment” when they first came to love God. They live as they see fit, doing what they like, deciding what they feel right, without submitting to Him. Wouldn’t it be ironic to see a married woman go her own way to please her own desires without discussing everything with her husband? Well, that’s many of us, sadly.

婚礼仪式很美好,但婚姻生活却很辛苦。许多人对自己现在成为 “基督徒” 并定期去教堂感到满意,甚至可能参与许多教会活动中的服事,好像这就足够了。事实上,他们 “忘记” 了在 “结婚的那一刻”,当他们第一次爱神时的承诺。他们按照自己的意愿生活,做自己喜欢做的事,决定自己认为正确的事情,而不屈服于上帝。已婚女人喜欢选择自己的意愿,满足自己的欲望,而不先与丈夫商量一切,这不是很讽刺吗?不幸的是,我们很多人都是这样。

Upacara perkawinan itu indah, tetapi kehidupan pernikahan itu kerja keras. Banyak orang merasa puas bahwa mereka sekarang telah menjadi “Kristen” dan rutin datang ke gereja, bahkan mungkin menjadi pelayan dalam banyak kegiatan gereja, seolah-olah itu semua cukup. Padahal, mereka “lupa” akan janji mereka pada “momen pernikahan” ketika mereka pertama kali mengasihi Tuhan. Mereka hidup sesuai keinginan mereka, melakukan apa yang mereka suka, memutuskan apa yang mereka rasa benar, tanpa tunduk kepada-Nya. Bukankah ironis jika seorang wanita yang sudah menikah suka memilih kemauannya sendiri dan memuaskan keinginannya sendiri tanpa membicarakan segala hal dengan suaminya? Sayangnya, banyak dari kita yang seperti itu.

 

In Mark 10:1-9, we can find what Jesus Christ actually says about marriage and divorce. It was when He was living on earth with us humans, as a Jewish man. The Pharisees, those who understand the law “perfectly” and feel they deserve respect because of it, were trying to test Jesus by asking if divorce was against God’s law. Jesus, being God himself, asked them in turn what Moses had taught them about it. Funnily, they actually knew what Moses had said about divorce: that it was alright as long as a certificate of divorce was involved.

在马可福音 10:1-9 中,我们看到耶稣基督关于婚姻和离婚的实际说法。当祂作为一个犹太人与我们人类一起生活在地球上时,这件事就发生了。法利赛人是一群 “完全” 理解宗教律法并认为自己的伟大而值得尊重的群体,他们通过询问离婚是否违反了上帝的律法来考验耶稣。耶稣本身就是神,祂反问他们摩西对此有何教导。可笑的是,他们居然知道摩西所说的离婚的话:只要有离婚证就可以。

Dalam Markus 10:1-9, kita melihat apa yang sebenarnya Yesus Kristus katakan tentang pernikahan dan perceraian. Kejadiannya saat Dia hidup di bumi bersama kita manusia, sebagai seorang pria Yahudi. Orang-orang Farisi, yaitu golongan yang memahami hukum agama dengan “sempurna” dan merasa pantas dihormati karena kehebatan itu, mencobai Yesus dengan menanyakan apakah perceraian melanggar hukum Allah. Yesus, yang adalah Tuhan sendiri, bertanya balik kepada mereka apa yang telah diajarkan Musa kepada mereka tentang hal itu. Konyolnya, mereka sebenarnya tahu apa yang Musa katakan tentang perceraian: tidak apa-apa asalkan ada surat cerai.

 

Now, what Jesus said was interesting as well as important. “It was because your hearts were hard that Moses wrote you this law,” Jesus replied, “But at the beginning of creation God made them male and female. For this reason a man will leave his father and mother and be united to his wife, and the two will become one flesh. So they are no longer two, but one flesh. Therefore what God has joined together, let no one separate.” Basically, Jesus Christ, the Heavenly Husband of the Church, says that God has created marriage as a union for life between a man and a woman, giving no chance for any sort of separation, and thus leaving the marriage or divorcing one’s spouse is only a tragic result of the hardened heart of human.

