//Friends with (Spiritual) Benefits

Friends with (Spiritual) Benefits

Di tengah keseharian dunia yang bergerak cepat saat ini, media sosial sering kali menggantikan interaksi tatap muka, terutama bagi kita yang tergolong berusia muda. Tanpa sadar, kita menjadi terlalu sibuk menciptakan dunia kita sendiri, termasuk lebih suka menghabiskan waktu untuk scrolling media sosial dan mencari kabar ter-updated supaya fit-in dengan standar-standar yang sedang menjadi tren, daripada hangout bersama orang lain. Lama kelamaan, kita merasa baik-baik saja dengan pola kehidupan demikian hingga lupa bahwa kita membutuhkan interaksi dengan sesama.

 

Kehidupan generasi muda saat ini memang dikelilingi oleh berbagai macam tekanan. Salah satunya adalah tekanan untuk menampilkan versi diri berdasarkan standar penerimaan dan pengakuan dunia. Demi diterima dan diakui oleh dunia (lingkungan kita masing-masing), kita rela membuang jati diri asli kita. Di sisi lain, jarang dan sulit pula bagi kita untuk menemukan orang, atau sesuatu, yang autentik dan nyata apa adanya. Pergaulan bersama orang lain pun menjadi ajang saling tampil demi penerimaan dan pengakuan tadi, dan ini termasuk pertemanan atau persahabatan. Pertemanan atau persahabatan yang dunia sodorkan adalah interaksi “selevel” yang penuh dengan bersenang-senang dan kenikmatan hidup, yang biasanya diukur dari banyaknya waktu bersama, melalui media apa pun. Sejauh sebuah kelompok pertemanan sering berinteraksi untuk bersenang-senang bersama, kelompok pertemanan itu dianggap sebagai persahabatan yang positif. Sebaliknya, kalau melibatkan momen-momen yang terasa tidak nyaman, kelompok pertemanan itu dianggap toxic dan perlu dihindari. Kebahagiaan yang dangkal menjadi life goal yang dikejar sebagai yang terutama, tanpa ada fokus peningkatan kualitas diri. Alhasil, pertemanan mengabaikan unsur saling memberi manfaat, karena hanya mencari kesenangan diri (penerimaan, pengertian, pemakluman, pengakuan) dari “teman-teman” dalam kelompok.

 

Apakah itu semua juga menjadi pengalamanmu? Ya atau tidak jawabannya, sebagai murid Kristus hari ini kita perlu beralih ke pertanyaan yang sebenarnya: apa tujuan sesungguhnya dalam persahabatan, menurut Firman Tuhan? Bagaimana kita mencapai tujuan itu melalui persahabatan kita, baik dengan sesama murid Kristus maupun dengan orang-orang lain yang belum mengenal Kristus?

 

Sejak kehidupan-Nya di bumi, Yesus pun hidup dalam persahabatan. Berbeda dengan “persahabatan ideal” versi kaum muda dunia masa kini, persahabatan Yesus justru sarat dengan hal-hal yang menantang dan tidak nyaman: saling belajar, saling menegur, saling mengingatkan, saling menolong untuk berubah, saling melukai, saling mengakui kesalahan, dan saling mengampuni. Demikian pula, komunitas pengikut Kristus awal hidup dalam persahabatan yang semacam itu dalam kelompok jemaat setelah Yesus naik kembali ke surga, seperti yang bisa kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul. Apa yang berbeda di antara persahabatan dunia masa kini dan persahabatan Yesus serta persahabatan jemaat awal itu? Pemuridan.

 

Mungkin istilah pemuridan sudah tidak asing bagi kita, tetapi banyak dari kita masih berkutat dengan konsep inti pemuridan itu sendiri. Kita kaum muda suka mengaitkan pemuridan dengan aturan, larangan, dan tuntutan. Bagi kebanyakan dari kita, pemuridan adalah hubungan formal yang berpotensi menyusahkan hidup kita, sehingga kita lebih suka mencari hubungan informal (“persahabatan versi dunia” tadi) untuk bersenang-senang menikmati hidup. Dalam pemuridan, banyak hal kita sembunyikan karena kita tidak mau mengalami arahan atau teguran. Kita tidak mengakui ketertarikan dan interaksi kita dengan lawan jenis yang kita sukai, kita menyembunyikan kebiasaan buruk kita sehari-hari, dan kita berbohong soal hubungan kita dengan orang tua dan keluarga di rumah. Padahal, pemuridan adalah inti dalam persahabatan yang sehat menurut contoh dari Yesus dan jemaat awal dulu. Persahabatan tidak pernah dicontohkan sebagai bentuk interaksi pertemanan yang menyodorkan kesenangan sesaat saja. Pemuridan itulah tujuan sekaligus manfaat yang seharusnya ada dalam sebuah persahabatan. Sebagai murid-murid Kristus, seharusnya kita semua ini hidup dalam kelompok-kelompok persahabatan yang demikian: we’re supposed to be friends with spiritual benefits.

