///Gadgetmu Harimaumu

Gadgetmu Harimaumu

Di era smartphone ini, orang berlomba-lomba mengekspresikan luapan hatinya di media sosial, dari mulai mempublikasikan jepretan foto, memajang video, mencurahkan perasaan, sampai berkomentar bebas tentang apa pun. Semuanya seakan hanya dikontrol oleh ujung jari. Saat jari bermain di layar gadget, seseorang bebas melakukan apa yang dia mau. Inilah cara terbaru orang mengekspresikan dirinya lewat gadget di waktu-waktu kini, yang rupa-rupanya sudah banyak pula “memakan korban”. Mengapa demikian? Apa yang salah dengan media sosial?

Media sosial adalah teknologi yang membantu manusia untuk berinteraksi sesama penggunanya dengan berbasis internet. Melalui media sosial, kita bisa saling berkomunikasi, bertukar informasi, dan berjejaring sesama pengguna. Selain itu, melalui media sosial juga kita bisa mengetahui berita di seluruh dunia secara cepat tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah kecanggihan internet dan media sosial.

Perkembangan media sosial saat ini begitu cepat, seiring dengan kecanggihan smartphone yang kini seakan menjadi “barang wajib” semua manusia. Alhasil, seluruh pengaruh dan dampaknya pun “menjangkiti” sebagian besar manusia. Memang, dampak positif dan negatif dari media sosial tidak terlepas dari peran si pengguna.  Melalui media sosial, orang bisa menjalin persahabatan dengan sesama pengguna, namun juga bisa menipu sesama penggunanya. Melalui media sosial, seseorang bisa mendapat informasi yang dibutuhkan dengan cepat, namun juga bisa terjerat dalam pemahaman dan informasi yang tidak benar seperti pornografi, SARA, terorisme, dll. Melalui media sosial, seseorang bisa memperluas pertemanan, namun juga bisa menjadi sangat individualistis dan abai terhadap orang-orang di sekitarnya. Inilah kenyataan dan tantangan nyata yang terjadi hari ini, yang menuntut kita para pengguna media sosial untuk bersikap bijak.

Sebagai respons terhadap situasi ini, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) untuk para pengguna media sosial. Sanksi yang diterapkan berbentuk denda hingga hukuman penjara bagi pengguna media sosial yang melakukan penghinaan atau pencemaran nama baik karena isu SARA, terorisme, pornografi, dll. Hal ini juga bertujuan agar para pengguna media sosial selalu berpikir dahulu dengan bijak sebelum kita “posting” (atau “forward”, “share”, “like”, “comment”) sesuatu dalam gadget masing-masing.

Tombol “post” itu memang hanya sekali kita tekan (bahkan hanya kita sentuh), tetapi informasi yang bisa jadi benar atau salah itu akan menyebar ke mana-mana dengan seketika. Mari kita coba ingat kembali, sebelum mengeklik satu tombol itu, sudahkah kita berpikir dahulu dampak positif atau negatif yang akan timbul sebagai konsekuensinya?

Amsal 25:11 berkata, “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Marilah kita selalu ingat akan amsal bijak ini sebelum menekan tombol dalam gadget kita: apakah sesuatu yang akan kita sebarkan melalui gadget kita akan menjadi buah apel emas di pinggan perak bagi orang-orang yang melihat atau membacanya? Atau malah menjadi apel busuk yang menebarkan bau yang tidak sedap dan ulat-ulat pembawa penyakit bagi orang-orang yang melihat atau membacanya? Waspadalah, karena Iblis tidak segan-segan menggunakan apa pun, termasuk teknologi dan termasuk penggunanya, untuk merebut kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu, gunakan hati nurani Anda dan libatkan Roh Kudus saat Anda berhadapan dengan gadget Anda, agar saat Anda menjelajah dalam dunia maya tersebut, hati dan pikiran Anda tetap dalam koridor Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita untuk bertindak bijaksana ketika Anda menyampaikan sesuatu lewat media sosial, agar apa yang Anda sampaikan di media sosial menjadi bagaikan apel emas di pinggan perak, yang indah, berharga, dan tepat pada waktunya.

Prinsip utamanya sederhana: hidup bertanggung jawab kepada Tuhan. Setiap kali Anda menggunakan media sosial, baik itu membuat berita atau sekadar membagikan berita yang Anda dapatkan kepada orang lain, itu adalah salah satu bentuk tanggung jawab Anda kepada Tuhan. Segala ciptaan Tuhan adalah baik, termasuk Anda, sang manusia pengguna teknologi. Bagaimana agar media sosial itu tetap membawa tujuan baik adalah tanggung jawab Anda. Seperti kata pepatah bahwa mulutmu adalah harimaumu, berhati-hatilah terhadap apa yang kita ucapkan. Salah-salah kata, ucapan itu bisa mencelakakan kita, ibarat kita bermain-main dengan harimau dan akhirnya harimau itu menerkam kita sendiri.  Nah, mulai sekarang, bijaklah dan berhati-hatilah terhadap apa yang kita gemakan di media sosial agar tetap menjadi apel emas di pinggan perak, dan pastikan bahwa gadget tidak menjadi harimau yang menerkam diri sendiri dan orang lain. Setuju?

2019-10-17T12:21:36+07:00