嗯,耶稣所说的话实际上很有趣而且很重要。耶稣回答说:“正是因为你们的心刚硬,摩西才给你们写了这条诫命,而在世界之初,上帝造了男人和女人,因此人将离开父母,并结合在一起。”给他的妻子,使两人成为一体。因此,他们不再是两个,而是一个。所以,神所配合的,人不可分开。”从本质上讲,教会的天上丈夫耶稣基督说,上帝创造的婚姻是男人和女人之间的终身结合,没有任何形式可分离的机会,因此离开婚姻或离婚已婚夫妇只是。人心刚硬的悲惨结果。

Nah, apa yang Yesus katakan justru menarik dan juga penting. “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu,” jawab Yesus, “Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Intinya, Yesus Kristus, Suami Surgawi Gereja, bersabda bahwa Allah telah menciptakan pernikahan sebagai penyatuan seumur hidup antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, tanpa ada kesempatan untuk terjadinya perpisahan dalam bentuk apa pun, sehingga meninggalkan pernikahan atau menceraikan pasangan nikah hanyalah akibat tragis dari hati manusia yang keras.

 

Let us now get back to our life as a Christian and our promise to love and to follow Christ after we accepted His undeniable expression of love: His death on the cross. Have we still honored the promise ever since, like a sacred wedding vow, and nurture our love relationship with Him by submitting our whole life to Him in every thing? Or, have we deviated from the “marriage” path by choosing our own ways and our own wants in this life regardless of what He wills for us? Do we even realize that our life here in this world would one day end and we are meant to live in eternity with Him?

让我们回到基督徒的生活以及我们爱和跟随基督的承诺。在我们接受了基督无可否认的爱的表达:是祂在十字架上的死,从那时起,我们是否仍然遵守那些诺言,例如神圣的婚姻誓言,并通过将我们的整个生命在一切事情上交托给祂来维持我们与祂的爱情关系?或者,我们是否已经偏离了“婚姻”生活,选择了自己的道路和今生的愿望,而不顾及到祂对我们的旨意?我们是否意识到我们在世上的生命有一天会结束,而我们注定要与他永远生活在一起?

Mari kita kembali ke kehidupan kita sebagai seorang Kristen dan janji kita untuk mencintai dan mengikut Kristus setelah kita menerima ekspresi cinta-Nya yang tak terbantahkan: kematian-Nya di kayu salib. Apakah kita masih menepati janji tersebut sejak saat itu, seperti janji suci pernikahan, dan memelihara hubungan cinta kita dengan-Nya dengan menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya dalam segala hal? Atau, apakah kita telah menyimpang keluar dari kehidupan “pernikahan” dengan memilih jalan dan keinginan kita sendiri dalam hidup ini tanpa menghiraukan apa yang Dia kehendaki bagi kita? Sadarkah kita bahwa kehidupan kita di dunia ini suatu hari nanti akan berakhir dan kita dimaksudkan untuk hidup kekal bersama-Nya?

 

God never gave us a mere beautiful wedding. He gives us an eternal union, a love relationship forever. Not only “until death do us part”, but for all eternity He wants to be one with us and love us and for us to love Him back. Choose to be married with Him every day. Make sure that every single thing in our life now brings us to that “happily ever after” in that eternal union with Him.

上帝从来没有打算只给我们一个美丽的婚礼。上帝打算给我们一个永恒的结合,一种永远的爱的关系。不仅仅是 “直到死亡将我们分开”,而是永远祂想与我们合而为一,爱我们,我们也爱祂。选择每天与祂一起生活在婚姻中。确保我们生活中的一切状况现在都引导我们 “永远地幸福”,在祂永远结合中。

Tuhan tidak pernah bermaksud untuk memberi kita sekadar upacara perkawinan yang indah. Tuhan bermaksud memberi kita penyatuan yang kekal, hubungan cinta selamanya. Bukan hanya “sampai maut memisahkan kita”, tetapi untuk selama-lamanya Dia ingin menyatu dengan kita dan mengasihi kita dan kita membalas kasih-Nya. Pilihlah untuk hidup dalam pernikahan dengan-Nya setiap hari. Pastikan bahwa setiap hal dalam hidup kita sekarang membawa kita pada “kebahagiaan selamanya” dalam kesatuan kekal dengan-Nya.

2024-07-26T11:15:25+07:00