 

Pemuridan pada dasarnya adalah perjalanan bersama dalam proses perubahan terus-menerus yang mengarah pada tujuan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Bukankah persahabatan yang adalah pemuridan itu justru persahabatan yang paling kita butuhkan? Kita perlu bertumbuh untuk menjadi serupa Kristus, bukan berubah mengikuti standar penerimaan dan pengakuan dunia. Paulus di Kolose 1:28-29 menjelaskan tujuan dalam pemuridan, yaitu mencapai kesempurnaan dalam Kristus melalui interaksi pribadi di antara tiap-tiap orang, “Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segenap tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” Artinya, persahabatan murid-murid Kristus, persahabatan kita, semestinya adalah pemuridan yang melaluinya kita berproses bersama, berubah sampai kelak menjadi serupa Kristus.

 

Pemuridan dalam persahabatan bisa terjadi jika persahabatan itu autentik dan sungguh-sungguh berfokus pada hubungan yang saling mendukung untuk pertumbuhan rohani. Di dalamnya, kita bukan hanya mengobrol santai dan melakukan berbagai interaksi secara permukaan luar. Kita justru perlu mengobrol secara jujur dan mendalam, masuk ke dalam ranah berbagi isi hati, prinsip dan nilai yang diyakini, kelemahan dan kesalahan, rencana dan impian, dan yang terutama, hubungan dengan Tuhan. Bayangkan, persahabatan yang benar ini bisa membawamu tidak hanya berbagi kesenangan, tetapi juga aktif mendorong satu sama lain dalam perjalanan rohani! Melaluinya, kamu dan sahabat-sahabatmu menjadi versi diri masing-masing yang lebih baik terus-menerus!

 

Bentuk persahabatan yang berfokus pada pemuridan ini memang berbeda jauh dengan persahabatan ideal versi dunia. Agar manfaatnya kita terima, kuncinya adalah keterbukaan, dan interaksinya melibatkan akuntabilitas bersama, doa, dan pertukaran wawasan dan pengalaman, yang semuanya mengacu pada standar kebenaran Firman Tuhan. Sangat berbeda dengan persahabatan dunia yang sering kali penuh dengan julid, nyinyir, dan gosip, yang berputar-putar pada hal yang itu-itu saja tanpa menghasilkan peningkatan kualitas diri masing-masing orang. Dengan keterbukaan, hubungan persahabatan pun dapat bertahan melewati berbagai badai kehidupan dan menolong masing-masing orang tepat di titik-titik rentannya untuk bergerak menuju kedewasaan rohani. Memang tidak mudah untuk seseorang terbuka, menunjukkan kerentanan dengan menceritakan perjalanan iman, kesulitan, dan pergumulan pribadi, tetapi melalui keterbukaan itu akan terjadi pemulihan dalam hidup kita. Dalam persahabatan sejati yang berisi pemuridan, kerentanan bukan kelemahan, melainkan kekuatan. Persahabatan yang berfokus pada pemuridan mendorong masing-masing orang untuk terus mencapai keserupaan dengan Kristus.

 

Berikutnya, manfaat pemuridan melalui persahabatan juga hanya akan mengalir jika ada proses waktu dan komitmen di antara para sahabat yang terlibat. Ini berarti kita saling memberi prioritas pada hubungan persahabatan itu dan melakukan yang terbaik untuk saling menolong agar satu sama lain maju dalam perjalanan rohaninya. Meski demikian, aktivitasnya tidak perlu selalu berbentuk formal dan terstruktur. Berdoa bersama, belajar dari Firman Tuhan, atau saling menasihati bisa dilakukan dalam berbagai bentuk aktivitas sesuai keunikan kelompok persahabatan itu. Sambil menikmati kopi di kafe, misalnya, atau sambil berolahraga di lapangan. Bukan kuantitas seringnya atau lamanya aktivitas bersama yang dikejar, melainkan kualitas pemuridan dalam persahabatan itu. Persahabatan yang berfokus pada pemuridan bukan hanya diwarnai dengan kehadiran selama waktu perayaan atau krisis yang besar, tetapi juga partisipasi aktif dalam perjalanan sehari-hari sehingga Tuhan yang menjadi pusat dalam kehidupan kita.

 

Di dunia masa kini yang sering menekankan individualisme dan pencapaian, bahkan interaksi antarmanusia digantikan dengan teknologi canggih, pemuridan melalui persahabatan perlu kita mulai terapkan dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Ini bukan opsi aktivitas Kristen atau tambahan kegiatan gereja; inilah panggilan kita, untuk membangun hubungan yang saling membentuk kita menjadi versi terbaik diri kita, baik secara rohani untuk kekekalan maupun secara pribadi dalam kehidupan saat ini. We’re supposed to be friends with spiritual benefits, after all.

2024-03-27T10:59:30+07:00