///“Friendship Discipleship” – Pemuridan Melalui Persahabatan

“Friendship Discipleship” – Pemuridan Melalui Persahabatan

Pada bulan ini kita akan belajar dari pemuridan yang diterapkan Yesus terhadap murid-murid-Nya, dengan sedikit mengulang pembahasan tentang prinsip pemuridan yang dipraktikkan Yesus sebagai seorang rabi Yahudi. Dari keduanya, kita menemukan bahwa ternyata sistem pemuridan yang digunakan oleh Yesus adalah pemuridan lewat persahabatan (friendship discipleship), yang memang telah dipraktikkan oleh orang-orang Yahudi dari sejak zaman pembuangan di Babel (Babilonia). Praktik yang sama juga masih berjalan pada zaman Yesus, bahkan sampai masa sekarang.

 

Pemuridan Dimulai dari Persahabatan Dua-Tiga Orang

 “Dari sejak zaman pembuangan Babilonia, menurut Talmud Babilonia (Berakhot 63b), ‘havruta’ (pada waktu itu disebut ‘haburah’: 2-4 orang) adalah sistem pemuridan para rabi yang dipraktikkan pada masa aniaya, di mana orang Yahudi tidak diperbolehkan untuk beribadah di muka umum.” (Persahabatan Sejati, Eddy Leo, hal. 9-10).

Kita dapat melihat bahwa pada masa pembuangan bangsa Yahudi di Babilonia, Daniel mempraktikkan sistem pemuridan “havruta” seperti yang dijelaskan di atas. Daniel ada dalam kelompok persahabatan bersama tiga orang temannya, yaitu Hanaya, Misael, dan Azarya, dan mereka mempraktikkan pemuridan havruta. Hal itu tercatat dalam kitab Daniel:

“Kemudian pulanglah Daniel dan memberitahukan hal itu kepada Hananya, Misael dan Azarya, teman-temannya, dengan maksud supaya mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu, supaya Daniel dan teman-temannya jangan dilenyapkan bersama-sama orang-orang bijaksana yang lain di Babel.” – Daniel 2:17-18, TB

Kata “teman-teman” dalam bahasa Aramnya adalah “chabar” (bahasa Ibraninya: “haver”). Kata ini menunjukkan bahwa Daniel dan kawan-kawannya mempraktikkan pemuridan chavruta (bahasa Aram) atau havruta (bahasa İbrani), yang dalam kedua bahasa berarti “persahabatan”.

“Sistem pemuridan ini begitu penting bagi orang Yahudi, sehingga dalam Talmud Babilonia tercatat bahwa orang Yahudi memandang havruta (persahabatan) sebagai sistem belajar yang begitu penting seperti antara ‘hidup dan mati’. Di dalam catatan Talmud Babilonia, ditulis tentang havruta: ‘O Havruta, O Mituta’, yang artinya: ‘Berikan aku havruta, atau berikan aku kematian’.” (Persahabatan Sejati, Eddy Leo, hal. 10-11).

Ucapan orang Yahudi dalam kitab Talmud tentang havruta itu berarti “lebih baik mati daripada hidup tanpa havruta”. Demikian pentingnya havruta dalam kehidupan orang Yahudi, khususnya dalam sekolah para rabi, karena menurut orang Yahudi, manusia diciptakan untuk pertemanan, jadi hidup tanpa pertemanan yang berkualitas adalah sia-sia, yang sama seperti kematian.

 

Jemaat yang Dibangun Kristus Dimulai dari Havruta

Havruta yang dimulai dari zaman pembuangan Babilonia berkembang pesat sampai zaman Yesus yang tercatat di dalam Perjanjian Baru. Jika kita membaca kronologi kitab-kitab Perjanjian Baru, kita dapat melihat bahwa Yesus pun memuridkan para murid-Nya dengan sistem havruta.

Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: ‘Lihatlah Anak domba Allah!’ Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: ‘Apakah yang kamu cari?’ Kata mereka kepada-Nya: ‘Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?’ Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah dan kamu akan melihatnya.’ Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.” – Yohanes 1:35-39, TB

 

Tercatat dalam Injil bahwa Yesus tidak memulai Gereja-Nya dengan 3.000 orang, 500 orang, 70 orang, atau bahkan 12 orang. Yesus mulai membagun Gereja-Nya, jemaat-Nya, dari dua orang saja dan Yesus bersahabat dengan kedua orang itu (havruta). Dari havruta berjumlah dua orang itu, kemudian Gereja Yesus berlipat ganda menjadi tiga havruta, enam havruta, sampai akhirnya total menjadi 3.000 orang pada hari Pentakosta. Jelas sekali bahwa Yesus menggunakan pola havruta yang berlipat ganda dalam pemuridan yang dilakukan-Nya. Pada waktu Dia memanggil Simon, Yohanes, dan Yakobus (mungkin juga dengan Yakobus), untuk mengikuti Dia secara sepenuh waktu, Yesus memanggil mereka untuk bersama-sama mengikut Dia. Mereka sekelompok kecil itu menjadi “teman persekutuan”.

 “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: ‘Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.’ Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: ‘Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.’ Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.” – Lukas 5:6-11, TB

Kata “teman” dalam bahasa Yunaninya adalah “koinonos” (κοινωνός) yang artinya “teman persekutuan”. İni adalah kata yang sama artinya dengan kata “haver” (bahasa İbrani) dan “chabar” (bahasa Aram), yang sekali lagi, berarti “teman” atau “sahabat”. Dapat kita simpulkan, Yesus menggunakan pola pemuridan persahabatan.

  

Pemuridan melalui Persahabatan: Pola yang Sederhana tetapi Dahsyat

Saya percaya pola pemuridan melalui persahabatan yang Yesus terapkan itu sederhana, tetapi ternyata memiliki kuasa yang sangat dahsyat dalam menghasilkan perubahan hidup serupa Kristus. Pemuridan melalui persahabatan sangat mudah disesuaikan dengan berbagai konteks komunitas persahabatan pada zaman akhir ini. Semua budaya di dunia ini tidak ada yang bertentangan dengan persahabatan, maka pola pemuridan persahabatan ini. Kelompok persahabatan dua-tiga orang sangat efektif untuk proses belajar bersama dan fleksibel/mudah dalam mengadakan pertemuan, baik secara fisik (on site) maupun virtual (online). Sudah selayaknyalah Gereja pada zaman sekarang ini menerapkan pemuridan melalui persahabatan.

 

Bagaimana dengan Anda dan jemaat tempat Anda berada? Mulailah melakukannya; kelompok persahabatan dua-tiga orang adalah komunitas Kerajaan Allah (kawanan kecil) yang seperti ragi atau biji sesawi, yang memiliki potensi berlipat ganda secara eksponensial di dunia ini. Lakukan pemuridan dalam kelompok persahabatan, sambil terus mendoakan agar dampaknya terjadi dengan dahsyat pada zaman kita ini.

 

Salam persahabatan havruta.

2024-03-27T11:12:11+07:00